11/25/2023

Asal Usul Daerah Blambangan menurut Times Indonesia


Membaca Balambangansch Adatrecht karya Dr.Y.W. De Stoppelaar (1927), kita dapat memahami bahwa ternyata yang mendikte sejarah Blambangan harus bermula dari Arya Wiraraja adalah Brandes yang didukung oleh Muhlefenfeld, Stoppelaar, dan sebagainya. Brandes tidak bisa membedakan antara Blambangan dengan Lamajang Tigangjuru-nya Arya Wiraraja.
 

Juga pendapat Brandes mengenai Bhre Wirabhumi. Kesalahan besarnya adalah menyamakan Mandala Wirabhumi dengan Kerajaan Blambangan, dan Stoppelaar menyamakan Bhre Wirabhumi dengan tokoh Menak Jinggo.

Kita tidak akan pernah menemukan sejarah Blambangan dalam karya mereka. Justru mereka membahas Lamajang Tigangjuru, loncat ke Mandala Wirabhumi dan melompat jauh ke Kabupaten Banyuwangi.

Menelusuri mitos Menak Jinggo merupakan hal yang sangat menarik untuk mengungkap apakah sosok ini tokoh fiktif atau nyata?.

Namanya adalah nama gelar ataukah nama sesungguhnya?, Apakah satu orang atau beberapa orang?. Dan yang paling utama, mengingat tokoh ini sangat diidentikkan dengan Blambangan dan Banyuwangi. Apakah Menak Jinggo berkaitan dengan Blambangan (dalam hal ini Banyuwangi) atau tidak?

Penelusuran ini mengarah kepada sisi politik dimana Blambangan selalu diadu secara paksa melawan Majapahit dan Mataram, termasuk adudomba antara Hindu melawan Islam.

Padahal fakta-fakta prasasti tidak pernah mengatakan adanya hal itu, karena Blambangan saya yakini belum berdiri saat Majapahit ada. Kecuali fanatisme sebagian kecil kita yang di Banyuwangi (sebagaimana orang daerah lain) yang selalu merasa bahwa daerahnya lebih hebat dari daerah lain.

Menganggap bahwa Blambangan baru ada setelah tahun 1400-an bukan berarti menjadikan wilayah Ujung Timur Pulau Jawa ini sebagai tanah tak bertuan di tahun-tahun sebelum itu.

Walau belum ada bukti catatan tertulis, namun peradaban pernah ada di Alas Purwo (Tegaldlimo Banyuwangi), Kendeng Lembu (Glenmore Banyuwangi), Kawah Ijen Banyuwangi, Situs-situs Megalitik di Bondowoso, Jember, dan Situbondo, juga Candi-candi di Jember, Lumajang, dan Probolinggo. Dapat disebutkan beberapa nama seperti Kerajaan Purwacarita dalam Babad Tanah Jawi dan Kerajaan Ijennagari/Tarumpura dalam Suluk Balumbung. Juga nama Sadeng, Ketah, Pakembangan, Patukangan, Lamajang dan sebagainya dalam Negarakertagama yang kesemuanya menggambarkan adanya peradaban tua yang sudah ada sebelum Blambangan ada di wilayah timur Jawa ini.

Seperti Keraton Jogjakarta Hadiningrat yang berdiri diatas reruntuhan Kerajaan Mataram Jawa. Kerajaan Mataram Jawa berdiri diatas reruntuhan Kesultanan Pajang. Kesultanan Pajang berdiri diatas reruntuhan Kerajaan Pengging. Kerajaan Pengging berdiri diatas reruntuhan Mandala Pajang (wilayah Bhre Pajang era Majapahit). Mandala Pajang berdiri diatas reruntuhan Kerajaan Boko/Prambanan. dan seterusnya.

Banyuwangi, Jember, Sitobondo, Bondowoso, Lumajang, dan Probolinggo juga berdiri dari reruntuhan Kerajaan Blambangan. Blambangan berdiri dari reruntuhan Mandala Wirabhumi dan Pakembangan serta Kadipaten Balumbung (era Majapahit). Kadipaten Balumbung dan Mandala Wirabhumi berdiri dari reruntuhan Majapahit Kedhaton Wetan. Majapahit Kedhaton Wetan berdiri dari reruntuhan Kerajaan Lamajang Tigangjuru, dan seterusnya.

Menurut saya, kita tidak perlu memaksakan nama Kerajaan Blambangan sudah ada sejak tahun sekian atau abad sekian.  Fakta yang saya dapatkan nama itu benar-benar ada pada tahun 1705 saat Prabu Danurejo membangun ibukota baru di Alas Kebhrukan Muncar yang disebut sebagai Kutharaja Blambangan (situs stinggil, Umpak Songo, dll).

