Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan

4/05/2024

Antara Capirex, Rossifumi dan Cool Devil

 
Foto : Tim Nastro Azzuro Aprilia, 1998

Petualangan Valentino Rossi di kejuaraan dunia MotoGP masih terus berlanjut, kali ini Rossi menjajal motor 250cc sebagai rookie. Sejak menandatangani kontrak eksklusif pemberian Aprilia pada tahun 1996 silam, Rossi sudah menjadi bagian dari proyek masa depan agar bisa tembus ke GP 500.

Aprilia memberinya mesin pabrikan RSV 250 di tahun debutnya ketika menginjak usia 19 tahun. Gelar juara dunia kelas 125cc menjadi jaminan bahwa Rossi adalah pembalap muda potensial yang bisa membawa kembali kejayaan Italia di kancah balap internasional.

Max Biaggi, pembalap yang juga melakoni debut di tahun yang sama tapi beda kategori dengan Rossi menilai bahwa bocah asal Tavullia itu bisa membawa masalah bagi Aprilia.

Hal ini dikarenakan saat itu Aprilia sudah punya pembalap pabrikan yang kedigdayaannya luar biasa, dialah Loris Capirossi dan Tetsuya Harada. Capirossi saat itu terpaksa kembali mengaspal di kelas 250cc karena ditinggal sponsor saat kontraknya dengan Yamaha masih menyisakan setahun lagi. Penyebabnya adalah putusnya hubungan kerjasama antara Yamaha dengan Team Roberts yang tidak mau menduetkan Norifumi Abe dengan Loris Capirossi' karena Team Roberts lebih menginginkan Kenny Roberts Jr sebagai tandem Norifumi Abe.

Putusnya hubungan menjadi akhir dari kisah Team Roberts yang sudah menelurkan 3 gelar juara dunia yang digenggam oleh Wayne Rainey. Marlboro selaku sponsor utama memilih hengkang meladeni kemauan Team Roberts sembari mencari pabrikan baru yang mau menyuplai mesin untuk mereka.

Capirossi yang nganggur karena gagal mengamankan kursi di kelas utama musim 1997 terpaksa membalap di kelas 250cc bersama Tetsuya Harada yang saat itu juga sedang kecewa dengan Yamaha. Harada kecewa bukan karena sponsor utamanya hengkang, melainkan mesin motornya yang tidak kompetifif lantaran tidak konsisten dan tidak mampu menandingi kehebatan Aprilia RSV 250 yang waktu itu ditunggangi Max Biaggi,

Duet Capirossi-Harada terjadi pada musim 1997 dibawah manajer yang sama, Carlo Pernat. Aprilia yang waktu itu ditinggal Max Biaggi ke Honda memang sudah mengincar Tetsuya Harada dan Loris Capirossi setelah dicampakkan Yamaha. Begitu pun Honda yang saat itu memang ingin mendatangkan Massimiliano Biaggi dari Aprilia, Il Corsaro berencana untuk reuni dengan mantan kepala mekaniknya dulu, Erv Kanemoto.

Erv Kanemoto semula ingin merekrut Nobuatsu Aoki sebagai pengganti Luca Cadalora yang cabut dari timnya dan balik ke Yamaha (Untuk Kedua Kalinya). Nobuatsu Aoki sudah teken kontrak dengan Erv Kanemoto, tapi karena disaat yang bersamaan Max Biaggi datang dengan membawa sponsor besar' proyek dengan Aoki pun dialihkan ke Technical Sports Racing yang berkompetisi di kelas 500cc. Kanemoto fokus mengurus Biaggi yang waktu itu baru pindah dari Aprilia karena ingin mencari tantangan baru.

Di tahun itu Biaggi keluar sebagai juara dunia dengan koleksi gelar keempat, ini tentu saja memuluskan langkah Sang Kaisar Roma ke GP 500. Otomatis peta persaingan tinggal menyisakan duet Tetsuya Harada-Loris Capirossi.

Rossi datang membawa sponsor Nastro Azzurro ke tim pabrikan Aprilia dengan total nilai jutaan Euro. Aprilia kepincut dengan kharisma Rossi sehingga menempatkan jawara kelas capung itu sebagai "Pembalap Ketiga".

Kelas 250cc menjadi pertarungan segitiga antara Juara Dunia 1993 melawan Juara Dunia 1990-1991 plus Juara Dunia 1997 dalam satu grid. Sepanjang musim 1998, ketiga pembalap ini sangat dominan dan saling bergantian naik podium. Nyaris tidak ada pembalap yang mampu menyingkirkan trio Rossi-Harada-Capirossi dari jajaran Top 10.

GP Suzuka di Jepang sebagai seri pembuka malah dimenangkan oleh pembalap Wildcard, Daijiro Kato yang mengendarai Honda NSR 250 lewat tim Castrol Honda. 

Di Seri berikutnya, Tetsuya Harada berhasil mengalahkan Valentino Rossi di GP Johor, Malaysia sekaligus mencetak kemenangan perdana tim pabrikan untuk musim 1998. Disusul Loris Capirossi yang juga berhasil mengalahkan Valentino Rossi di GP Jerez, Spanyol. Valentino Rossi sendiri menyabet podium perdananya pada saat dikalahkan Loris Capirossi di GP Jerez tadi.

Momen paling ikonik terjadi di GP Mugello, Italia' dimana Valentino Rossi menyabet podium setelah mengalahkan Loris Capirossi yang tersingkir melorot ke posisi 4. Valentino Rossi tampil edan-edanan meski cuma mengincar podium dan balapan seru tersebut disaksikan banyak penggemar VR46.

Tetsuya Harada mengasapi Loris Capirossi sehingga mengunci podium ketiga dibawah Valentino Rossi. Pemenang GP Mugello, Italia waktu itu adalah pembalap senior yang menjadi wildcard, Marcellino Lucchi.

Podium yang diraih Rossi dirayakan dengan cara yang unik, Rossi memakai celana kolor dan kaos polo saat menerima trofi podium. Momentum ini membuat kancah balap dunia semakin menarik dan berharap-harap Rossi di masa depan akan melakukan selebrasi kemenangan yang bisa mencairkan ketegangan. Sayangnya perayaan podium Rossi di GP Mugello mendapat kritik pedas dari Biaggi karena dianggap berlebihan dan terlalu kekanak-kanakan.

Kemenangan perdana Rossi baru tercipta saat berlaga di Dutch TT, Valentino Rossi waktu itu bertarung sengit melawan Loris Capirossi untuk memperebutkan kemenangan di sirkuit yang dijuluki Cathedral of Motorsport. Meski tekanan yang hebat didatangkan langsung dari perlawanan Capirex, namun Rossifumi tidak bergeming begitu saja dan berhasil mengandaskan si pemilik nomor 65.

Di GP Paul Ricard, Perancis' Valentino Rossi sempat mengacungkan jari tengah kepada seorang pembalap yang menghalang-halanginya saat sedang mengikuti sesi kualifikasi. Sontak, sehabis menjalani sesi kualifikasi' Rossi gagal menyabet Pole Position, masuk ke ruangan pribadinya Rossi membanting helmnya ke lantai.

Namun di seri berikutnya, Capirossi mengalami insiden ketika bersenggolan dengan Harada sehingga memupuskan podium bersama-sama. Sejak saat itu hubungan antara Cool Devil dengan Capirex mulai renggang. Hubungan yang mulai tidak akur ini akhirnya dimanfaatkan Rossi untuk mematahkan dominasi kedua pembalap pabrikan tersebut.

GP Imola menjadi kemenangan kedua Rossi, disusul kemenangan di GP Catalunya, GP Philip Island dan GP Buenos Aires. Dengan begitu posisi Valentino Rossi makin mantap sebagai runner-up berstatus rookie.

Sementara itu Loris Capirossi didaulat sebagai juara dunia kelas 250cc dan Tetsuya Harada harus puas menempati posisi 3 klasemen akhir. Dan kejutan pun terjadi, Aprilia memutuskan untuk mendepak Capirossi karena tidak mau berjabat tangan dengan Harada seusai GP Buenos Aires.

Capirex terusir dari paddock Aprilia dan Cool Devil bertahan di Aprilia untuk 2 musim kedepan. Bedanya, Capirex masih bertahan di kelas 250cc bersama tim Gressini Honda, sedangkan Cool Devil dipromosikan sebagai pembalap GP 500 di tim yang sama.

Valentino Rossi yang sukses menyabet gelar rookie dan menduduki posisi runner-up segera diumumkan menjadi pembalap tim pabrikan Aprilia Grand Prix Racing.

Valentino Rossi mengoleksi 5 kemenangan dan 4 podium, Loris Capirossi mengoleksi 2 kemenangan dan 7 podium, sedangkan Tetsuya Harada mengoleksi 5 kemenangan dan 3 podium secara keseluruhan.

*****





5/13/2022

Kisah Sukses Tetsuya Harada, Juara Dunia Berstatus Debutan

Dunia mengenalnya sebagai pembalap muda berbakat dan hebat pada masanya, dialah Tetsuya Harada dari Jepang. Musim 1993 merupakan tahun debutnya di kejuaraan dunia setelah hampir 3 tahun menghabiskan waktu sebagai pembalap wildcard dan pembalap kejurnas All Japan Road Racing Championship. 

Harada saat itu memiliki keinginan untuk segera tampil di kejuaraan dunia kelas 250cc secara utuh tanpa harus lagi menjadi wildcard rider. Belakangan Harada mulai kelimpungan mencari tim yang mau merekrutnya karena ia sudah dibekali mesin pabrikan baru buatan Yamaha dengan kode TZ 250M. Harada, berhasil menemukan tim balap yang berminat meminangnya, ialah tim Valesi Racing. Valesi Racing bermarkas di Italia yang didirikan oleh mantan pembalap kawakan Alessandro Valesi. 

