4/05/2024
Antara Capirex, Rossifumi dan Cool Devil
5/13/2022
Kisah Sukses Tetsuya Harada, Juara Dunia Berstatus Debutan
Dunia mengenalnya sebagai pembalap muda berbakat dan hebat pada masanya, dialah Tetsuya Harada dari Jepang. Musim 1993 merupakan tahun debutnya di kejuaraan dunia setelah hampir 3 tahun menghabiskan waktu sebagai pembalap wildcard dan pembalap kejurnas All Japan Road Racing Championship.
Harada saat itu memiliki keinginan untuk segera tampil di kejuaraan dunia kelas 250cc secara utuh tanpa harus lagi menjadi wildcard rider. Belakangan Harada mulai kelimpungan mencari tim yang mau merekrutnya karena ia sudah dibekali mesin pabrikan baru buatan Yamaha dengan kode TZ 250M. Harada, berhasil menemukan tim balap yang berminat meminangnya, ialah tim Valesi Racing. Valesi Racing bermarkas di Italia yang didirikan oleh mantan pembalap kawakan Alessandro Valesi.
Ketika hendak dikontrak sebagai pembalap, status tim Valesi Racing masih merupakan tim satelit Aprilia Grand Prix Racing. Sehingga mau tidak mau Harada harus mengendarai motor Aprilia AF1 yang bermesin jenis Rotax. Namun, ketika menjajal mesin jenis Rotax, Harada mengaku kurang sreg dengan motor tersebut.
Manager Tetsuya Harada mengusulkan kepada Valesi Racing untuk menggunakan mesin Yamaha dibanding mesin Aprilia yang waktu itu belum menunjukkan taji di baris terdepan. Mulanya, Alessandro Valesi menolak usulan tersebut karena ia selaku pimpinan tim belum siap pindah pabrikan karena masih ada durasi kontrak yang belum habis.
Tapi, manager Tetsuya Harada tetap ngotot untuk segera mengganti mesin Aprilia ke Yamaha demi kelangsungan karir pembalap asal Jepang tersebut. Kalau tidak, Harada bisa batal tampil di kejuaraan dunia kalau permintaannya tidak dituruti karena Harada sendiri adalah pembalap utama Yamaha di kelas 250cc kategori nasional.
Valesi Racing akhirnya mau menuruti keinginan Harada dan Yamaha mengingat saat itu dominasi motor Honda sangat tangguh yang berbekal mesin V-Twin. Apalagi dua musim berturut-turut Honda menjuarai kelas 250cc lewat Luca Cadalora sebagai aktor utamanya.
Yamaha butuh bantuan teknis dari tim yang bermarkas di Eropa untuk bisa bersaing dengan tim-tim yang bekerjasama dengan Honda. Perlu diketahui bahwa Honda sudah terbilang dominan dan tangguh diseluruh kelas. Motor balap buatan HRC laku keras mulai dari spek privateer hingga spek pabrikan terbaru.
Yamaha tidak tinggal diam karena mereka ingin sekali menggusur dominasi Honda yang hampir merata di segala kategori kompetisi. Valesi Racing tentu bisa membantu Yamaha untuk mewujudkan keinginan Harada tapi dengan syarat harus segera menyediakan uang muka pendaftaran untuk calon pembalap pendatang baru.
Tanpa pikir panjang, sponsor Tetsuya Harada yakni ARAI (mere helm) menggelontorkan dana segar untuk memuluskan karirnya. Tidak butuh waktu lama, Tetsuya Harada segera melakukan tes privat di Italia dan Spanyol. Berbekal motor Yamaha TZ 250M, Harada begitu percaya diri menghadapi test privat yang diselenggarakan pada bulan Februari 1993.
Catatan waktu Harada lumayan apik, hanya selisih dari Max Biaggi dan Loris Capirossi yang melakukan test privat di Spanyol. Mengingat Max Biaggi adalah mantan pembalap Valesi Racing yang berkompetisi di musim sebelumnya, kemudian pindah ke Rothmans Kanemoto Honda pada musim selanjutnya menggantikan Luca Cadalora yang promosi ke kategori 500cc.
Loris Capirossi sendiri sudah menjalani debut setahun lalu bersama tim Marlboro Pileri Honda sebagai pendatang baru terbaik musim 1992. Kali ini memasuki musim 1993, Capirex digadang-gadang bisa menjadi juara dunia untuk mengulang kesuksesan di musim 1990 dan 1991 saat masih di kelas capung 125cc.
Tetsuya Harada amat diremehkan oleh pihak media massa di Eropa, karena Harada merupakan pembalap yang mengendarai motor baru dan tentu belum dianggap hebat dan kompetitif meski hasil tes privat cukup memberi bukti nyata.