Nama kerajaan pun tidak disebutkan dan jika diyakini Blambangan ada kaitannya dengan Hayam Wuruk, maka kerajaan itu lebih tepat jika disebut Kadipaten Balumbung, seperti tertulis dalam Negarakertagama.

Kita perlu mengingat bagaimana nama Kedhaton Singhasari (ibukota) lebih terkenal sebagai nama keraajaan daripada Tumapel yang merupakan nama sesungguhnya. Demikian pula Kedhaton Blambangan (ibukota) yang lebih popular daripada nama Balumbung.

Asal Mula Nama Blambangan
Nama Blambangan berasal dari kata Pa-lumbu-an. Lumbu di Jawa biasa disebut Talas/Suweg/ Walur/Lateng/Bunga bangkai. Mungkin ini alasannya mengapa Kedhaton Menak Cucu/ Menak Jinggo III di Candi Bang (daerah Wongsorejo) disebut Baluran dari kata Walur dan Ibukota Blambangan di Rogojampi disebut Kutho-Lateng.

Blambangan bisa juga berasal dari kata Pa-lambang-an yang dasarnya adalah Lambang/simbol, yaitu Simbol Dewa Siwa (Lingga-Yoni) yang merujuk pada pendapat bahwa Gunung Semeru/Meru/Mahameru yang ada di wilayah Blambangan dianggap sebagai Kailasa tempat Dewa Siwa beristana. Jadi Mahameru yang merupakan Simbol Siwa itu ada di wilayah Pa-lambang-an yang karenanya kemudian disebut Blambangan.

Nama Ba-Lumbung dapat dilihat di Negarakretagama dalam pupuh XXVIII. Saat itu kunjungan Hayam Wuruk ke daerah timur Majapahit ke suatu daerah yang disebut Patukangan (Panarukan/Situbondo). Di sana raja menerima para mentri Majapahit dari Bali, Madura, dan Ba-lumbung andalannya. Diperkirakan menteri yang ikut hadir di Patukangan mewakili Balumbung adalah Sira Dalem Sri Bhima Chili Kepakisan, karena dialah yang diangkat oleh Gajah Mada menjadi Adipati setelah pemberontakan Mpu Nambi berhasil dipadamkan tahun 1318. Kata lumbung disini berarti tempat menyimpan bahan pangan. Artinya, daerah ini adalah negeri subur yang gemah ripah loh jinawi.

Dengan argument tersebut, terungkap fakta tentang Blambangan; bahwa Kerajaan Lamajang Tingangjuru bukan Majapahit Kedhaton Wetan dan bukan pula Blambangan.Kerajaan Wirabhumi bukan Blambangan. Blambangan bukan hanya Banyuwangi. dan Blambangan tidak pernah berperang melawan Majapahit (Trowulan).

Bhre Wirabhumi dan Menak Jinggo
Cerita masyarakat selama ini menyebut bahwa di Blambangan hanya ada Adipati bernama Kebo Marcuet yang mengancam kekuasaan Ratu Majapahit Kencono Wungu (Prabustri Sri Suhita). Lalu sang ratu mengadakan sayembara untuk mengalahkan Kebo Marcuet dan siapa yang bisa mengalahkannya akan diangkat menjadi adipati Blambangan yang baru. Kemudian tampillah Jaka Umbaran yang berhasil mengalahkan Kebo Marcuet dan kemudian Jaka Umbaran diangkat menjadi adipati Blambangan bergelar Menak Jinggo.

Belakangan Adipati Menak Jinggo ingin merebut tahta Majapahit dan memperistri Kencono Wungu. Untuk menolak hal itu, Kencono Wungu mengadakan sayembara kedua. Siapa yang bisa membinasakan Menak Jinggo akan dijadikan suami. Kemudian muncullah tokoh Damarwulan yang sanggup mengalahkan Menak Jinggo.

Selama ini kisah Damarwulan melawan Menak Jinggo hanya kita simak sepotong dari dua kisah diatas. Pertama, Kebo Marcuet dikalahkan Jaka Umbaran alias Menak Jinggo. Kedua, Menak Jinggo dikalahkan Damarwulan. Kita hanya mengingat tentang kisah Damarwulan memenggal kepala Menak Jinggo, tapi kisah Kebo Marcuet justru kita lupakan.