Ketika hendak dikontrak sebagai pembalap, status tim Valesi Racing masih merupakan tim satelit Aprilia Grand Prix Racing. Sehingga mau tidak mau Harada harus mengendarai motor Aprilia AF1 yang bermesin jenis Rotax. Namun, ketika menjajal mesin jenis Rotax, Harada mengaku kurang sreg dengan motor tersebut. 

Manager Tetsuya Harada mengusulkan kepada Valesi Racing untuk menggunakan mesin Yamaha dibanding mesin Aprilia yang waktu itu belum menunjukkan taji di baris terdepan. Mulanya, Alessandro Valesi menolak usulan tersebut karena ia selaku pimpinan tim belum siap pindah pabrikan karena masih ada durasi kontrak yang belum habis. 

Tapi, manager Tetsuya Harada tetap ngotot untuk segera mengganti mesin Aprilia ke Yamaha demi kelangsungan karir pembalap asal Jepang tersebut. Kalau tidak, Harada bisa batal tampil di kejuaraan dunia kalau permintaannya tidak dituruti karena Harada sendiri adalah pembalap utama Yamaha di kelas 250cc kategori nasional. 

Valesi Racing akhirnya mau menuruti keinginan Harada dan Yamaha mengingat saat itu dominasi motor Honda sangat tangguh yang berbekal mesin V-Twin. Apalagi dua musim berturut-turut Honda menjuarai kelas 250cc lewat Luca Cadalora sebagai aktor utamanya. 

Yamaha butuh bantuan teknis dari tim yang bermarkas di Eropa untuk bisa bersaing dengan tim-tim yang bekerjasama dengan Honda. Perlu diketahui bahwa Honda sudah terbilang dominan dan tangguh diseluruh kelas. Motor balap buatan HRC laku keras mulai dari spek privateer hingga spek pabrikan terbaru. 

Yamaha tidak tinggal diam karena mereka ingin sekali menggusur dominasi Honda yang hampir merata di segala kategori kompetisi. Valesi Racing tentu bisa membantu Yamaha untuk mewujudkan keinginan Harada tapi dengan syarat harus segera menyediakan uang muka pendaftaran untuk calon pembalap pendatang baru. 

Tanpa pikir panjang, sponsor Tetsuya Harada yakni ARAI (mere helm) menggelontorkan dana segar untuk memuluskan karirnya. Tidak butuh waktu lama, Tetsuya Harada segera melakukan tes privat di Italia dan Spanyol. Berbekal motor Yamaha TZ 250M, Harada begitu percaya diri menghadapi test privat yang diselenggarakan pada bulan Februari 1993.

Catatan waktu Harada lumayan apik, hanya selisih dari Max Biaggi dan Loris Capirossi yang melakukan test privat di Spanyol. Mengingat Max Biaggi adalah mantan pembalap Valesi Racing yang berkompetisi di musim sebelumnya, kemudian pindah ke Rothmans Kanemoto Honda pada musim selanjutnya menggantikan Luca Cadalora yang promosi ke kategori 500cc. 

Loris Capirossi sendiri sudah menjalani debut setahun lalu bersama tim Marlboro Pileri Honda sebagai pendatang baru terbaik musim 1992. Kali ini memasuki musim 1993, Capirex digadang-gadang bisa menjadi juara dunia untuk mengulang kesuksesan di musim 1990 dan 1991 saat masih di kelas capung 125cc. 

Tetsuya Harada amat diremehkan oleh pihak media massa di Eropa, karena Harada merupakan pembalap yang mengendarai motor baru dan tentu belum dianggap hebat dan kompetitif meski hasil tes privat cukup memberi bukti nyata.

Yamaha menjamin bahwa motor Yamaha TZ 250M bisa bersaing menghadapi dominasi motor Honda NSR 250 yang katanya disebut-sebut sebagai motor terkuat di kelasnya. Sampai suatu ketika pembuktian Yamaha diuji saat seri perdana kejuaraan kelas 250cc digelar pada hari Minggu, 28 Maret 1993 di sirkuir Eastern Creek, Australia.

Motor baru, Pembalap baru dan semangat baru' itulah yang sedang diperlihatkan oleh Valesi Racing kepada dunia bahwa ada sosok baru mencuri perhatian penonton. Tetsuya Harada disorot dari berbagai sudut karena menjadi idola baru sembari menghadapi musim debutnya sebagai pembalap kejuaraan dunia secara utuh. 

Tetsuya Harada dikepung 4 pembalap Italia, mereka adalah Max Biaggi (Rothmans Honda Kanemoto), Loris Capirossi (Marlboro Pileri Honda), Doriano Romboni (HB Honda Italy) dan Loris Reggiani (Unlimited Jeans Aprilia).

Tetsuya Harada memberi pembuktian bahwa motor Yamaha bisa juara di kelas 250cc meski motornya terkenal lambat dan tidak punya tenaga besar layaknya Honda. Beruntung, Tetsuya Harada berhasil mengalahkan para pembalap Italia itu dan merengkuh kemenangan perdananya sebagai debutan pada tahun 1993. 

Total sepanjang musim 1993, Tetsuya Harada mengoleksi 4 kemenangan dan 3 podium dengan jumlah 197 poin di puncak klasemen. Sedangkan rival terdekatnya, Loris Capirossi hanya mengoleksi 3 kemenangan dan 4 podium dengan jumlah 193 poin di bawah pemuncak klasemen sebagai runner-up.

*****


 

3/15/2022

Jejak MotoGP Di Sirkuit Sentul Selama Dua Tahun

Aprilia RS 125

Gelaran balap motor kelas dunia MotoGP akan segera diselenggarakan pada hari Minggu 20 Maret 2022 nanti. Tapi, sebelum kita membahas balap yang akan diselenggarakan nanti' kita tengok sejarah penyelenggaraan event balap kelas wahid dunia ini antara tahun 1996 dan 1997. 

Valentino Rossi, pembalap legendaris idola semua orang ini pernah melaju di atas motor Aprilia RS 125 miliknya kala gelaran GP Sentul. Tahun 1996 merupakan awal debut The Doctor di kelas capung sebagai rookie, ia menorehkan finish di posisi 9 klasemen akhir musim. Di balapan seri Sentul yang diselenggarakan pada tanggan 7 April 1996 lalu, ia mengakhiri balapan dengan finish di posisi 9. 

Waktu itu yang memenangkan balapan seri Sentul adalah Masaki Tokudomedari Jepang yang bergabung di tim UGT 3000 dengan menunggangi mesin Honda RS125. Secara dramatis ia mengalahkan juara incumbent kala itu, Haruchika Aoki yang menunggangi motor yang sama namun beda tim. 

Haruchika Aoki bergabung di tim Arie Molenaar Racing dengan paket motor pabrikan spek baru dari HRC. Masaki Tokudome sendiri merupakan pembalap tim UGT 3000 yang notabene adalah tim satelit Aprilia. Namun, pihak tim UGT 3000 sendiri membagi dua divisi dengan alasan perbedaan pabrikan. 

Tim UGT 3000 memakai motor Honda dengan Masaki Tokudome dan Tomomi Manako sebagai pembalapnya, sedangkan pembalap Jepang yang lainnya yaitu Kazuto Sakata malah mengendarai Aprilia karena status tim yang bebas memilih pabrikan manapun meski dalam satu management tim.

Valentino Rossi sendiri yang bergabung dengan tim Scuderia Carrizosa dengan sponsor helm AGV justru finish di posisi 11 seusai balapan. Meski mendulang poin, Rossi gagal menaklukan sirkuit Sentul yang nyata-nyata gampang dilalui tersebut. 

Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 22 September 1997' gelaran balap motor bergengsi ini kembali dihelat. Dan kali ini Valentino Rossi menang mudah setelah berhasil telikung Kazuto Sakata. Tanpa hambatan apa pun, Rossi menang di GP Sentul meski ia mengalami cidera kepala akibat kecelakaan lalu lintas. 

Bahkan di tahun itu pula, Rossi berhasil menjadi juara dunia kelas 125cc yang menjadi satu diantara sembilan gelar juara dunia koleksinya hingga hari ini. 

Dan ketika GP Sentul hendak diselenggarakan kembali pada tahun 1998, kondisi Indonesia dinilai hancur lebur akibat krisis moneter yang melanda Asia. Otomatis Indonesia batal jadi tuan rumah MotoGP untuk ketiga kalinya. 

Padahal menurut Tabloid Bola, sirkuit Sentul dikontrak sebagai tuan rumah MotoGP sejak tahun 1996 s/d 2000. Andikan saja tidak ada krisis moneter yang melanda Indonesia dan sebagian negara Asia pada waktu itu, bukan tidak mungkin sampai tahun 2000 kita bisa melihat Valentino Rossi beraksi di kelas 500cc dengan motor Honda NSR 500.

*****


1/31/2022

22 Tahun Yang Lalu, Yamaha Pernah Juara Di Kelas 250cc Bersama Tech 3

Yamaha TZ 250 M, Tetsuya Harada, Yamaha Motor France


Dalam sejarahnya, Yamaha memang kompetitif di kelas tertinggi MotoGP' sejak kelas 500cc bermesin 2 tak hingga kelas 1000cc bermesin 4 tak. 

Tapi, tahukah anda bahwa Yamaha pernah juara di kelas dibawah MotoGP ?

Jawabannya tentu pernah, terakhir kali Yamaha menjuarai kasta kedua di MotoGP terjadi pada tahun 2000 dimana mereka berkompetisi sebagai tim pabrikan kelas 250cc. 

Waktu itu Yamaha berkolaborasi dengan Tech3 yang dipimpin oleh Herve Poncharal dan Guy Coulon. Yamaha memiliki sejarah apik ketika menjalin kerjasama dengan tim yang kini menjadi bagian dari proyek satelit KTM tersebut.