Yamaha menjamin bahwa motor Yamaha TZ 250M bisa bersaing menghadapi dominasi motor Honda NSR 250 yang katanya disebut-sebut sebagai motor terkuat di kelasnya. Sampai suatu ketika pembuktian Yamaha diuji saat seri perdana kejuaraan kelas 250cc digelar pada hari Minggu, 28 Maret 1993 di sirkuir Eastern Creek, Australia.
Motor baru, Pembalap baru dan semangat baru' itulah yang sedang diperlihatkan oleh Valesi Racing kepada dunia bahwa ada sosok baru mencuri perhatian penonton. Tetsuya Harada disorot dari berbagai sudut karena menjadi idola baru sembari menghadapi musim debutnya sebagai pembalap kejuaraan dunia secara utuh.
Tetsuya Harada dikepung 4 pembalap Italia, mereka adalah Max Biaggi (Rothmans Honda Kanemoto), Loris Capirossi (Marlboro Pileri Honda), Doriano Romboni (HB Honda Italy) dan Loris Reggiani (Unlimited Jeans Aprilia).
Tetsuya Harada memberi pembuktian bahwa motor Yamaha bisa juara di kelas 250cc meski motornya terkenal lambat dan tidak punya tenaga besar layaknya Honda. Beruntung, Tetsuya Harada berhasil mengalahkan para pembalap Italia itu dan merengkuh kemenangan perdananya sebagai debutan pada tahun 1993.
Total sepanjang musim 1993, Tetsuya Harada mengoleksi 4 kemenangan dan 3 podium dengan jumlah 197 poin di puncak klasemen. Sedangkan rival terdekatnya, Loris Capirossi hanya mengoleksi 3 kemenangan dan 4 podium dengan jumlah 193 poin di bawah pemuncak klasemen sebagai runner-up.
*****
3/15/2022
Jejak MotoGP Di Sirkuit Sentul Selama Dua Tahun
| Aprilia RS 125 |
1/31/2022
22 Tahun Yang Lalu, Yamaha Pernah Juara Di Kelas 250cc Bersama Tech 3
| Yamaha TZ 250 M, Tetsuya Harada, Yamaha Motor France |
12/11/2021
18 Tahun Yang Lalu, Ducati Masuk MotoGP
| Ducati Desmocedici 06, Loris Capirossi |
10/12/2020
Modenas KR3, Motor Balap 3 Silinder Buatan Malaysia Yang Gagal Bersinar (Part 02/END)
Marlboro selaku sponsor resmi Modenas cuma bisa diperas habis-habisan oleh Kenny Roberts untuk mewujudkan ambisinya sebagai tim balap terkuat di dunia. Untuk meluluskan ambisinya itu, Kenny Roberts memecat Jean Michel Bayle dan merekrut pembalap baru asal Jerman yaitu Ralf Waldmann.
Ralf Waldmann yang semula menjadi rekan setim Max Biaggi di tim Kanemoto Racing digaet sebagai tandem Kenny Roberts JR. Kemampuan Waldmann sebagai pembalap cukup hebat bahkan mencetak kemenangan dan podium sejak membalap di kelas 250cc sebagai motivasi untuk lebih baiknya performa motor Modenas KR3.
Sebetulnya di musim 1998, ada peningkatan kekuatan dan stabilitas pada mesin setelah bergabungnya Ralf Waldmann. Bahkan Waldman pernah masuk Top 10 dalam free practice selama 2 hari sebelum seri balapan dimulai. Waldmann sangat hebat karena bisa mengembangkan kemampuan motor sehingga posisi motor Modenas bisa hampir sejajar dengan motor tim satelit milik Honda dan Yamaha.
Waldman dikontrak 2 tahun karena berjasa mengembangkan mesin 3 Silinder milik Modenas agar lebih kompetitif dan lebih mengigit seperti Aprilia RSV 400 yang dikendarai pembalap Italia, Doriano Romboni.
Jujur saja, selama seri berlangsung Waldmann mampu konsisten di klasemen Top 10 bahkan melampaui Kenny Roberts JR yang masih belum menemukan kehebatannya. Sayangnya dari segi klasemen memang Waldmann berada di bawah putra Kenny Roberts SR meski performanya berkembang dari seri ke seri.
Rald Walmann sempat mengalami cedera saat free practice di Assen sehingga absen satu seri, akibat absennya itu posisi klasemen pembalap asal Jerman itu disalip oleh Kenny Roberts JR.
Waldmann mengakhiri musim sebagai rookie dengan menduduki posisi 14 di klasemen dengan mengoleksi 46 poin. Sedangkan Kenny Roberts JR setingkat diatas Waldman dengan mengoleksi 59 poin dan bertengger di posisi 13 klasemen.