Sekarang mari kita pilah satu persatu; Pertama, tentang Gelar Kebo, adalah gelar bangsawan keturunan raja. Identifikasi tentang tokoh Kebo Marcuet ini identik dengan putera seorang raja, lebih tepatnya putera Prabu Hayam Wuruk.

Kita selama ini hanya mengenalnya sebagai Bhre Wirabhumi, seorang putera Hayam Wuruk dari selir. Karena kurangnya wawasan sejarah, kita pun tidak mengetahui nama siapa nama aslinya. Padahal dalam Prasasti Biluluk diungkapkan bahwa dia bernama Bhattara Rajanatha, jadi inilah nama asli Bhre Wirabhumi.

Selanjutnya, arti kata Bhre dalam nama Bhre Wirabhumi adalah berasal dari kata Bhattara i (Raja di…), artinya Bhre Wirabhumi adalah raja di wilayah Wirabhumi. Atau Wirabhumi atau Bumi/Tanah nya Wira (Arya Wiraraja) tentu adalah daerah Lamajang dan Tigangjuru (Pasadehan/Pasuruan, Banger/Probolinggo, dan Patukangan/Situbondo).

Jadi sudah jelas bahwa Bhre Wirabhumi adalah raja di wilayah Wirabhumi yang mencakup; Lumajang, Pasuruan (timur), Probolinggo, dan Situbondo (barat), dimana Blambangan tidak termasuk di dalamnya.

Sekarang kita sudah mengetahui bahwa raja di Wirabhumi (Bhre Wirabhumi) yang merupakan Kebo, anak raja Hayam Wuruk ini bernama asli Bhattara Rajanatha. Dalam legenda dia disebut sebagai Kebo Marcuet.

Dalam identifikasi ini saya menyamakannya dengan tokoh Bhre Wirabhumi II yaitu Aji Rajanata Dyah Kebo Marcuet dalam Suluk Balumbung. Bhattara memiliki makna sepadan dengan Aji. Disebut Bhre Wirabhumi II karena sebelum bergelar Bhre ada satu tokoh lagi yang menjadi Bhre di Wirabhumi, yakni Negarawardhani, dialah Bhre Wirabhumi I.

Kedua, identifikasi selanjutnya adalah mengenai siapa sosok Jaka Umbaran yang berhasil mengalahkan Kebo Marcuet. Perang antara Jaka Umbaran sebagai panglima perang Majapahit dengan Bhre Wirabhumi II Bhattara Rajanatha Dyah Kebo Marcuet inilah yang dalam Pararaton disebut dengan Paregrek tahun 1402-1406.

Setelah Bhre Wirabhumi II Aji Rajanatha Dyah Kebo Marcuet kalah, maka Jaka Umbaran diangkat sebagai adipati menggantikannya. Disini jelas bahwa Ratu Kenconowungu tidak ingkar janji karena telah mengangkat Jaka Umbaran sebagai raja menggantikan Kebo Marcuet. Setelah menjadi raja yang baru, tokoh Jaka Umbaran yang menang sayembara pada tahun 1406 itu kemudian bergelar Adipati Menak Jinggo.

Jadi jelas bahwa putera Hayam Wuruk yang menjadi Bhre Wirabhumi itu bukanlah Menak Jinggo karena gelar Menak Jinggo diberikan untuk Jaka Umbaran. Artinya, Menak Jinggo bukan putera Hayam Wuruk dari selir. Karena putera raja itu bergelar Kebo, yaitu Kebo Marcuet, dan justru dia-lah yang dikalahkan oleh Jaka Umbaran alias Menak Jinggo.

Dalam sejarah Suluk Balumbung menyebut bahwa tokoh Joko Umbaran ini adalah nama lain dari Raden Gajah yaitu pimpinan pasukan pengawal istana Majapahit. Jabatannya adalah seorang Bra Narapati, karena itu dia juga dikenal sebagai Raden Gajah Narapati. Dia adalah putera dari Bima Sakti Kepakisan, yang dalam Babad Dalem disebut sebagai adipati Pasadehan/ Pasuruan. Maka ketika dia menjadi Bhre Wirabhumi III setelah berhasil mengalahkan Kebo Marcuet, dia memindahkan pusat pemerintahannya ke wilayahnya sendiri di Banger/ Probolinggo.

Jaka Umbaran alias Raden Gajah adalah seorang Bra Narapati menjadi Bhre Wirabhumi III dengan ibukota di Banger/Probolinggo bergelar Menak Jinggo.

Memberontak Kepada Majapahit
Saat ini kita tidak melanjutkan pembahasan tentang Kebo Marcuet atau Bhre Wirabhumi II Aji Rajanatha putera Hayam Wuruk. Namun yang sedang kita lacak adalah siapa yang memberontak kepada Majapahit.