Musim 2000 merupakan musim dimana Yamaha menjadi jawara untuk terakhir kalinya di kelas memengah dan sejak saat itu tidak pernah juara lagi. Kombinasi motor Yamaha YZR 250 spek baru dengan dua pembalap muda andalannya yaitu Olivier Jacque dari Perancis dan Shinya Nakano dari Jepang. 

Kolaborasi Yamaha dengan Tech3 mulai terjadi sejak tahun 1999, saat itu mereka tampil cukup kompetitif meski harus bersaing ketat dengan Aprilia dan Honda yang kala itu silih berganti kuasai klasemen pembalap maupun konstruktor. 

Olivier Jacque berhasil menjadi juara dunia pada tahun 2000, lalu dimasa mendatang ada pembalap lain yakni Arnaud Vincent dan Mike Di Meglio yang juga berasal dari negeri Ayam Jantan. Keduanya menjadi juara dunia di tahun yang berbeda pula, Arnaud Vincent menjadi juara di tahun 2002 untuk kategori kelas 125cc seusai mengalahkan juara bertahan Manuel Poggiali dari San Marino. 

Sedangkan Mike Di Meglio menjadi juara pada tahun 2008 setelah bertarung sengit melawan Gabor Talmacsi dari Hungaria sekaligus menjadi juara dunia terakhir asal Perancis di kelas terendah itu. 

Barulah tahun 2021 lalu, Perancis memiliki juara dunia baru sekaligus yang pertama kali di kelas utama MotoGP ialah Fabio Quartararo. Sebuah penantian panjang bagi masyarakat Perancis memiliki sosok jagoan di kelas tertinggi MotoGP. 

Balik lagi soal Tech3, tim ini sangat kompetitif dan memiliki kemampuan teknis yang sangat luar biasa. Pihak Tech3 sendiri menyadari bahwa motor Yamaha yang mereka dapati ini memang lambat. 

Namun, berkat segala macam riset dan tes rahasia dilakukan untuk membuat motor Yamaha YZR 250 menjadi cepat agar bisa bersaing dengan Honda maupun Aprilia di kelas 250cc.

Hasilnya, Olivier Jacque mengoleksi 3 kemenangan dan 8 podium secara keseluruhan berdasarkan klasemen berjumlah 279 poin. Sedangkan rekan setimnya, Shinya Nakano mengoleksi 5 kemenangan dan 7 podium yang membawanya menjadi runner-up dengan nilai 272 poin. 

Kesuksesan Tech3 di kelas 250cc membuat Yamaha tertarik memasukan tim balap ini di kelas tertinggi 500cc untuk musim balap 2001. Tentunya, mereka akan mendapat jatah motor Yamaha YZR 500 spek baru dan eksklusif hanya untuk Tech3 saja. 

Dalam perkembangannya Tech3 menjadi tim satelit resmi Yamaha walau pun tidak mampu meraih satu kemenangan pun sampai akhirnya tahun 2018 memutuskan untuk berpisah dengan Yamaha.

Mereka memilih bergabung sebagai tim satelit KTM guna mengembangkan motor KTM RC16 yang saat ini sedang dikompetisikan dalam kategori kelas MotoGP. 

*****





12/11/2021

18 Tahun Yang Lalu, Ducati Masuk MotoGP

Ducati Desmocedici 06, Loris Capirossi

Kesuksesan Ducati di ajang balap MotoGP tidak lepas dari mesin mutakhirnya yang bernama Desmocedici. Tenaga yang besar dan kecepatan yang kencang membuat Ducati menjadi salah satu motor terkuat di MotoGP.

Keputusan Ducati untuk ikut ke MotoGP sudah direncanakan sejak tahun 2001, saat FIM mengubah regulasi mesin untuk kompetisi musim 2002. FIM membubarkan kejuaraan balap motor 2 tak yang bermesin 500cc dan menggantinya dengan mesin 990cc 4 tak yang besar.

Hal ini mengundang banyak minat dari pabrikan-pabrikan motor yang sudah lama ingin kembali berkompetisi di MotoGP. Mulai dari Kawasaki, Aprilia dan yang terakhir, Ducati ikut meramaikan persaingan. 

Kalau dilihat waktu itu, Ducati paling siap menghadapi kompetisi' mereka mengumumkan keikutsertaannya di ajang balap MotoGP untuk musim 2003 dengan menyediakan 2 unit motor spek pabrikan. 

Mulanya pembalap asal Australia' Troy Bayliss yang direkrut sebagai alumni perdana pengendara Desmocedici GP03, namun di saat yang sama bergabunglah pembalap lokal Italia' Loris Capirossi yang baru saja habis masa kontraknya dengan West Honda Pons. 

Motor Ducati Desmocedici GP03 diluncurkan di Bologna, kota asal Ducati dimana pabriknya berada. Troy Bayliss, juara dunia World Superbike tahun 2001 dan Loris Capirossi juara dunia kelas 125cc dan 250cc MotoGP menjadi duo terpercaya untuk mengendalikan ganasnya motor Ducati Desmocedici GP03. 

Hasil positif Ducati di musim perdananya terbilang manis, Ducati Desmocedici GP03 yang dikendarai Loris Capirossi berhasil merengkuh podium ke 3 di Grand Prix Suzuka. Sebuah awal yang bagus bagi Ducati yang notabene pabrikan debutan atau pendatang baru. 

Hasil cemerlangnya baru tercipta saat melakoni balapan di Grand Prix Catalunya, Loris Capirossi menyumbang kemenangan perdana Ducati setelah mempecundangi motor Honda RC211V milik Valentino Rossi.

*****

10/12/2020

Modenas KR3, Motor Balap 3 Silinder Buatan Malaysia Yang Gagal Bersinar (Part 02/END)

Foto : Modenas KR3

Marlboro selaku sponsor resmi Modenas cuma bisa diperas habis-habisan oleh Kenny Roberts untuk mewujudkan ambisinya sebagai tim balap terkuat di dunia. Untuk meluluskan ambisinya itu, Kenny Roberts memecat Jean Michel Bayle dan merekrut pembalap baru asal Jerman yaitu Ralf Waldmann. 

Ralf Waldmann yang semula menjadi rekan setim Max Biaggi di tim Kanemoto Racing digaet sebagai tandem Kenny Roberts JR. Kemampuan Waldmann sebagai pembalap cukup hebat bahkan mencetak kemenangan dan podium sejak membalap di kelas 250cc sebagai motivasi untuk lebih baiknya performa motor Modenas KR3. 

Sebetulnya di musim 1998, ada peningkatan kekuatan dan stabilitas pada mesin setelah bergabungnya Ralf Waldmann. Bahkan Waldman pernah masuk Top 10 dalam free practice selama 2 hari sebelum seri balapan dimulai. Waldmann sangat hebat karena bisa mengembangkan kemampuan motor sehingga posisi motor Modenas bisa hampir sejajar dengan motor tim satelit milik Honda dan Yamaha.

Waldman dikontrak 2 tahun karena berjasa mengembangkan mesin 3 Silinder milik Modenas agar lebih kompetitif dan lebih mengigit seperti Aprilia RSV 400 yang dikendarai pembalap Italia, Doriano Romboni. 

Jujur saja, selama seri berlangsung Waldmann mampu konsisten di klasemen Top 10  bahkan melampaui Kenny Roberts JR yang masih belum menemukan kehebatannya. Sayangnya dari segi klasemen memang Waldmann berada di bawah putra Kenny Roberts SR meski performanya berkembang dari seri ke seri. 

Rald Walmann sempat mengalami cedera saat free practice di Assen sehingga absen satu seri, akibat absennya itu posisi klasemen pembalap asal Jerman itu disalip oleh Kenny Roberts JR. 

Waldmann mengakhiri musim sebagai rookie dengan menduduki posisi 14 di klasemen dengan mengoleksi 46 poin. Sedangkan Kenny Roberts JR setingkat diatas Waldman dengan mengoleksi 59 poin dan bertengger di posisi 13 klasemen.

Kenny Roberts SR akhirnya mengakui bahwa mesin Modenas sangat buruk dan tidak memberikan perlawanan berarti bagi tim-tim lainnya. Akhirnya Modenas angkat kaki dari kelas 500cc akibat masalah keuangan dan tunggakan gaji karyawan Modenas di Malaysia yang belum lunas akibat dilema krisis moneter yang melanda Asia antara tahun 1997-1998.

Modenas sudah malas meladeni tim balap manapun sekali pun Modenas sedang dilirik oleh tim lain sebagai pengganti tim balap milik Kenny Roberts SR. Bahkan yang lebih ngenes lagi, Marlboro selaku sponsor utama tim harus minggat karena keburu dikontrak Max Biaggi sebagai sponsor pribadi sekaligus sponsor baru Yamaha.

Marlboro pulang kampung ke Yamaha setelah 2 tahu disiksa oleh Modenas yang berambisi menjadi motor terkuat di dunia. Itulah sepenggal kisah tentang motor Modenas KR3 yang pernah ikut mencicipi persaingan di MotoGP khususnya GP 500.

(Tamat)

 

Modenas KR3, Motor Balap 3 Silinder Yang Gagal Bersinar Buatan Malaysia (Part 01)

 

Foto : Kenny Roberts JR

Kalau kita ingat Malaysia, yang terpikir dalam benak sudah tentu soal bidang olahraganya demikian maju melebihi Indonesia. Apalagi kalau soal olahraga otomotif, Malaysia dibilang paling berani dan nekad meski industrinya masih didanai oleh negara tidak seperti halnya Jepang yang kebanyakan perusahaannya berstatus swasta. 

Modenas adalah perusahaan sepeda motor nasional milik Malaysia yang tergolong perusahaan BUMK atau Badan Usaha Milik Kerajaan dengan gagahnya turun di Kejuaraan Balap Motor Dunia 500cc dengan menggaet Kenny Roberts SR sebagai team manager. 