Kenny Roberts SR akhirnya mengakui bahwa mesin Modenas sangat buruk dan tidak memberikan perlawanan berarti bagi tim-tim lainnya. Akhirnya Modenas angkat kaki dari kelas 500cc akibat masalah keuangan dan tunggakan gaji karyawan Modenas di Malaysia yang belum lunas akibat dilema krisis moneter yang melanda Asia antara tahun 1997-1998.
Modenas sudah malas meladeni tim balap manapun sekali pun Modenas sedang dilirik oleh tim lain sebagai pengganti tim balap milik Kenny Roberts SR. Bahkan yang lebih ngenes lagi, Marlboro selaku sponsor utama tim harus minggat karena keburu dikontrak Max Biaggi sebagai sponsor pribadi sekaligus sponsor baru Yamaha.
Marlboro pulang kampung ke Yamaha setelah 2 tahu disiksa oleh Modenas yang berambisi menjadi motor terkuat di dunia. Itulah sepenggal kisah tentang motor Modenas KR3 yang pernah ikut mencicipi persaingan di MotoGP khususnya GP 500.
(Tamat)
Modenas KR3, Motor Balap 3 Silinder Yang Gagal Bersinar Buatan Malaysia (Part 01)
Kalau kita ingat Malaysia, yang terpikir dalam benak sudah tentu soal bidang olahraganya demikian maju melebihi Indonesia. Apalagi kalau soal olahraga otomotif, Malaysia dibilang paling berani dan nekad meski industrinya masih didanai oleh negara tidak seperti halnya Jepang yang kebanyakan perusahaannya berstatus swasta.
Modenas adalah perusahaan sepeda motor nasional milik Malaysia yang tergolong perusahaan BUMK atau Badan Usaha Milik Kerajaan dengan gagahnya turun di Kejuaraan Balap Motor Dunia 500cc dengan menggaet Kenny Roberts SR sebagai team manager.
Modenas turun penuh di GP 500 pada tahun 1997 setelah sponsornya, Marlboro hengkang dari tim pabrikan Yamaha seusai musim 1996. Hal ini dipicu oleh konflik internal antara Kenny Roberts SR dengan para petinggi Yamaha yang lebih sayang kepada pembalap magang asal Italia, Loris Capirossi (Juara Dunia 125cc Tahun 1990-1991).
Alasannya memang Yamaha lebih senang menduetkan Loris Capirossi dengan pembalap asal Jepang Norick Abe yang merupakan pembalap binaan Yamaha. Kenny Roberts SR malah ingin menduetkan Norick Abe dengan putranya sendiri, Kenny Roberts JR.
Negosiasi kontrak berjalan alot, Kenny Roberts SR ingin anaknya dipertahankan oleh Yamaha lantaran adanya aliran dana dari sponsor. Namun, setelah hasil balapan selama semusim cukup mengecewakan, Kenny Roberts JR dan Jean Michel Bayle dipecat karena tidak bisa meraih kemenangan dan hanya podium.
Kemarahan Kenny Roberts SR kepada Yamaha memuncak setelah ia resmi hengkang dari tim asal Iwata tersebut dan memilih berdikari sebagai tim independen. Al hasil Kenny Roberts menemukan supplier motor yang potensial yakni Modenas.
Modenas muncul sebagai kompetitor baru di level balap teratas dunia, berkat dana sponsor yang berlimpah ruah dari Marlboro' Modenas digaet sebagai mitra sekaligus memindahkan markas tim dari Eropa ke Asia, tepatnya di Malaysia. Pengembangan motor diserahkan kepada Ilmor Engineering dan dilakukan di sirkuit Donington Park.
Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts JR disokong sebagai pembalap utama di tim ini dan mendapat kesempatan untuk menjajal motor buatan Modenas. Perusahaan sepeda motor ini telah menciptakan sebuah motor yang bermesin 400cc 3 Silinder. Setelah motor ini diciptakan dan diluncurkan di Auditorium Sirkuit Shah Alam pada awal 1997.
Motor ini diberi nama Modenas KR3, karena motor ini memakai mesin 3 silinder dan diyakini bisa menandingi motor Honda NSR 500 V yang notabene motor kelas dua untuk pembalap privateer. Kenny Roberts sesumbar dia bisa mengalahkan Honda NSR 500 V lantaran berbeda teknologi yang cukup jauh.
NSR 500 V adalah motor 2 Silinder yang bertenaga pas-pasan namun jago menyalip di tikungan, buktinya Tadayuki Okada berhasil meraih pole di GP Malaysia 1996 meski akhirnya gagal finish akibat masalah mekanik lantaran motornya belum sempurna.