Raden Gajah Narapati alias Menak Jinggo, dialah yang mengobarkan perang Banger tahun 1433 karena lamarannya terhadap Kenconowungu ditolak. Saat itu, Majapahit menggelar sayembara kedua dan muncul sosok Damarwulan mengalahkan Menak Jinggo.

Damarwulan adalah putera dari Prabu Wikramawardhana Dyah Gagak Sali dengan selirnya Dyah Aniswari (puteri dari Bhre Wirabhumi II Aji Rajanatha Dyah Kebo Marcuet).

Setelah mengalahkan Menak Jinggo dia tidak menikah dengan Ratu Kenconowungu yang merupakan kakak tiri beda ibu dengannya. Dia diangkat menjadi raja di Palembang. Sejarah mencatatnya sebagai Arya Damar atau Arya Dilah.

Semangat perjuangan Menak Jinggo itulah yang kemudian oleh masyarakat Banger/Probolinggo diabadikan sebagai nama supporter bola mereka. The Lasminggo (Laskar Menak Jinggo) pendukung Persipro (Persatuan Sepakbola Probolinggo).

Menak Jinggo tidak pernah disebut dalam fakta sejarah berdasarkan Prasasti, yang ada justru Sang Muggwing Jinggan yang artinya ‘penguasa di Jinggan’ yaitu sebuah daerah di wilayah Keling/Kediri.

Sang Muggwing Jinggan ini adalah gelar dari Pangeran Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya yang memberontak pada pemerintahan Prabu Singhawikramawardhana Dyah Suraprabhawa di Majapahit tahun 1478. Jadi sebutan bahwa Penguasa Jinggan adalah pemberontak itu lebih tepat disematkan pada tokoh Dyah Samarawijaya ini.

Dikaitkan dengan Blambangan

Dari ketiga sumber diatas; baik Bhre Wirabhumi II Aji Rajanatha Dyah Kebo Mercuet, dan Bhre Wirabhumi III Jaka Umbaran/Raden Gajah Narapati/Menak Jinggo, maupun Dyah Samarawijaya (Sang Muggwing Jinggan), jelas bahwa ketiganya tidak ada yang berkuasa di Ujung Timur Jawa. Lalu bagaimana bisa Menak Jinggo kemudian dianggap sebagai Raja Blambangan?.

Untuk memutus mata rantai sejarah yang akan diwariskan pada generasi yang akan datang, kompeni memang sengaja memerintahkan tangan-tangan lokal-nya untuk menulis ulang dan menyebarkan sejarah Blambangan yang baru versi mereka. Maka dari itu muncullah kisah-kisah kontroversial tentang Blambangan, dimana ciri khasnya adalah menjadikan Blambangan selalu pada posisi sebagai objek dan cenderung antagonis dalam sejarah daerah-daerah lain yang hanya dibahas secara sekilas.

Pada saat Kompeni memerintahkan penulisan legenda Damarwulan melawan Menak Jinggo menjadi Serat Kanda atau Serat Damarwulan, yang berkuasa di Blambangan saat itu adalah Pangeran Mas Sepuh alias Pangeran Jingga Danuningrat (1736-1764).

Semua mafhum bahwa selama ini kompeni selalu menerapkan politik devidet et impera kepada lawan-lawannya, termasuk kedua tulisan itu juga digunakan untuk mengadudomba antara Jawa dengan Blambangan. Antara orang Mataraman dengan orang Blambangan. Karena itu kemudian kompeni mendeskreditkan penguasa Blambangan dengan tuduhan dan hinaan sebagai seorang raja raksasa tak bermoral berkepala Anjing, kakinya pincang, bicaranya cadel, dan buruk rupa.

Pangeran Jingga Danuningrat dituduh sebagai keturunan Bali yang tak berhak berkuasa di ujung timur Jawa. Pangeran Jingga Danuningrat dituduh keturunan dari pemberontak. Dan Pangeran Jingga Danuningrat dituduh dengan berbagai macam tuduhan yang sangat tidak manusiawi. Kemudian namanya dikait-kaitkan dengan istilah Jinggan dan Jinggo untuk menguatkan kesan kebenaran cerita dalam Serat Kandha atau Serat Damarwulan, bahwa Pangeran Mas Sepuh alias Pangeran Jingga Danuningerat Raja Blambangan yang sedang berkuasa saat mitos ini ditulis adalah sama dengan tokoh Menak Jinggo.