Modenas turun penuh di GP 500 pada tahun 1997 setelah sponsornya, Marlboro hengkang dari tim pabrikan Yamaha seusai musim 1996. Hal ini dipicu oleh konflik internal antara Kenny Roberts SR dengan para petinggi Yamaha yang lebih sayang kepada pembalap magang asal Italia, Loris Capirossi (Juara Dunia 125cc Tahun 1990-1991). 

Alasannya memang Yamaha lebih senang menduetkan Loris Capirossi dengan pembalap asal Jepang Norick Abe yang merupakan pembalap binaan Yamaha. Kenny Roberts SR malah ingin menduetkan Norick Abe dengan putranya sendiri, Kenny Roberts JR. 

Negosiasi kontrak berjalan alot, Kenny Roberts SR ingin anaknya dipertahankan oleh Yamaha lantaran adanya aliran dana dari sponsor. Namun, setelah hasil balapan selama semusim cukup mengecewakan, Kenny Roberts JR dan Jean Michel Bayle dipecat karena tidak bisa meraih kemenangan dan hanya podium.

Kemarahan Kenny Roberts SR kepada Yamaha memuncak setelah ia resmi hengkang dari tim asal Iwata tersebut dan memilih berdikari sebagai tim independen. Al hasil Kenny Roberts menemukan supplier motor yang potensial yakni Modenas. 

Modenas muncul sebagai kompetitor baru di level balap teratas dunia, berkat dana sponsor yang berlimpah ruah dari Marlboro' Modenas digaet sebagai mitra sekaligus memindahkan markas tim dari Eropa ke Asia, tepatnya di Malaysia. Pengembangan motor diserahkan kepada Ilmor Engineering dan dilakukan di sirkuit Donington Park.

Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts JR disokong sebagai pembalap utama di tim ini dan mendapat kesempatan untuk menjajal motor buatan Modenas. Perusahaan sepeda motor ini telah menciptakan sebuah motor yang bermesin 400cc 3 Silinder. Setelah motor ini diciptakan dan diluncurkan di Auditorium Sirkuit Shah Alam pada awal 1997. 

Motor ini diberi nama Modenas KR3, karena motor ini memakai mesin 3 silinder dan diyakini bisa menandingi motor Honda NSR 500 V yang notabene motor kelas dua untuk pembalap privateer. Kenny Roberts sesumbar dia bisa mengalahkan Honda NSR 500 V lantaran berbeda teknologi yang cukup jauh. 

NSR 500 V adalah motor 2 Silinder yang bertenaga pas-pasan namun jago menyalip di tikungan, buktinya Tadayuki Okada berhasil meraih pole di GP Malaysia 1996 meski akhirnya gagal finish akibat masalah mekanik lantaran motornya belum sempurna.

Modenas KR3 diharapkan bisa menjadi motor terkuat, setidaknya menjadi rival dekat motor Honda NSR 500 V yang kala itu dikendarai Alex Barros di Tim Gressini dan Takuma Aoki di Tim Repsol Honda HRC. 

Namun ketika musim 1997 bergulir, hasilnya amat sangat mengecewakan' Kenny Roberts JR dan Jean Michel Bayle tidak mampu berkata banyak saat motor-motor 4 Silinder berstatus spek satelit mengasapi motor Modenas KR3.

Hasil akhir menunjukkan, Kenny Roberts JR menduduki posisi 16 dan mengoleksi 37 poin di klasemen. Sedangkan Jean Michel Bayle malah dibawah pembalap asal Australia, Anthony Gobert yang mengendarai Suzuki RGV 500 dengan mengoleksi 31 poin dan bertengger di posisi 18. 

Hasil negatif ini membuktikan bahwa motor Modenas belum berpengalaman di dunia balap internasional bahkan proyek motor balap ini dianggap sebagai pemborosan dana negara. 

Meski dicibir begitu, Kenny Roberts SR tidak gentar dengan hasil yang mengecewakan dari motor Modenas bahkan ia berencana ingin menambah dana lagi guna menyempurnakan proyek gila ini.

(Bersambung)


 

7/15/2020

Pol Espargaro, Calon Rekan Marc Marquez Musim 2021

Gambar : Repsol 

Masa Depan Marc Marquez semakin tidak menentu setelah HRC menetapkan Pol Espargaro sebagai pembalap baru.

Pol Espargaro adalah pembalap yang konsisten dan mumpuni, dia merupakan rival Marc Marquez di kejurnas balap junior domestik dan pernah berduel di Moto2.

Pol Espargaro sempat jadi juara dunia Moto2 pada tahun 2013 sebelum naik kelas ke MotoGP pada tahun 2014 dengan bergabung bersama Yamaha Tech 3. Prestasi Pol Espargaro biasa-biasa saja bahkan dianggap tidak layak naik ke tim pabrikan Yamaha. 

Yamaha waktu itu baru saja melepas Jorge Lorenzo ke Ducati karena berselisih dengan Valentino Rossi. Kontan, Pol Espargaro didengungkan sebagai calon pengganti Jorge Lorenzo. 

Sayangnya kesempatan untuk menjadi tandem Valentino Rossi buyar setelah Maverick Vinales teken kontrak ekslusif dengan Yamaha pasca 2 tahun menggeber Suzuki. 

Yamaha ternyata lebih suka pembalap dari pabrikan lain dibanding pembalap satelitnya sendiri karena tuntutan dari manajemen.
Pol Espargaro yang sudah berjuang sejak tahun 2014 untuk mendapat posisi di tim pabrikan demi mendampingi Valentino Rossi malah dibuat mangkel dengan keputusan Yamaha.

Yamaha lebih memilih Maverick Vinales dengan alasan yang cukup logis namun penuh kepalsuan, yaitu usia !

Yamaha ingin seperti Honda yang selalu berprestasi dengan pembalap-pembalap mudanya seperti Marc Marquez. Tapi, Yamaha jelas tidak mudah meraih kemenangan atau podium terlalu sering lantaran kualitas motornya yang sulit bersaing secara kompeten dan konsisten.

Maverick Vinales sejatinya masih punya kans untuk bertahan di Suzuki karena motor GSX 1000 RR sudah nyaris sempurna. Namun, tawaran yang diberikan Yamaha cukup menggiurkan sehingga dengan mudanya Vinales pindah.

Nyatanya, Maverick Vinales justru senasib dengan seniornya dulu' Carlos Checa yang juga semula digadang-gadang sebagai calon rekan Alex Criville di Honda. 

Nasib Carlos Checa berubah semenjak diajak Max Biaggi menunggangi Yamaha dan nasibnya cuma sekedar sebagai penggembira.

Jelas nyata antara Maverick Vinales dan Carlos Checa itu memiliki kesamaan meski bedanya Checa tidak juara MotoGP malah sukses menjuarai WSBK pada tahun 2011.

Vinales yang bermodalkan gelar juara di Moto3 malah bisa bergabung dengan Yamaha yang sejatinya cuma dihuni pembalap senior berpengalaman sekaliber Valentino Rossi.

Pol Espargaro ditipu oleh Yamaha, akhirnya pindah ke KTM yang kebetulan memulai debutnya di MotoGP lewat management Ajo Motorsport.

Pol Espargaro tidak yakin dirinya bisa pisah secara baik-baik dengan KTM lantaran performa motor RC16 dari tahun ke tahun makin meningkat bahkan menyumbang podium di GP Valencia 2019 lalu. 

Honda memang membutuhkan sosok pembalap tua yang menjadi mentor sekaligus pendamping setia. Seperti halnya Tohru Ukawa mendampingi Alex Criville dan Valentino Rossi antara tahun 2001-2002.

Soal performa, Motor RC213V memang paling kuat dalam segala hal karena racikan Livio Suppo yang pernah memberikan kontribusi pesatnya motor. 

Repsol Honda harus segera mungkin menentukan pilihan agar kelak tidak membuat blunder saat waktu merekrut Jorge Lorenzo. Sebab, pengalaman bukan hanya satu modal untuk menunggangi motor V4 milik Honda, tapi juga keberanian yang tidak terbatas agar bisa bersaing meski tidak harus menang.

"SELESAI"


6/18/2020

Team KR, Penguasa Grand Prix 500cc (Bagian II-Selesai)

Foto : Tetsuya Harada, Yamaha YZR 250, Marlboro Team Roberts

Team KR yang sudah bekerja sama dengan Philip Morris akhirnya mengganti nama tim tersebut menjadi Marlboro Team Roberts. Kerjasama Team KR dengan Philip Morris lewat merek rokok Marlboro dimulai kurun waktu 1990-1998. Ketika Yamaha memecat Kenny Roberts Sr sebagai manager tim, Yamaha malah menujuk mantan pembalap Yamaha yang dulu dibesarkan Kenny Roberts Sr' siapa lagi kalau bukan Wayne Rainey.

Kenny Roberts beserta management memutuskan untuk berkolaborasi dengan pabrikan motor asal negeri jiran Malaysia, Modenas Motorcycle. Modenas menjadi supplier motor sekaligus pabrikan resmi untuk Team KR dengan motor baru hasil rancangan Ilmor-Modenas di Inggris. Motor tersebut diberi nama Modenas KR3, pembalap yang berkompetisi bersama Team KR adalah Jean Michel Bayle dan putra kandung Kenny Roberts Sr sendiri, Kenny Roberts Jr.

Sayangnya motor Modenas KR3 memiliki perfoma yang kurang memuaskan bahkan terbilang lebih buruk dibanding Aprilia RSW-2 yang kala itu dikendarai mendiang Doriano Romboni.
Bahkan proyek tendensius antara Team KR dan Modenas Motorcycle dibilang gagal total bahkan ada isu yang berhembus bahwa Philip Morris akan hengkang dari Team KR atas prestasinya yang anjlok pasca tidak memakai motor Yamaha lagi.

Namun, kontrak dengan Modenas masih setahun lagi. Akhirnya tim tersebut hanya merombak pembalapnya saja. Kenny Roberts Jr masih bertahan di tim itu malah ditemani mantan rekan setim Max Biaggi, dialah mendiang Ralf Waldmann. 