Modenas KR3 diharapkan bisa menjadi motor terkuat, setidaknya menjadi rival dekat motor Honda NSR 500 V yang kala itu dikendarai Alex Barros di Tim Gressini dan Takuma Aoki di Tim Repsol Honda HRC.
Namun ketika musim 1997 bergulir, hasilnya amat sangat mengecewakan' Kenny Roberts JR dan Jean Michel Bayle tidak mampu berkata banyak saat motor-motor 4 Silinder berstatus spek satelit mengasapi motor Modenas KR3.
Hasil akhir menunjukkan, Kenny Roberts JR menduduki posisi 16 dan mengoleksi 37 poin di klasemen. Sedangkan Jean Michel Bayle malah dibawah pembalap asal Australia, Anthony Gobert yang mengendarai Suzuki RGV 500 dengan mengoleksi 31 poin dan bertengger di posisi 18.
Hasil negatif ini membuktikan bahwa motor Modenas belum berpengalaman di dunia balap internasional bahkan proyek motor balap ini dianggap sebagai pemborosan dana negara.
Meski dicibir begitu, Kenny Roberts SR tidak gentar dengan hasil yang mengecewakan dari motor Modenas bahkan ia berencana ingin menambah dana lagi guna menyempurnakan proyek gila ini.
(Bersambung)
7/15/2020
Pol Espargaro, Calon Rekan Marc Marquez Musim 2021
Yamaha ternyata lebih suka pembalap dari pabrikan lain dibanding pembalap satelitnya sendiri karena tuntutan dari manajemen.
Yamaha ingin seperti Honda yang selalu berprestasi dengan pembalap-pembal
Maverick Vinales sejatinya masih punya kans untuk bertahan di Suzuki karena motor GSX 1000 RR sudah nyaris sempurna. Namun, tawaran yang diberikan Yamaha cukup menggiurkan sehingga dengan mudanya Vinales pindah.
Nyatanya, Maverick Vinales justru senasib dengan seniornya dulu' Carlos Checa yang juga semula digadang-gadang
Nasib Carlos Checa berubah semenjak diajak Max Biaggi menunggangi Yamaha dan nasibnya cuma sekedar sebagai penggembira.
Jelas nyata antara Maverick Vinales dan Carlos Checa itu memiliki kesamaan meski bedanya Checa tidak juara MotoGP malah sukses menjuarai WSBK pada tahun 2011.
Vinales yang bermodalkan gelar juara di Moto3 malah bisa bergabung dengan Yamaha yang sejatinya cuma dihuni pembalap senior berpengalaman sekaliber Valentino Rossi.
Pol Espargaro ditipu oleh Yamaha, akhirnya pindah ke KTM yang kebetulan memulai debutnya di MotoGP lewat management Ajo Motorsport.
Pol Espargaro tidak yakin dirinya bisa pisah secara baik-baik dengan KTM lantaran performa motor RC16 dari tahun ke tahun makin meningkat bahkan menyumbang podium di GP Valencia 2019 lalu.
Soal performa, Motor RC213V memang paling kuat dalam segala hal karena racikan Livio Suppo yang pernah memberikan kontribusi pesatnya motor.
Repsol Honda harus segera mungkin menentukan pilihan agar kelak tidak membuat blunder saat waktu merekrut Jorge Lorenzo. Sebab, pengalaman bukan hanya satu modal untuk menunggangi motor V4 milik Honda, tapi juga keberanian yang tidak terbatas agar bisa bersaing meski tidak harus menang.
6/18/2020
Team KR, Penguasa Grand Prix 500cc (Bagian II-Selesai)
Kenny Roberts beserta management memutuskan untuk berkolaborasi dengan pabrikan motor asal negeri jiran Malaysia, Modenas Motorcycle. Modenas menjadi supplier motor sekaligus pabrikan resmi untuk Team KR dengan motor baru hasil rancangan Ilmor-Modenas di Inggris. Motor tersebut diberi nama Modenas KR3, pembalap yang berkompetisi bersama Team KR adalah Jean Michel Bayle dan putra kandung Kenny Roberts Sr sendiri, Kenny Roberts Jr.
Sayangnya motor Modenas KR3 memiliki perfoma yang kurang memuaskan bahkan terbilang lebih buruk dibanding Aprilia RSW-2 yang kala itu dikendarai mendiang Doriano Romboni.
Bahkan proyek tendensius antara Team KR dan Modenas Motorcycle dibilang gagal total bahkan ada isu yang berhembus bahwa Philip Morris akan hengkang dari Team KR atas prestasinya yang anjlok pasca tidak memakai motor Yamaha lagi.
Namun, kontrak dengan Modenas masih setahun lagi. Akhirnya tim tersebut hanya merombak pembalapnya saja. Kenny Roberts Jr masih bertahan di tim itu malah ditemani mantan rekan setim Max Biaggi, dialah mendiang Ralf Waldmann.