Beredarnya Serat Damarwulan tentu semakin menyudutkan penduduk dan para pejuang Blambangan dalam Perang Bayu 1771-1772 agar kian terpinggir dan dibenci sekaligus ditakuti karena dianggap bukan keturunan manusia.

Adipati Mangkunegara IV Raden Mas Sudira, yang berkuasa tahun 1853-1881 diperintahkan untuk membuat sendratari dengan lakon Damarwulan Menak Jinggo. Setelah Adipati Mangkunegara IV mangkat pada tahun 1881, Belanda menempatkan salah satu puteranya yg bernama Harya Suganda menjadi Bupati Banyuwangi keenam (1881-1888) agar proses penyebaran cerita Menak Jinggo lebih maksimal.

Babad-babad tersebut kemudian sengaja banyak diedarkan pada abad 18 dan 19. Cerita-cerita tutur dibuat dan disebarkan melalui para pendongeng keliling yang dibiayai kompeni.

Setelah Generasi saksi mata banyak yang meninggal, maka muncullah generasi-generasi yang hanya mendengar cerita dari pendongeng keliling yang sengaja disebar kompeni tersebut. Akibatnya muncul banyak versi tentang satu kejadian yang sama dalam Sejarah Blambangan yang di masa kemudian membingungkan generasi anak-cucu. Sejarah Blambangan kini tertutupi oleh mitos dan kental dengan adu domba.

Kompeni Belanda sengaja membuat jurang pemisah atas dasar perbedaan etnis dan agama, serta menumbuhkan perpecahan di masyarakat dengan adudomba atas nama Agama, Suku, dan Daerah.

Padahal jika kita melihat dalam sejarah Blambangan secara lengkap, sebenarnya Blambangan itu tidak asing dengan budaya pluralisme-nya.

Maka Menak Jinggo yang sekarang kita pahami di Banyuwangi ini telah tumpang tindih. Kita harus jeli agar bisa melihat dan membedakan keempat tokoh berikut;

Pertama, yang merupakan putera Hayam Wuruk adalah Bhre Wirabhumi II yaitu Aji Rajanatha Dyah Kebo Mercuet.

Kedua, yang melamar Suhita atau Kenconowungu adalah Bhre Wirabhumi III yaitu Jaka Umbaran alias Raden Gajah Narapati alias Menak Jinggo.  

Ketiga, yang berkuasa di Jinggan dan memberontak pada Majapahit adalah Sang Muggwing Jinggan, Pangeran Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya.

Keempat, yang merupakan raja Blambangan adalah Pangeran Mas Sepuh/Pangeran Jingga Danuningrat.

Empat tokoh beda masa dan beda kronologis sejarahnya itu telah dicampur aduk menjadi satu tokoh benama Menak Jinggo dengan segala kebejatan dan keburukan moralnya lalu disematkan sebagai Raja Blambangan oleh lawan politiknya.

Penutup
Selama ini kita menganggap Bhre Wirabhumi II putera Hayam Wuruk adalah sosok Menak Jinggo. Padahal Menak Jinggo yang selama ini kita bela sebenarnya lebih tepat adalah Jaka Umbaran alias Raden Gajah Narapati adalah raja Ywangga atau Banger alias Probolinggo.

Mungkin jika kita mengkultuskan sosok Menak Jinggo sebagai ikon Banyuwangi sangatlah kurang wajar dan tidak logis. karena berdasarkan sejarah atau cerita rakyat dan letak geografis, Menak Jinggo adalah berasal dan meninggal di Probolinggo, bukan di Banyuwangi.

Disamping itu, masyarakat Probolinggo juga membuktikan kecintaan pada rajanya ini dengan mengabadikannya sebagai julukan untuk suporter Persipro yaitu “The Lasminggo” Laskar Menak Jinggo.

Kita sebagai rakyat Banyuwangi, jika tidak jeli akan pemalsuan sejarah oleh Belanda ini kemudian membela habis-habisan sosok Menak Jinggo, raja Wirabhumi III yang justru bertahta di Probolinggo.

Selama ini kita membantah Menak Jinggo yang digambarkan sebagai raksasa, kejam, cadel, buruk rupa, berkepala anjing, pincang, bengis, licik, dengan segala keburukan lainnya, dan membelanya dengan mengatakan bahwa Menak Jinggo adalah sosok yang tampan, gagah perkasa, pemberani, dan setia sehingga layak kita agungkan dan kita bangun patungnya di seantero wilayah untuk membuktikan bahwa Menak Jinggo tidak seperti yang diceritakan selama ini. Tapi sayangnya, yang kita bela dan kita sanjung-sanjung itu ternyata bukanlah raja Blambangan.