Sedangkan Jean Michel Bayle kembali ke Yamaha setelah diundang oleh Wayne Rainey untuk menggantikan Sete Gibernau yang pindah ke Repsol Honda pasca insiden patah kaki pembalap asal Jepang, Takuma Aoki dalam sesi tes pra musim.

Modenas mungkin untuk terakhir kalinya berkompetisi di Kelas 500cc pada tahun 1998 akibat krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara kala itu, maka pada akhir tahun tersebut Modenas angkat kaki dari kejuaraan dunia balap motor 500cc demi menyelamatkan keuangan perusahaan.

Prestasi yang jauh panggang daripada api menjadi faktor mundurnya Modenas sebagai supplier motor untuk Team KR. Untungnya Team KR bergerak cepat dengan menggandeng supplier baru sesama pabrikan Malaysia yaitu Proton.

Proton dijadikan mitra baru untuk pengembangan motor KR3 generasi ketiga untuk musim 1999. Sayangnya ini menjadi musim terakhir Philip Morris bekerjasama dengan Team KR setelah sponsor itu dirayu oleh Yamaha untuk kembali memperkuat tim garputala dari Iwata tersebut. 

== SELESAI ==

Team KR, Penguasa Grand Prix 500cc (Bagian I)

Gambar : Kalender Balap Motor Grand Prix 500 Musim 1995

Tim balap motor yang sukses memberikan gelar juara di kelas 500cc ini dipimpin oleh mantan juara dunia 3 kali. Tim ini disponsori oleh perusahaan rokok Philip Morris dan livery nya menjadi ikonik sepanjang masa. Siapa lagi kalau bukan Team KR, tim ini dulunya pernah mewakili Yamaha di kelas 500cc pada tahun 1987-1996. 

Kurang lebih selama 9 tahun tim ini menjadi kekuatan utama bagi Yamaha karena waktu itu pabrikan asal Iwata, Jepang ini tidak punya pabrikan resmi seperti Honda yang sudah memiliki tim resmi sejak tahun 1984 setelah berdirinya HRC (Honda Racing Corporation). 

Team KR dikenal sebagai tim balap yang mengarungi perjalanan di dunia motorsport sejak tahun 1985. Awalnya tim ini berkompetisi di ajang balap nasional Amerika untuk kategori kelas 250cc. Castrol Lubricants menjadi sponsor utama untuk tim ini sampai akhirnya Kenny Roberts Sr. memutuskan untuk bertarung di kejuaraan dunia MotoGP pada tahun 1986 lewat kelas 250cc. 

Bermodalkan motor Yamaha TZ 250, tim ini banyak belajar dari tim balap milik Giacomo Agostini yang pada waktu itu merupakan tim resmi Yamaha. Sukses di kelas 250cc, Team KR langsung mengajukan promosi ke kategori kelas 500cc yang kala itu masih merupakan kelas tertinggi.
Tahun 1987, Team KR menjadi tim satelit Yamaha setelah tim milik Giacomo Agostini didaulat sebagai tim pabrikan murni.

Karena terbentur aturan bahwa tim satelit tidak boleh pakai sponsor yang sama dengan tim pabrikan. Team KR memutuskan untuk ganti sponsor, kali ini yang menjadi sponsor adalah perusahaan rokok British American Tobacco. Ironinya, British American Tobacco merupakan rival bisnis Philip Morris yang merupakan sponsor resmi tim milik Giacomo Agostini. 

Kenny Roberts Sr. Menurunkan pembalap andalannya yang waktu itu merupakan calon rival Eddie Lawson dan Freddie Spencer. Pembalap baru itu adalah Wayne Rainey, bermodalkan motor Yamaha YZR 500 edisi tahun sebelumnya justru Wayne Rainey berhasil berkali-kali mempecundangi para pembalap pabrikan terutama Eddie Lawson.

Performa Team KR mengalami peningkatan seiring berjalannya kompetisi, tak ayal malah jadi sumber konflik yang menyebabkan Giacomo Agostini beralih pabrikan dari Yamaha ke Cagiva setahun kemudian. Kenny Roberts Sr. Diangkat sebagai manager baru tim pabrikan Yamaha seusai Cagiva bekerja sama dengan tim milik Giacomo Agostini.

Imbasnya adalah sponsor, Yamaha lebih memilih disponsori Philip Morris dibanding British American Tobacco. Maka pada tahun 1990, Philip Morris menjadi sponsor tunggal tim pabrikan Yamaha. Sedangkan British American Tobacco memilih ikut Suzuki dengan pembalap andalannya Kevin Schwantz. 

== Bersambung ==

4/05/2020

Ternyata Marlboro Pernah Jadi Sponsor Pabrikan Selain Yamaha

 Foto : Alex Criville, Marlboro Honda Pons 1993

Tahukah kamu bahwa Marlboro tidak hanya menjadi sponsor tim Yamaha dan Ducati !

Iya, benar...
 
Marlboro pernah menjadi sponsor utama untuk tim satelit Honda di era 90an. Honda pernah mendapat sponsor dari Alex Criville pada tahun 1993 untuk tim satelit Pons Racing.

Waktu itu Yamaha protes karena corak livery nya mirip, untuk membedakannya Honda menambahkan sponsor lain yaitu Repsol sebagai pembeda yang mana Yamaha dan yang mana Honda. Sebetulnya pada waktu itu organisasi balap motor dunia, FIM sempat melarang tim-tim balap menggunakan livery sponsor yang sama dengan tim pabrikan lain untuk mencegah duplikasi dan hal-hal masif secara ilegal.

Namun Dorna Sports dan Flammini Group selaku operator kejuaraan tidak mempermasalahkan livery yang serupa, karena itu adalah hak setiap tim dalam berkompetisi dan mempromosikan produk-produk yang menyeponsori setiap pembalap.

Motor Yamaha berlivery Marlboro menggunakan merek oli Castrol, sedangkan Motor Honda milik Alex Criville berlivery Marlboro tetapi menggunakan merek oli Repsol.

 Foto : Loris Capirossi, Marlboro Team Pileri 1994

Kemudian di tahun 1995, ada lagi tim satelit Honda yang menggunakan livery Marlboro yaitu tim Honda Pileri. Tim ini dinaungi oleh pembalap muda yang kala itu sedang naik daun namun keputusannya naik kelas lebih awal menimbulkan kontroversi, dialah Loris Capirossi.
Loris Capirossi dipaksa naik kelas oleh Marlboro karena harus memperoleh pendapatan untuk memperbanyak angka penjualan rokok tersebut khususnya di Italia.

Naik kelasnya Loris Capirossi sempat menimbulkan ketidakpercayaan publik karena posisi Capirex saat itu hanya sebatas runner up kelas 250cc. Menurut publik, yang pantas naik kelas itu bukan Capirossi melainkan Max Biaggi, juara dunia kelas 250cc kala itu.

Namun, Max Biaggi mengaku belum siap balapan di kelas 500cc lantaran masih betah dan belum ada tawaran dari tim-tim kelas 500cc. Sehingga Max Biaggi menjuarai kelas 250cc empat kali berturut-turut bersama Aprilia dan Honda.

Lagi-lagi Yamaha protes, tim satelit Honda Pileri menggunakan livery yang sama ketika Pons Racing berlaga pada tahun 1993 silam.

Untungnya motor Honda milik Capirossi menggunakan merek oli buatan Perancis, ELF dan knalpot bermerek Polini asli Italia. Setelah kontraknya dengan tim Honda Pileri habis, Capirex hengkang ke Yamaha untuk mencicipi mesin pabrikan dan tentu kembali memakai livery yang sama.

Sayangnya, Capirossi harus turun kelas pada tahun 1997 akibat konflik internal yang melanda Yamaha. Kenny Roberts Sr hengkang dari Yamaha setelah cekcok dengan petinggi Yamaha gara-gara kontrak anaknya, Kenny Roberst Jr diputus.

Alhasil Kenny Roberts membawa serta sponsornya keluar dari tim garputala dan bekerjasama dengan perusahaan asal Malaysia, Modenas.
Marlboro sebagai sponsor tentu lebih menuruti keinginan juara dunia 3 kali itu sebagai wujud balas dendam dan ingin membuktikan bahwa Kenny Roberts bisa juara tanpa harus mengandalkan motor Yamaha YZR 500.

Marlboro menyeponsori tim milik Kenny Roberts yang bekerjasama dengan Proton selama 2 tahun, namun sayangnya mesin balap buatan Modenas yang bernama Modemas KR3 yang menggunakan mesin 3 silinder (Serupa Dengan Aprilia RSV 400 V3) dinilai gagal memenuhi ekspektasi dan hanya membuang banyak uang.

Gambar : Marlboro Kanemoto Honda, 1998

Dan disaat yang sama, muncullah tim balap yang sukses menggondol gelar juara kelas 250cc' Kanemoto Racing kembali naik kelas pada tahun 1998 setelah setahun berkompetisi di kelas menengah bersama dua pembalap andalannya yaitu Max Biaggi (Italia) dan Ralf Waldmann (Jerman).

Max Biaggi didaulat sebagai pembalap tunggal dan Ralf Waldmannhengkang dari tim Kanemoto lantas bergabung dengan tim milik Kenny Roberts guna menggantikan posisi Jean Michel Bayle yang rujuk dengan Yamaha.

Max Biaggi dengan percaya diri menggeber motor Honda NSR 500 dengan livery rokok Marlboro yang setahun lalu ia pakai di kejuaraan kelas 250cc. Max Biaggi mengulang apa yang dilakukan Loris Capirossi dan Alex Criville di masa lalu' ia ingin membuktikan bahwa bukan tidak mungkin livery motor Honda bisa menyatu dengan motor Honda.