Sedangkan Jean Michel Bayle kembali ke Yamaha setelah diundang oleh Wayne Rainey untuk menggantikan Sete Gibernau yang pindah ke Repsol Honda pasca insiden patah kaki pembalap asal Jepang, Takuma Aoki dalam sesi tes pra musim.
Modenas mungkin untuk terakhir kalinya berkompetisi di Kelas 500cc pada tahun 1998 akibat krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara kala itu, maka pada akhir tahun tersebut Modenas angkat kaki dari kejuaraan dunia balap motor 500cc demi menyelamatkan keuangan perusahaan.
Prestasi yang jauh panggang daripada api menjadi faktor mundurnya Modenas sebagai supplier motor untuk Team KR. Untungnya Team KR bergerak cepat dengan menggandeng supplier baru sesama pabrikan Malaysia yaitu Proton.
Proton dijadikan mitra baru untuk pengembangan motor KR3 generasi ketiga untuk musim 1999. Sayangnya ini menjadi musim terakhir Philip Morris bekerjasama dengan Team KR setelah sponsor itu dirayu oleh Yamaha untuk kembali memperkuat tim garputala dari Iwata tersebut.
Team KR, Penguasa Grand Prix 500cc (Bagian I)
Kurang lebih selama 9 tahun tim ini menjadi kekuatan utama bagi Yamaha karena waktu itu pabrikan asal Iwata, Jepang ini tidak punya pabrikan resmi seperti Honda yang sudah memiliki tim resmi sejak tahun 1984 setelah berdirinya HRC (Honda Racing Corporation).
Bermodalkan motor Yamaha TZ 250, tim ini banyak belajar dari tim balap milik Giacomo Agostini yang pada waktu itu merupakan tim resmi Yamaha. Sukses di kelas 250cc, Team KR langsung mengajukan promosi ke kategori kelas 500cc yang kala itu masih merupakan kelas tertinggi.
Tahun 1987, Team KR menjadi tim satelit Yamaha setelah tim milik Giacomo Agostini didaulat sebagai tim pabrikan murni.
Karena terbentur aturan bahwa tim satelit tidak boleh pakai sponsor yang sama dengan tim pabrikan. Team KR memutuskan untuk ganti sponsor, kali ini yang menjadi sponsor adalah perusahaan rokok British American Tobacco. Ironinya, British American Tobacco merupakan rival bisnis Philip Morris yang merupakan sponsor resmi tim milik Giacomo Agostini.
Performa Team KR mengalami peningkatan seiring berjalannya kompetisi, tak ayal malah jadi sumber konflik yang menyebabkan Giacomo Agostini beralih pabrikan dari Yamaha ke Cagiva setahun kemudian. Kenny Roberts Sr. Diangkat sebagai manager baru tim pabrikan Yamaha seusai Cagiva bekerja sama dengan tim milik Giacomo Agostini.
Imbasnya adalah sponsor, Yamaha lebih memilih disponsori Philip Morris dibanding British American Tobacco. Maka pada tahun 1990, Philip Morris menjadi sponsor tunggal tim pabrikan Yamaha. Sedangkan British American Tobacco memilih ikut Suzuki dengan pembalap andalannya Kevin Schwantz.
4/05/2020
Ternyata Marlboro Pernah Jadi Sponsor Pabrikan Selain Yamaha
Waktu itu Yamaha protes karena corak livery nya mirip, untuk membedakannya Honda menambahkan sponsor lain yaitu Repsol sebagai pembeda yang mana Yamaha dan yang mana Honda. Sebetulnya pada waktu itu organisasi balap motor dunia, FIM sempat melarang tim-tim balap menggunakan livery sponsor yang sama dengan tim pabrikan lain untuk mencegah duplikasi dan hal-hal masif secara ilegal.
Namun Dorna Sports dan Flammini Group selaku operator kejuaraan tidak mempermasalahkan livery yang serupa, karena itu adalah hak setiap tim dalam berkompetisi dan mempromosikan produk-produk yang menyeponsori setiap pembalap.
Motor Yamaha berlivery Marlboro menggunakan merek oli Castrol, sedangkan Motor Honda milik Alex Criville berlivery Marlboro tetapi menggunakan merek oli Repsol.
Loris Capirossi dipaksa naik kelas oleh Marlboro karena harus memperoleh pendapatan untuk memperbanyak angka penjualan rokok tersebut khususnya di Italia.
Naik kelasnya Loris Capirossi sempat menimbulkan ketidakpercayaa
Namun, Max Biaggi mengaku belum siap balapan di kelas 500cc lantaran masih betah dan belum ada tawaran dari tim-tim kelas 500cc. Sehingga Max Biaggi menjuarai kelas 250cc empat kali berturut-turut bersama Aprilia dan Honda.