Sudah seharusnya kita mempelajari sejarah kita lebih dalam lagi, bukan hanya bermodal katanya dan katanya, tapi berdasarkan sumber yang benar, yang tentu bukan karangan Belanda. Agar kita dapat mengenali siapa saja raja-raja Blambangan dan adakah dalam silsilah raja-raja Blambangan itu sosok bernama Menak Jinggo?.

Sinisme antara Jawa atau Mataraman dengan Blambangan harus diakhiri. Adudomba warisan Belanda itu harus disudahi.

Bagaimanapun akan sangat lucu, karena Belanda yang mengadudomba telah pulang ke negaranya, namun kita dengan setia dan tulus ikhlas tetap melestarikan adudomba nya itu.

Ketika kedua belah pihak sama-sama saling membenci dan mencurigai, maka persatuan di Banyuwangi tidak akan terjadi. Dan jika persatuan tidak terjadi, maka penjajahan gaya baru pun akan terus abadi.(*)

Sumber : Times Indonesia, 17 September 2017

 

11/04/2023

Explicit Content : Cry First, Laugh Last

No one knows what will happen.
About the future to come.
Everything went according to plan
Don't always wait for certainty.
 
The expected arrival always thrills the heart.
Everything passed without a hitch leaving traces.
Engraved on a green mossy stone.
Memories forgotten by changing times.
 
Maybe we don't know the truth.
It was as if everything had been blown away by the night wind.
Sleeping on a shabby mat.
Like a suburban homeless person.
 
Step forward to welcome the future.
Cry first, laugh last,
Gain hidden glory.
Enjoy the rest of life.

10/31/2023

Explicit Content : Generasi Amburadul

 
Waktu aku masih bocah ingusan
Aku rajin mandi serta berdandan
Sering berkumpul di tempat pengajian
Mendengarkan ceramah sampai ketiduran
 
Tapi sekarang malah jadi kebalikan
Sudah jarang mandi, jarang berdandan
Mulutku bau jengkol bercampur tembakau
Lebih sering nongkrong, obati rasa galau
 
Gondrong rambutku, mirip gelandangan
Bolong celanaku, mirip pengamen jalanan
Bertato kulitku, buat orang jadi semakin muak
Antingan telingaku, buat mata orang terbelalak
 
Kata mereka hidupku sudah amburadul
Masuk golongan generasi yang cabul
Kata mereka hidupku sudah hancur
Jarang minum jamu beras kencur
 
Aku tak peduli omongan mereka
Aku tak peduli ocehan mereka
Mereka sebetulnya belum terima
Karena aku tidak seperti mereka
 
Kau pikir aku harus jadi orang lain
Biar dapat sanjungan dan kehormatan
Kau kira aku harus seperti orang lain
Biar dapat jabatan serta kekuasaan

9/11/2023

Explicit Content : Baswedanisme

Ada orang tampan gagah berwibawa

Sayangnya tingkahnya rada cengengesan

Hebatnya dia pandai bermain kata-kata 

Sayangnya moralnya lebih jahat dari setan


Mungkin kalian semua telah tertipu

Dengan janji-janji palsu nan semu

Dia bermimpi ingin jadi orang nomor satu

Padahal nyalinya cuma sekecil kutu


Imigran ngaku pribumi

Melecehkan kaum pribumi

Orang timur tengah ngaku orang jawa

Sok pandai ngomong bahasa jawa


Dialah sang pendusta, dialah sang penista

Menjual ayat suci, kelakuan sok suci

Dialah sang pendusta, dialah sang penista

Menjual agama, gayanya sok beragama


Enyahlah kau dari sini

Kami sudah bosan melihat tingkahmu

Pergilah kau dari sini

Kami sudah muak melihat potonganmu

9/01/2023

Explicit Content : DUNIA PURA PURA

Tipu-tipu itu sudah biasa

Cari muka itu sudah biasa
Demi cuan, demi bayaran
Dapat uang untuk makan
 
Tidak ada keseriusan
Yang ada cuma kebohongan
Saling menjatuhkan
Demi tercapainya suatu tujuan
 
Pura-pura peduli
Padahal sok peduli
Pura-pura peduli
Padahal tidak peduli
 
Dunia ini penuh kepalsuan
Tidak lebih dari sebuah kebohongan
Kehidupan ini penuh kedustaan
Tidak lebih dari sekedar pencitraan