Tidak disangka secara mengejutkan Max Biaggi menjadi pemenang seri perdana di Sirkuit Suzuka, Jepang setelah mengalahkan beberapa pembalap tim pabrikan sekelas Mick Doohan dan Alex Criville. Publik seakan tidak percaya dengan debut sensasional Max Biaggi di kelas utama' mengingat dirinya sudah mengantongi 4 gelar juara dunia kelas 250cc empat kali beruntun.

Foto : Ralf Waldmann, Marlboro Team Roberts 1998 

Performa Max Biaggi di kelas 500cc pada musim debutnya membuat beberapa pabrikan kepincut merekrut dirinya. Mengingat kontrak Max Biaggi dengan Honda akan habis pada akhir November 1998. Yamaha dan Suzuki tertarik mendatangkan Biaggi setelah Honda tidak lagi membutuhkan jasanya. 

Namun, Yamaha terlebih dahulu melamar Max Biaggi dan sponsornya pun ikut bersama Biaggi. Akhirnya pada awal tahun 1999' Yamaha kembali reuni dengan Marlboro setelah putus hubungan selama 2 tahun antara musim 1997-1998.

Sedangkan tim Kanemoto Racing, bekas tim Max Biaggi merekrut mantan juara kelas 250cc tahun 1990, John Kocinski (Amerika Serikat) setelah didupak dari tim satelit Movistar Honda Pons.

Sejak saat itu Marlboro mulai secara penuh kembali memakai Marlboro sebagai sponsor hingga tahun 2002. Dan kemudian Marlboro menjadi sponsor utama tim pendatang baru Ducati Corse pada tahun 2003 saat era motor 4 tak dimulai sampai hari ini.

(Selesai)

1/06/2020

Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 08/END)

Foto : Dani Pedrosa, Movistar Honda Team

Kesuksesan Valentino Rossi menggeber Yamaha berlanjut di tahun 2005, kali ini Yamaha benar-benar dominan dan sulit dikalahkan. Apalagi motor RC 211V milik Honda sudah usang dan mudah diketahui kelemahannya oleh Yamaha. 

Bayang-bayang kesuksesan Valentino Rossi menciptakan motor RC 211V sejak tahun 2001 membuat Honda sulit mencari penggantinya. Terlebih ketika Rossi dan Gibernau menjadi sorotan dan perbandingan mencolok. Rossi selama musim 2005 sudah mengoleksi 11 kemenangan dan 5 podium, Yamaha perkasa dan menjadi pabrikan terkuat di era 4 tak. 

Sete Gibernau yang semula mewarisi motor RC 211V milik Valentino Rossi yang sudah diuji pada Oktober 2003 lalu justru tidak seberuntung The Doctor saat menciptakan formula konsistensi untuk kejayaan Honda. Prestasi pembalap bernama lengkap Manuel Bulto Gibernau itu tidak sementereng pada musim 2003/2004. Cuma 4 podium saja itu yang bisa dikoleksi karena sulit bersaing dengan rekan timnya yang baru, Marco Melandri.

Sejak awal Gibernau curiga, meski disokong Movistar' performanya dengan Melandri jauh panggang dari pada api. Sebab dilihat dari segi usia, Melandri baru berusia 22 Tahun sedangkan Gibernau sudah berusia 33 Tahun dan tentu lebih tahu bagaimana caranya menjinakkan RC 211V.

Nasib memang tidak bisa ditolak, Gibernau pun akhirnya dipecat pada bulan Desember 2005 dan posisinya digantikan oleh Toni Elias, mantan rival Marco Melandri di kelas 250cc pada tahun 2002 silam. Ditambah Movistar angkat kaki dari Honda Gressini makin memperlemah pengaruh Gibernau di tim milik Fausto Gressini tersebut. 

Berbanding terbalik dengan juniornya, Dani Pedrosa dari Sabadell.
Dani Pedrosa sukses mempertahankan gelar juaranya untuk kedua kali setelah bertarung sengit melawan Casey Stoner (Australia) dari tim Safilo Carrera LCR Aprilia dan Randy De Puniet (Perancis) dari tim Repsol Aspar Aprilia. 

Dani Pedrosa mengoleksi 8 kemenangan dan 3 podium selama musim 2005 dan berhak menjajal motor RC 211V pada tes musim dingin di sirkuit Valencia. Kisah Yamaha berlanjut hingga hari ini, dimana Yamaha terpuruk dan masih butuh pengembangan motor lagi agar bisa sukses seperti era terdahulu. 

Ironinya, Dani Pedrosa pensiun tahun 2018 lalu' bahkan rival Valentino Rossi ini mengikuti jejak gurunya' Alberto Puig yang ikut pensiun dini di usia kepala tiga disaat kondisi fisik mulai tidak mendukung untuk beraksi menantang gelar juara dunia. 

(TAMAT)

9/19/2019

Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 07)

Foto : Valentino Rossi, Januari 2004

Selama musim 2003, Yamaha hanya mengoleksi 2 kali naik podium tanpa kemenangan sama sekali dan masih cukup bagus bertengger di klasemen 10 besar. Carlos Checa, Shinya Nakano dan Olivier Jacque merupakan tiga diantara banyaknya pembalap Yamaha yang konsisten bertengger di Top 10 walau mereka dibekali motor baru dan canggih. 

Sampai suatu ketika Valentino Rossi hengkang dari Honda dan bergabung dengan Yamaha karena takut diduetkan dengan Sete Gibernau. Yamaha dengan tangan terbuka menerima kedatangan Rossi yang sudah cukup berpengalaman bersama Honda. Bisa dibilang Yamaha beruntung bisa merekrut Valentino Rossi sebagai bagian penting dari proyek besar motor YZR M1 untuk merebut kembali gelar juara sejak tahun 1992. 

Ketika Rossi bergabung, untungnya Jeremy Burgess turut membantu Yamaha dalam pengembangan motor YZR M1 yang mesinnya berjenis Inline 4. Hasilnya cukup memuaskan dan dinyatakan setingkat dengan RC 211V yang dimiliki oleh Honda.

Di GP Phakisa, Afrika Selatan menjadi saksi kesuksesan awal Yamaha di kelas MotoGP dengan pembalap barunya. Valentino Rossi menang dramatis setelah mengalahkan Max Biaggi yang mengendarai RC 211V. Ini merupakan kemenangan perdana Yamaha setelah GP Malaysia 2002 lalu yang ditorehkan oleh Max Biaggi. 

Selepas Biaggi hijrah ke Honda, otomatis rahasia motor RC 211V yang jatuh ke tangan Rossi berhasil membuat motor Yamaha bisa menandingi Honda sepanjang musim 2004. Meski Rossi sendirian balapan di baris terdepan melawan Sete Gibernau dan Max Biaggi, Yamaha tetap yakin bahwa sejarah akan berubah kalau ada usaha extra. 

Rossi membuktikan bahwa sehebat apapun motor buatan Honda, tentu suatu saat kelemahaannya bisa dibongkar dan dikalahkan walau harus bertahun-tahun menjalani persaingan sengit. Musim 2004 telah menjawab siapa juara balap motor kelas MotoGP-nya, sudah pasti Valentino Rossi yang memenangkan gelar pembalap kelas wahid di dunia ini.

Total 9 kemenangan dan 2 podium yang ditorehkan sudah membuat Rossi cukup kokoh menghadapi kepungan motor Honda yang dikendarai Max Biaggi, Sete Gibernau, Alex Barros, Nicky Hayden, Colin Edwards dan Makoto Tamada.

(Bersambung)

7/04/2019

Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 06)

Foto : Max Biaggi, mengendarai Yamaha YZR M1 di musim 2000


Kegagalan Max Biaggi merebut gelar juara dunia kelas 500cc dari tangan Valentino Rossi membuat Yamaha belum sepenuhnya menyerah. Pada tahun 2001 Yamaha sedang mengembangan sebuah motor untuk dipertandingkan dalam kompetisi musim 2002 dimana semua motor balap wajib menggunakan mesin 4 tak 990cc. 

Proyek Yamaha YZR M1 ini sudah dibicarakan sejak awal tahun 2001, targetnya motor ini akan diserahkan kepada Max Biaggi dan Carlos Checa sebagai motor pabrikan resmi.
Mengingat tidak semua pembalap Yamaha memakai motor YZR M1, karena Yamaha hanya memproduksi 2 unit saja untuk kedua pembalap tim Marlboro Yamaha. 

Maka pada tahun 2002, pembalap tim satelit sekelas Norick Abe, Jose Luis Cardoso, Pere Riba, Shinya Nakano, Olivie Jacque, John Hopkins dan Garry McCoy harus memakai motor YZR 500 buatan tahun 2001 yang sempat dikendarai Max Biaggi dan Carlos Checa. 
Tahun 2002 merupakan era baru dalam dunia balap dimana mesin 4 tak adalah regulasi resmi yang sudah digodog sejak tahun 1999. 

FIM menilai bahwa MotoGP harus seperti Superbike yang sudah terlebih dahulu memakai moto 4 tak sejak awal musim tahun 1988 silam. Persiapan Yamaha menghadapi kelas 4 tak yang masih baru ini terbilang tidaklah semulus saat menghadapi kelas 2 tak seperti dahulu.

Untuk berkompetisi dengan format 4 tak, Yamaha menggunakan mesin jenis Inline 4 yang hanya memasang 1 knalpot saja. Tidak seperti halnya Honda yang memakai mesin V4, mesin Inline 4 dibuat agar pembalap bisa langsung beradaptasi dengan motornya. 

Ditambah mesin Inline 4 yang diciptakan Yamaha dikenal ramah lingkungan dan mudah dibongkar-pasang oleh mekanik. Sebetulnya proyek mesin Inline 4 ini merupakan proyek sepele yang membuat Yamaha harus menunggu selama 2 tahun untuk bisa meraih gelar juara sejak tahun 1992 kala masih memakai mesin 500cc.