Lagi-lagi Yamaha protes, tim satelit Honda Pileri menggunakan livery yang sama ketika Pons Racing berlaga pada tahun 1993 silam.
Untungnya motor Honda milik Capirossi menggunakan merek oli buatan Perancis, ELF dan knalpot bermerek Polini asli Italia. Setelah kontraknya dengan tim Honda Pileri habis, Capirex hengkang ke Yamaha untuk mencicipi mesin pabrikan dan tentu kembali memakai livery yang sama.
Sayangnya, Capirossi harus turun kelas pada tahun 1997 akibat konflik internal yang melanda Yamaha. Kenny Roberts Sr hengkang dari Yamaha setelah cekcok dengan petinggi Yamaha gara-gara kontrak anaknya, Kenny Roberst Jr diputus.
Alhasil Kenny Roberts membawa serta sponsornya keluar dari tim garputala dan bekerjasama dengan perusahaan asal Malaysia, Modenas.
Marlboro sebagai sponsor tentu lebih menuruti keinginan juara dunia 3 kali itu sebagai wujud balas dendam dan ingin membuktikan bahwa Kenny Roberts bisa juara tanpa harus mengandalkan motor Yamaha YZR 500.
Marlboro menyeponsori tim milik Kenny Roberts yang bekerjasama dengan Proton selama 2 tahun, namun sayangnya mesin balap buatan Modenas yang bernama Modemas KR3 yang menggunakan mesin 3 silinder (Serupa Dengan Aprilia RSV 400 V3) dinilai gagal memenuhi ekspektasi dan hanya membuang banyak uang.
Dan disaat yang sama, muncullah tim balap yang sukses menggondol gelar juara kelas 250cc' Kanemoto Racing kembali naik kelas pada tahun 1998 setelah setahun berkompetisi di kelas menengah bersama dua pembalap andalannya yaitu Max Biaggi (Italia) dan Ralf Waldmann (Jerman).
Max Biaggi didaulat sebagai pembalap tunggal dan Ralf Waldmannhengkang dari tim Kanemoto lantas bergabung dengan tim milik Kenny Roberts guna menggantikan posisi Jean Michel Bayle yang rujuk dengan Yamaha.
Max Biaggi dengan percaya diri menggeber motor Honda NSR 500 dengan livery rokok Marlboro yang setahun lalu ia pakai di kejuaraan kelas 250cc. Max Biaggi mengulang apa yang dilakukan Loris Capirossi dan Alex Criville di masa lalu' ia ingin membuktikan bahwa bukan tidak mungkin livery motor Honda bisa menyatu dengan motor Honda.
Tidak disangka secara mengejutkan Max Biaggi menjadi pemenang seri perdana di Sirkuit Suzuka, Jepang setelah mengalahkan beberapa pembalap tim pabrikan sekelas Mick Doohan dan Alex Criville. Publik seakan tidak percaya dengan debut sensasional Max Biaggi di kelas utama' mengingat dirinya sudah mengantongi 4 gelar juara dunia kelas 250cc empat kali beruntun.
Sejak saat itu Marlboro mulai secara penuh kembali memakai Marlboro sebagai sponsor hingga tahun 2002. Dan kemudian Marlboro menjadi sponsor utama tim pendatang baru Ducati Corse pada tahun 2003 saat era motor 4 tak dimulai sampai hari ini.
1/06/2020
Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 08/END)
9/19/2019
Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 07)
7/04/2019
Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 06)
Ironinya selama musim 2003, Yamaha tidak pernah menang sama sekali dan hanya meraih podium karena faktor Max Biaggi yang masih menjadi bayang-bayang. Meski semua motor tergolong baru, namun Yamaha tidak mampu berbuat banyak dan selalu saja dikalahkan oleh Honda yang sukses dengan RC 211V.
12/08/2018
Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 05)
Max Biaggi terkenal sebagai pembalap yang angkuh dan tidak ramah pada penggemar, ditambah menurut kabar burung yang beredar selama ini bahwa Max Biaggi diperlakukan "Khusus" sebagai orang pertama yang mengendarai motor Yamaha YZR 500 dengan winglet.
Motor yang dikendarai Biaggi sering mengalami masalah terutama grip pada ban, walaupun begitu Biaggi menjadi satu-satunya kompetitor yang berterus terang sering bekerja sendirian demi sebuah gelar juara dunia tanpa bantuan sesama pembalap Yamaha.
Bahkan Biaggi pun tidak meminta bantuan dari rekan satu timnya, Carlos Checa dan Norick Abe yang menjadi pembalap motor spec pabrikan di tim satelit.