8/09/2023

Explicit Content : RACUN PERADABAN

Tetanggamu dapat nikmat
Kau malah sakit hati
Tetanggamu dapat anugrah
Kau malah iri hati
 
Sungguh hidupmu tidak jauh
Tidak jauh dari kebencian
Kebencian terhadap sesama
Sesama manusia di dunia
 
Tetanggamu dapat musibah
Kau malah tertawa terbahak-bahak
Tetanggamu dapat masalah
Kau cuek bebek tidak peduli
 
Inikah yang disebut kehidupan ?
Dikelilingi rasa benci penuh dendam
Apakah kau tak merasa iba ?
Membantu sesama umat manusia
 
Lama-lama kau bisa jadi racun
Racun yang memusnahkan kemanusiaan
Mungkin saja kau bisa jadi sampah
Sampah yang berserakan di tengah peradaban
 
Tiada lagi yang menolongmu
Tiada lagi yang membantumu
Semua orang menjauhimu
Semua orang mengutukmu

7/10/2023

HARI-HARI TERAKHIR FITRAH ALAMSYAH, GITARIS JAMRUD

 
 
SEJAK RABU PEKAN LALU TELAH TIGA HARI FITRAH ALAMSYAH, GITARIS JAMRUD, TERGOLEK DI RANJANG RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG. IA TAMPAK LEBIH SEHAT KETIMBANG KETIKA BARU MASUK RUMAH SAKIT. HERNI SUGIARTINI, ISTRI FITRAH, DENGAN SUKA CITA MEMBAWA TABLOID MUMU EDISI 47 DENGAN KAVER LOG ZHELEBOUR, UNTUK DIPERLIHATKAN KEPADA AYAH DUA ANAK ITU.
 
“ Berkali-kali dia meminta saya untuk memandikan dirinya, jika ia meninggal “
Herni berharap Ifit – panggilan akrab Fitrah senang menerima tabloid MuMu karena di kaver itu juga tertempel gambar para personel Jamrud, termasuk Ifit. Herni mengabarkan kepada sang suami bahwa Jamrud ditulis bakal tur di 8 kota Sumatra. “Bukannya bergembira, wajah Kang Ifit malah kelihatan sedih,” tutur Herni sendu. Ifit lalu membalikkan wajahnya ke kiri.
 
Ia lantas menunjukkan tabloid yang disorongkan istrinya kepada rekan satu kamar yang dirawat di sebelah tempat tidurnya. “Kang, lihat, ada foto saya di sini,” kata Ifit kalem.
 
Sementara sang istri akan menebus obat di apotek, sekitar pukul 16.30 Ifit memaksa agar dibelikan Fanta merah dingin. Permintaan itu membuat kalang kabut keluarga yang menunggui Ifit. Mereka lantas berkonsultasi dengan perawat. Tapi selang satu jam kemudian Ifit terbatuk dan mengeluarkan dahak.
 
Tak berapa lama kemudian anak sulung dari empat bersaudara itu Astaghfirullah – muntah darah dan buang air besar. “Livernya pecah,” kata Herni kelu. Sekitar pukul 19.00 ia tak sadarkan diri. Ifit yang mengidap penyakit liver, jantung, dan paru-paru, pergi menghadap Illahi Rabbi pukul 20.00. Innalillahi wa innailaihi rojiun.
 
Sebelum dirawat di RS Hasan Sadikin, Ifit sempat dirawat di rumah sakit Boromeus, Bandung, selama sepekan. Setelah dinyatakan kondisi tubuhnya lebih sehat ia diperbolehkan untuk dirawat di rumah. Namun, Ifit cuma sempat dirawat di rumah selama empat hari, hingga ia anfal dan mesti dirawat kembali di RS Hasan Sadikin, Rabu pekan lalu. Hingga ia menghadap Tuhan.
******
Pekuburan Cibarunai Sarijadi, Bandung. Sabtu, 14 Agustus 1999. Matahari telah menyundul di atas kepala. Jam menunjuk pukul 13.00. Vidya Tamalinda Fitri, anak kedua Fitrah yang tanggal lahirnya sama dengan dirinya asyik melompat-lompat di sebelah makam sang ayah yang lahir 14 September 1972.
“Papa lagi tidur,” kata bocah tiga tahun itu tenang. Herni yang sedang tersandung duka tak mampu menahan air mata. Sementara Nadya Chindanita Putri, kelahiran 8 Desember 1993, dengan tenang berdiri di sebelah ibunya.
 