Max Biaggi hanya mengoleksi 2 kemenangan dan 6 podium yang membuatnya bertengger di posisi 2 klasemen, sedangkan Carlos Checa yang lebih lambat dari Biaggi cuma mengoleksi 4 podium sehingga menempatkannya pada posisi 5 klasemen. Bisa dibilang proyek di awal era baru yang dilakukan oleh Yamaha tidak begitu mengecewakan, sebab target mereka adalah tetap menempel dibawah Honda sekaligus membuka peluang untuk menggeser klasemen yang sempat diduduki Suzuki pada era 500cc. 
Di sisa musim tahun 2002, Olivier Jacque dan Shinya Nakano baru mendapat jatah motor YZR M1 pada GP Sepang, GP Motegi dan GP Philip Island. Sedangkan Norick Abe sempat mencicipi mesin YZR M1 pada awal pra musim, tapi kemudian sepanjang musim menggunakan mesin YZR 500 karena mesin baru harus dipakai Biaggi dan Checa. Norick Abe baru memakai mesin YZR M1 pada balapan GP Philip Island dan GP Valencia.

Di musim berikutnya pada tahun 2003, Yamaha akhirnya tampil dengan motor 4 tak diseluruh lini mulai dari tim pabrikan hingga tim satelit. Sayangnya pembalap andalan Yamaha, Max Biaggi keluar dari tim garputala untuk kembali reuni dengan Honda setelah berpisah sejak tahun 1998 silam. 

Kepulangan Max Biaggi ke Honda disebabkan oleh performa mengecewakan Yamaha dan celakanya sponsor utama mereka juga hengkang ke tim pabrikan pendatang baru, Ducati Corse. Philip Morris International selaku pemilik merek rokok Marlboro sudah membicarakan masa depan baru di kompetisi balap motor grand prix dunia bersama Ducati. 

Uniknya, pindahnya Marlboro ke Ducati juga diikuti oleh kepindahan bekas pembalap yang pernah mereka sokong yaitu Loris Capirossi kala masih membela Team Pileri pada tahun 1992-1995
Perubahan lini pembalap di kubu Yamaha kembali terjadi, Marco Melandri yang sebelumnya menjuarai kelas 250cc bersama Aprilia akhirnya naik kelas ke MotoGP lalu bergabung dengan tim Fortuna Yamaha Tech3 bersama Norick Abe dan Carlos Checa. 

Akhirnya tim pabrikan Yamaha di-isi oleh Alex Barros dan Olivier Jacque dengan sponsor barunya, Gauloises Blondes yang tadinya berada di Tech 3 Racing. Sedangkan tim Tech3 menggunakan bekas sponsor Daijiro Kato yaitu Fortuna untuk 3 musim mendatang.

Ironinya selama musim 2003, Yamaha tidak pernah menang sama sekali dan hanya meraih podium karena faktor Max Biaggi yang masih menjadi bayang-bayang. Meski semua motor tergolong baru, namun Yamaha tidak mampu berbuat banyak dan selalu saja dikalahkan oleh Honda yang sukses dengan RC 211V.

(Bersambung)

12/08/2018

Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 05)

Foto : Carlos Checa, Marlboro Yamaha Team 1999

Max Biaggi sebagai pembalap tim pabrikan ditunjuk sebagai calon juara dunia dan kemampuan balapnya cenderung individualis.
Max Biaggi terkenal sebagai pembalap yang angkuh dan tidak ramah pada penggemar, ditambah menurut kabar burung yang beredar selama ini bahwa Max Biaggi diperlakukan "Khusus" sebagai orang pertama yang mengendarai motor Yamaha YZR 500 dengan winglet.
Motor yang dikendarai Biaggi sering mengalami masalah terutama grip pada ban, walaupun begitu Biaggi menjadi satu-satunya kompetitor yang berterus terang sering bekerja sendirian demi sebuah gelar juara dunia tanpa bantuan sesama pembalap Yamaha.
Bahkan Biaggi pun tidak meminta bantuan dari rekan satu timnya, Carlos Checa dan Norick Abe yang menjadi pembalap motor spec pabrikan di tim satelit.

Ujung dari sikap individualis Max Biaggi dalam mencari cara untuk merebut gelar juara dunia, berbuah kegagalan saat dirinya sering gagal finish dan dikalahkan pembalap Suzuki, Kenny Roberts Jr.
Seusai gagal mengalahkan Kenny Roberts Jr yang dianggap "Melindungi" Alex Criville, Max Biaggi dikambing hitamkan oleh seluruh kru tim Yamaha. Norick Abe berkomentar bahwa untuk menjadi juara dunia harus ada dukungan dari kru balap dan juga kegeniusan memahami situasi terutama tipikal aspal sirkuit yang berbeda.
Yamaha Motor Company berusaha menyadarkan Max Biaggi agar tidak bekerja sendiri untuk meraih gelar juara, akhirnya tim pabrikan Yamaha memutuskan untuk mencari pembalap testing dan posisi vital ini jatuh kepada Norihiko Fujiwara, kakak kandung Katsuaki Fujiwara' pembalap tim Suzuki di World Superbike.
Selama melakukan testing, Norihiko Fujiwara dituntut untuk mengembangkan ketahanan motor Yamaha YZR 500 untuk semua pembalap agar bisa membantu Max Biaggi membenamkan dominasi motor Honda NSR 500.

Sebenarnya tidak hanya Norihiko Fujiwara saja yang melakukan testing, menjelang musim tahun 2000' Max Biaggi diundang ke sirkuit Suzuka untuk menjalani testing agar setelan motor bisa cocok dengan gaya balap sang roman emperor itu.
Seluruh pembalap Yamaha juga diundang, termasuk Regis Laconi dan Garry McCoy yang sudah bertandem sejak musim 1999 lalu.
Dalam testing ini, Norick Abe tidak diundang karena tim Antena 3 Yamaha D'antin masih menjalani test private di sirkuit Valencia dan Jerez. Hal ini diungkapkan Luis D'antin sendiri bahwa Norick Abe tidak mau ikut campur urusan Max Biaggi yang masih pelik dengan problema pribadi.

Kemudian, pasca testing para pembalap Yamaha menjalani acara launching di sirkuit Sepang untuk mengikuti testing akhir 2 bulan sebelum kompetisi dimulai.
Max Biaggi, Carlos Checa, Regis Laconi, Garry McCoy dan Norick Abe berpartisipasi dalam sebuah misi besar yakni menguasai klasemen konstruktor. Meski begitu, para pembalap memperoleh jenis mesin yang sama yakni pabrikan murni dengan catatan ialah penggunaan chassis dan frame sesuai selera. Max Biaggi dan Carlos Checa menggunakan chassis dan frame baru untuk motor Yamaha YZR 500 keluaran tahun 2000.

Regis Laconi dan Garry McCoy menggunakan chassis baru dan frame lama keluaran tahun 1999 lantaran gaya balap keduanya yang berbeda.
Sedangkan Norick Abe menggunakan mesin keluaran tahun 2000 dan memakai chassis lama untuk disesuaikan dengan gaya balap Abe yang cenderung lebih natural.
Yamaha punya misi penting untuk meredam dominasi Honda di kejuaraan dunia balap motor 500cc musim tahun 2000.

Musim balap tahun 2000 menjadi peristiwa penting yang membuat Yamaha Motor Company begitu percaya diri menghadapi para kompetitornya.
Dimulai saat GP Phakisa yang berlokasi di Afrika Selatan sukses dimenangkan Yamaha lewat pembalap tim satelit Red Bull Yamaha WCM, Garry McCoy dari Australia.
Disusul Norick Abe yang menjuarai GP Suzuka di Jepang, bahkan Yamaha secara bergantian menguasai podium 1-2-3 dan posisi 4-5-6. Ini membuktikan bahwa Yamaha YZR 500 cukup kompetitif menghadapi keperkasaan Honda NSR 500.
Meski pada waktu itu yang menjadi juara dunia musim 2000 adalah Kenny Roberts Jr dari tim Telefonica MoviStar Suzuki, Sedangkan Yamaha memperoleh kemenangan sebanyak 6 kali dalam semusim. 3 kemenangan diraih Garry McCoy, 2 kemenangan diraih Max Biaggi dan 1 kemenangan diraih Norick Abe. 6 kemenangan yang dihasilkan 3 pembalap ini cukup mengokohkan Yamaha di klasemen konstruktor. Sedangkan rival Yamaha sendiri yakni Honda juga sama-sama mengemas 6 kemenangan dan itu pun di dominasi pembalap tim satelit.

2 kemenangan diraih Valentino Rossi dari tim Nastro Azzurro Honda, 1 kemenangan diraih pembalap Loris Capirossi dari tim Emerson Honda Pons, 2 kemenangan diraih Alex Criville dari tim Repsol YPF Honda dan 1 kemenangan Alex Barros dari tim Emerson Honda Pons.

Namun, di musim balap 2001 menjadi tahun sulit Yamaha Motor Company. Masalahnya banyak pembalap yang tidak menggunakan motor baru lantaran tidak cocok dengan gaya balapnya.
Norick Abe konsisten memakai chassis dan frame tahun 2000, hal ini membuatnya tidak meraih satu kemenangan pun.
Garry McCoy yang mendapat jatah mesin bekas milik Max Biaggi yakni YZR 500 spec 2000 juga hanya meraih beberapa podium dan mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya patah tulang di Free Practice GP Le Mans, Prancis.
Marlboro Yamaha Team yang masih diperkuat Max Biaggi dan Carlos Checa rupanya bukan tandingan Valentino Rossi' Yamaha YZR 500 spec 2001 gagal menyingkirkan dominasi Honda NSR 500 spec 2001 yang dikendarai Valentino Rossi, Alex Criville dan pembalap pendatang baru asal Jepang' Tohru Ukawa.