Ujung dari sikap individualis Max Biaggi dalam mencari cara untuk merebut gelar juara dunia, berbuah kegagalan saat dirinya sering gagal finish dan dikalahkan pembalap Suzuki, Kenny Roberts Jr.
Selama melakukan testing, Norihiko Fujiwara dituntut untuk mengembangkan ketahanan motor Yamaha YZR 500 untuk semua pembalap agar bisa membantu Max Biaggi membenamkan dominasi motor Honda NSR 500.
Sebenarnya tidak hanya Norihiko Fujiwara saja yang melakukan testing, menjelang musim tahun 2000' Max Biaggi diundang ke sirkuit Suzuka untuk menjalani testing agar setelan motor bisa cocok dengan gaya balap sang roman emperor itu.
Seluruh pembalap Yamaha juga diundang, termasuk Regis Laconi dan Garry McCoy yang sudah bertandem sejak musim 1999 lalu.
Dalam testing ini, Norick Abe tidak diundang karena tim Antena 3 Yamaha D'antin masih menjalani test private di sirkuit Valencia dan Jerez. Hal ini diungkapkan Luis D'antin sendiri bahwa Norick Abe tidak mau ikut campur urusan Max Biaggi yang masih pelik dengan problema pribadi.
Kemudian, pasca testing para pembalap Yamaha menjalani acara launching di sirkuit Sepang untuk mengikuti testing akhir 2 bulan sebelum kompetisi dimulai.
Max Biaggi, Carlos Checa, Regis Laconi, Garry McCoy dan Norick Abe berpartisipasi dalam sebuah misi besar yakni menguasai klasemen konstruktor. Meski begitu, para pembalap memperoleh jenis mesin yang sama yakni pabrikan murni dengan catatan ialah penggunaan chassis dan frame sesuai selera. Max Biaggi dan Carlos Checa menggunakan chassis dan frame baru untuk motor Yamaha YZR 500 keluaran tahun 2000.
Regis Laconi dan Garry McCoy menggunakan chassis baru dan frame lama keluaran tahun 1999 lantaran gaya balap keduanya yang berbeda.
Sedangkan Norick Abe menggunakan mesin keluaran tahun 2000 dan memakai chassis lama untuk disesuaikan dengan gaya balap Abe yang cenderung lebih natural.
Yamaha punya misi penting untuk meredam dominasi Honda di kejuaraan dunia balap motor 500cc musim tahun 2000.
Dimulai saat GP Phakisa yang berlokasi di Afrika Selatan sukses dimenangkan Yamaha lewat pembalap tim satelit Red Bull Yamaha WCM, Garry McCoy dari Australia.
Disusul Norick Abe yang menjuarai GP Suzuka di Jepang, bahkan Yamaha secara bergantian menguasai podium 1-2-3 dan posisi 4-5-6. Ini membuktikan bahwa Yamaha YZR 500 cukup kompetitif menghadapi keperkasaan Honda NSR 500.
Meski pada waktu itu yang menjadi juara dunia musim 2000 adalah Kenny Roberts Jr dari tim Telefonica MoviStar Suzuki, Sedangkan Yamaha memperoleh kemenangan sebanyak 6 kali dalam semusim. 3 kemenangan diraih Garry McCoy, 2 kemenangan diraih Max Biaggi dan 1 kemenangan diraih Norick Abe. 6 kemenangan yang dihasilkan 3 pembalap ini cukup mengokohkan Yamaha di klasemen konstruktor. Sedangkan rival Yamaha sendiri yakni Honda juga sama-sama mengemas 6 kemenangan dan itu pun di dominasi pembalap tim satelit.
2 kemenangan diraih Valentino Rossi dari tim Nastro Azzurro Honda, 1 kemenangan diraih pembalap Loris Capirossi dari tim Emerson Honda Pons, 2 kemenangan diraih Alex Criville dari tim Repsol YPF Honda dan 1 kemenangan Alex Barros dari tim Emerson Honda Pons.
Norick Abe konsisten memakai chassis dan frame tahun 2000, hal ini membuatnya tidak meraih satu kemenangan pun.
Garry McCoy yang mendapat jatah mesin bekas milik Max Biaggi yakni YZR 500 spec 2000 juga hanya meraih beberapa podium dan mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya patah tulang di Free Practice GP Le Mans, Prancis.
Marlboro Yamaha Team yang masih diperkuat Max Biaggi dan Carlos Checa rupanya bukan tandingan Valentino Rossi' Yamaha YZR 500 spec 2001 gagal menyingkirkan dominasi Honda NSR 500 spec 2001 yang dikendarai Valentino Rossi, Alex Criville dan pembalap pendatang baru asal Jepang' Tohru Ukawa.