Fitrah tidur dalam keabadian di seberang makam ibunya, Ratna Gumilang yang meninggal setahun yang lalu, diantar oleh orang-orang yang dikasihinya, istri, anak, keluarga dekat, para kerabat, musisi Bandung, dan rekan-rekan satu grup Jamrud, Azis MS, Ricky Teddy, Krisyanto, dan Agus. “Kang Ifit memang meminta kepada saya agar dimakamkan di samping kuburan mami,” tutur Herni.
 
Tanda-tanda Fitrah bakal pergi, cerita Herni, telah terlontar sejak ia menderita sakit Mei lalu (saat Jamrud tur) dan dirawat di Yogyakarta selama sekitar delapan hari. “Dia berkali-kali menyebut mau mati.”
 
Sejak menderita sakit di Yogya itu, Ifit sering kelihatan murung dan kerap menyendiri. Berkali-kali ia sering mengeluhkan kondisi fisiknya. “Ifit sebenarnya harus bisa sembuh, tapi kenapa ya kok nggak bisa.”
 
Suatu ketika ia bilang kepada sang istri bahwa ia sangat menyayangi keluarga. “Namun dia jadi kelihatan tertutup. Yang dibicarakan selalu soal kematian. Berkali-kali dia meminta saya untuk memandikan dirinya, jika ia meninggal. Dan permintaan itu saya penuhi,” katanya lirih.
 
******
 
Sabtu itu, saat Fitrah berangkat menghadap Allah yang memiliki hidup, sebenarnya para personel Jamrud harus berada di Jakarta bertemu dengan Log Zhelebour, manajer dan produser mereka. Tapi Allah berkehendak lain. Keberangkatan ke Jakarta itu batal.
 
Rencananya, Jamrud ke Jakarta untuk membicarakan masalah Tur 8 Kota Sumatra sekaligus mendiskusikan soal Sandy yang sedang dalam perawatan ketergantungan obat di salah satu pesantren di Ciamis dan tentang kondisi kesehatan Fitrah. “Melihat kondisi kesehatan Fitrah, kami telah memutuskan bahwa Fitrah tak bakal bisa aktif sampai Desember, termasuk Tur di Sumatra. Sudah beberapa bulan ini kondisi fisik Fitrah tidak fit,” ujar Azis MS, gitaris dan motor Jamrud.
“Meskipun Fitrah tahu bahwa dirinya tak mungkin ikut tur, toh ia takut posisinya digantikan oleh Surya, roadies kami. 
 
Itu mungkin yang bikin ia tampak sedih selama sakit. Buat dia, grup adalah segala-galanya, tanggung jawabnya sangat besar. Saya sangat kehilangan dengan kepergian Fitrah. Tapi yang jelas, Fitrah meninggal bukan karena OD (over dosis),” kata Azis menambahkan.
 
Sejak ia mesti dirawat di Yogyakarta dan tak bisa meneruskan tur bersama Jamrud, kata Azis, ia amat takut kepada drug. Ini karena ia melihat contoh Sandy yang mesti direhabilitasi. “Gue kapok, sakit sekali. Apalagi mesti diinfus dan memakai tabung oksigen,” tutur Fitrah seperti diceritakan Azis.
 
Apapun, bukan Cuma di mata Azis, di mata Ricky, Krisyanto, dan Log, Fitrah adalah sahabat yang mengerti soal tanggung jawab. “Melihat kondisi kesehatannya yang memprihatinkan, saya melihat peluang hidupnya tipis. Tapi sebagai sahabat, saya terus berdoa semoga ia lekas sembuh. Meski kondisi fisiknya lemah, Ifit benar-benar sangat mengundang simpati saya, ketika ia tetap ingin tampil bersama grup untuk main saat ia mesti dirawat di Yogya. Saya benar-benar kehilangan dengan kepergian Ifit,” cerita Ricky, pencabik bas Jamrud.
 
“Ifit kerap berkeluh kesah dengan saya, tepatnya bercerita soal keluarganya. Ia amat menyayangi Istri dan anak-anaknya. Di mata saya dia adalah teman yang suka ngebodor (humoris). Saya tak bisa menghilangkan kenangan selama sekitar tujuh tahun berteman dengannya ketika kami masih dalam grup Jamrock,” tutur Krisyanto, vokalis Jamrud.
 
Wujud kenangan kepada Fitrah itu, barangkali, bisa terwakili lewat lagu Maaf ciptaan Azis MS dari album Putri
 
“... aku masih sayang padamu seperti dulu dan kuharap kaupun tahu ingin kumiliki rasa yang dulu pernah ada ....”
 
Dikutip Dari Tabloid MUMU, Edisi 19 Agustus 1999