Max Biaggi hanya memenangkan GP Le Mans, GP Assen dan GP Sachsenring. Tahun 2001 menjadi awal kemunculan tim baru di kelas 500cc yakni Tech3 Racing sebagai bagian dari Yamaha.
Dengan duo andalannya' Shinya Nakano dari Jepang dan Olivier Jacque dari Prancis didaulat sebagai pembalap tim satelit yang peranannya masih belum membantu menyelamatkan Yamaha.
Motor yang dipakai tim Tech3 adalah motor Yamaha YZR 500 spec 2000 dan dimodifikasi dengan penambahan frame dari tim pabrikan dan chassis keluaran tahun 2001.
Usaha tim Tech3 tidak sia-sia, Shinya Nakano tampil impresif dan berhasil menyabet gelar Rookie of The Year oleh FIM dan Dorna Sports.

(Bersambung)

11/11/2018

Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 04)

Gambar : Yamaha YZR 500, 1999

Sejak saat itulah Kenny Roberts mendirikan tim independen yang merupakan proyek ambisius Modenas Malaysia untuk tampil di GP 500. Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts Junior menjadi duet maut untuk tim besutan juara dunia 3 kali tersebut.
Lepasnya sponsor dari tim Yamaha, membuat Norick Abe berlaga tanpa livery ikonik merah putih. Akhirnya tim Yamaha menggunakan livery tradisional yakni merah hitam.
Untuk mendampingi Norick Abe, Wayne Rainey memilih pembalap asal Spanyol' Sete Gibernau. Namun, sepanjang musim 1997 ternyata tim Yamaha gagal merengkuh gelar juara.

Musim 1997 merupakan tahun terburuk bagi Yamaha karena tidak satupun seri balap dimenangkan oleh pembalap-pembalapnya. Norick Abe yang menjadi andalan hanya mampu merengkuh podium, sedangkan rekan satu timnya' Sete Gibernau gagal mendekati posisi 10 besar klasemen. Hal ini disebabkan adaptasi Sete Gibernau dengan motor Yamaha YZR 500 agak lamban, bahkan menurut Sete Gibernau sendiri saat diwawancarai oleh wartawan mengatakan bahwa Yamaha YZR 500 tidak cocok untuk gaya balapnya.

Kecepatan dan Stir menjadi masalah yang membuat Sete Gibernau sering bermasalah dengan motornya' Wayne Rainey akhirnya mengambil keputusan untuk memecat Sete Gibernau seusai musim 1997. Dan pada tahun 1998, Sete Gibernau direkrut Repsol Honda Team untuk menggantikan Takuma Aoki yang pensiun dini akibat kecelakaan fatal.

Selepas dipecatnya Sete Gibernau, Yamaha segera merekrut Luca Cadalora lagi untuk menemani Norick Abe. Direkrutnya Luca Cadalora sebagai pendamping Norick Abe merupakan opsi darurat yang dinilai menyelamatkan wajah tim Yamaha. Pasalnya, Norick Abe harus dibantu Luca Cadalora agar Yamaha bisa kembali bersaing dengan Honda.

Sementara itu, tim lama Luca Cadalora yang bernama Red Bull Yamaha WCM akhirnya merekrut Simon Crafar dari Australia dan Regis Laconi dari Perancis sebagai pembalap pendukung.
Team Yamaha Rainey dan Red Bull Yamaha WCM menjadi 2 tim resmi Yamaha Racing Company di gelaran balap 500cc. Lucunya, di GP Donington Park justru pemenangnya adalah Simon Crafar dari tim Red Bull Yamaha WCM yang notabene tim satelit dengan menggunakan mesin pabrikan. Ini adalah kemenangan perdana Yamaha dengan tim satelit, karena sejauh ini baru Honda yang pernah menang dengan tim satelit.

Norick Abe dan Luca Cadalora merasa malu atas kemenangan Simon Crafar di GP Donington, apalagi kedua pembalap itu adalah punggawa tim pabrikan resmi. Bahkan secara mengejutkan, Norick Abe sering dikalahkan Max Biaggi yang notabene pendatang baru.
Penampilan Max Biaggi di gelaran balap 500cc yang begitu impresif dan pernah mengalahkan juara kala itu, Mick Doohan di GP Suzuka' membuat Yamaha Motor Company berniat merekrutnya.
Isu bergabungnya Max Biaggi dengan Yamaha berhembus sejak pertengahan musim 1998. Tentu ini membuat Norick Abe ketar-ketir akibat perfomanya sepanjang musim tidak kunjung merengkuh kemenangan.

Maka terbuktilah apa yang dirasakan Abe, Max Biaggi benar-benar sudah direkrut Yamaha sebagai pendampingnya. Lantas apa mau dikata, Norick Abe pun mulai merasa harus undur diri dari tim besutan Wayne Rainey. Norick Abe akhirnya turun pangkat dari pembalap tim pabrikan ke tim satelit, namun sekali lagi justru Norick Abe malah diperlakukan secara istimewa.
Norick Abe bekerjasama dengan Luis D'Antin mendirikan tim balap untuk menyaingi Max Biaggi. Tim balap itu disponsori oleh stasiun televisi asal Spanyol, Antena 3 Televicion.
Norick Abe rela merogoh kocek tinggi demi mendapat motor yang derajatnya setara dengan motor milik Max Biaggi. Dan akhirnya Norick Abe siap berkompetisi menandingi Max Biaggi dalam gelaran balap 500cc pada musim 1999.

Musim 1999 menjadi sebuah persaingan ketat antara Honda dan Yamaha serta Suzuki dalam merebut Juara Konstruktor. Pasalnya, di GP Jerez sebuah kabar buruk menimpa Repsol Honda Team. Mick Doohan yang merupakan juara dunia periode 1994-1998 harus pensiun dini akibat cidera kaki saat mengikuti kualifikasi.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Max Biaggi yang kala itu akhirnya dikontrak Yamaha Motor Company sebagai pembalap tim pabrikan. Uniknya, sponsor lama tim Yamaha berhasil kembali ke pelukan setelah 2 tahun hengkang akibat konflik antara Wayne Rainey dengan Kenny Roberts Sr.

(Bersambung)

Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 03)

Gambar : Yamaha YZR 500, 1996-1997

Yamaha Motor Company lantas melakukan gebrakan yang mencengangkan dengan menyiapkan 4 unit motor YZR 500 spec factory untuk musim 1996.
Kenny Roberts Sr menunjuk Jean Michel Bayle dari Perancis dan mantan juara dunia kelas 125cc 1990 dan 1991 dari pembalap tim Honda Pileri, Loris Capirossi sebagai duo pelengkap di kubu Yamaha Roberts Team. Norick Abe kembali menjadi joki utama Yamaha dengan duet barunya yakni Kenny Roberts Jr (putra Kenny Roberts Sr) yang baru naik kelas ke kategori 500cc usai berduet dengan Tetsuya Harada di kelas 250cc musim 1995.

Yamaha benar-benar mulai serius menjadi kontender utama Honda, bahkan Abe dan Capirossi mendapat perhatian khusus dari kepala mekanik dengan menggunakan 2 jenis motor spec factory yang untuk pertama kalinya di desain oleh komputer.
Perangkat buatan Magneti Marelli dipasang untuk meningkat performa motor agar tetap bertahan meski mesin mulai panas.

Dan lagi-lagi, Yamaha kembali menduduki runner up konstruktor championship dan kembali merengkuh 2 kemenangan. Lucunya, inilah untuk pertama kalinya Norick Abe meraih kemenangan perdananya secara emosional di GP Suzuka 1996 hingga meneteskan air mata usai mengalahkan Mick Doohan dan Alex Criville. Dan yang paling berkesan adalah kemenangan perdana sekaligus yang terakhir Loris Capirossi di GP Eastern Creek pada gelaran GP 500, kemenangan yang menegangkan itu diwarnai kecelakaan duo Repsol Honda antara Mick Doohan dan Alex Criville di lap akhir.
Kemenangan perdana Loris Capirossi bersama Yamaha diikuti oleh podium kedua yang diraih Carlos Checa' pembalap tim Fortuna Honda Pons dan podium ketiga yang direbut oleh Tadayuki Okada dari tim Repsol Honda.

Kegagalan Yamaha merengkuh puncak klasemen konstruktor membuat tim garputala tersebut mulai diguncang kisruh dan perpecahan internal. Akibatnya, banyak karyawan dan kru tim Yamaha mulai terkotak-kotak akibat konflik tersebut. Kenny Roberts Sr dan Wayne Rainey saling berseteru karena tidak mau mengalah demi menentukan formasi duet untuk musim balap 1997.

Konflik antara Kenny Roberts dan Wayne Rainey membuat tim Marlboro Yamaha bubar, penyebabnya hanya ada satu' yakni gagalnya Loris Capirossi berduet dengan Norick Abe.
Rencananya Norick Abe akan berduet dengan Loris Capirossi, sebagai imbas dari dijodohkannya kedua pembalap berbakat itu, maka Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts Junior dipecat.
Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts Junior enggan dipecat dari tim Yamaha lantaran penampilan tidak konsisten keduanya, Norick Abe dan Loris Capirossi yang nantinya berduet untuk musim 1997 gagal disatukan lantaran keputusan tim Yamaha untuk memecat Bayle dan Roberts Junior.

Kenny Roberts selaku manajer tim tidak setuju dengan keputusan Yamaha Motor Company memecat pembalap asal Perancis dan Amerika Serikat itu. Sebagai wujud kekecewaan, Pihak Kenny Roberts bertikai dengan pihak Wayne Rainey lantaran Loris Capirossi tetap dipertahankan.
Norick Abe yang sudah perpanjang kontrak akhirnya gagal berduet dengan Loris Capirossi, maka Kenny Roberts menyatakan walk out dari tim Yamaha dan menjalin kerjasama dengan Modenas Malaysia untuk mengembangkan mesin 500cc.
Akhirnya, tim Yamaha hanya menyisakan Wayne Rainey sebagai manajer dan Norick Abe sebagai pembalap tunggal.

(Bersambung)