Max Biaggi hanya memenangkan GP Le Mans, GP Assen dan GP Sachsenring. Tahun 2001 menjadi awal kemunculan tim baru di kelas 500cc yakni Tech3 Racing sebagai bagian dari Yamaha.
Dengan duo andalannya' Shinya Nakano dari Jepang dan Olivier Jacque dari Prancis didaulat sebagai pembalap tim satelit yang peranannya masih belum membantu menyelamatkan Yamaha.
Motor yang dipakai tim Tech3 adalah motor Yamaha YZR 500 spec 2000 dan dimodifikasi dengan penambahan frame dari tim pabrikan dan chassis keluaran tahun 2001.
Usaha tim Tech3 tidak sia-sia, Shinya Nakano tampil impresif dan berhasil menyabet gelar Rookie of The Year oleh FIM dan Dorna Sports.
11/11/2018
Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 04)
Lepasnya sponsor dari tim Yamaha, membuat Norick Abe berlaga tanpa livery ikonik merah putih. Akhirnya tim Yamaha menggunakan livery tradisional yakni merah hitam.
Untuk mendampingi Norick Abe, Wayne Rainey memilih pembalap asal Spanyol' Sete Gibernau. Namun, sepanjang musim 1997 ternyata tim Yamaha gagal merengkuh gelar juara.
Musim 1997 merupakan tahun terburuk bagi Yamaha karena tidak satupun seri balap dimenangkan oleh pembalap-pembal
Kecepatan dan Stir menjadi masalah yang membuat Sete Gibernau sering bermasalah dengan motornya' Wayne Rainey akhirnya mengambil keputusan untuk memecat Sete Gibernau seusai musim 1997. Dan pada tahun 1998, Sete Gibernau direkrut Repsol Honda Team untuk menggantikan Takuma Aoki yang pensiun dini akibat kecelakaan fatal.
Selepas dipecatnya Sete Gibernau, Yamaha segera merekrut Luca Cadalora lagi untuk menemani Norick Abe. Direkrutnya Luca Cadalora sebagai pendamping Norick Abe merupakan opsi darurat yang dinilai menyelamatkan wajah tim Yamaha. Pasalnya, Norick Abe harus dibantu Luca Cadalora agar Yamaha bisa kembali bersaing dengan Honda.
Sementara itu, tim lama Luca Cadalora yang bernama Red Bull Yamaha WCM akhirnya merekrut Simon Crafar dari Australia dan Regis Laconi dari Perancis sebagai pembalap pendukung.
Team Yamaha Rainey dan Red Bull Yamaha WCM menjadi 2 tim resmi Yamaha Racing Company di gelaran balap 500cc. Lucunya, di GP Donington Park justru pemenangnya adalah Simon Crafar dari tim Red Bull Yamaha WCM yang notabene tim satelit dengan menggunakan mesin pabrikan. Ini adalah kemenangan perdana Yamaha dengan tim satelit, karena sejauh ini baru Honda yang pernah menang dengan tim satelit.
Norick Abe dan Luca Cadalora merasa malu atas kemenangan Simon Crafar di GP Donington, apalagi kedua pembalap itu adalah punggawa tim pabrikan resmi. Bahkan secara mengejutkan, Norick Abe sering dikalahkan Max Biaggi yang notabene pendatang baru.
Penampilan Max Biaggi di gelaran balap 500cc yang begitu impresif dan pernah mengalahkan juara kala itu, Mick Doohan di GP Suzuka' membuat Yamaha Motor Company berniat merekrutnya.
Isu bergabungnya Max Biaggi dengan Yamaha berhembus sejak pertengahan musim 1998. Tentu ini membuat Norick Abe ketar-ketir akibat perfomanya sepanjang musim tidak kunjung merengkuh kemenangan.
Maka terbuktilah apa yang dirasakan Abe, Max Biaggi benar-benar sudah direkrut Yamaha sebagai pendampingnya. Lantas apa mau dikata, Norick Abe pun mulai merasa harus undur diri dari tim besutan Wayne Rainey. Norick Abe akhirnya turun pangkat dari pembalap tim pabrikan ke tim satelit, namun sekali lagi justru Norick Abe malah diperlakukan secara istimewa.
Norick Abe bekerjasama dengan Luis D'Antin mendirikan tim balap untuk menyaingi Max Biaggi. Tim balap itu disponsori oleh stasiun televisi asal Spanyol, Antena 3 Televicion.
Norick Abe rela merogoh kocek tinggi demi mendapat motor yang derajatnya setara dengan motor milik Max Biaggi. Dan akhirnya Norick Abe siap berkompetisi menandingi Max Biaggi dalam gelaran balap 500cc pada musim 1999.
Musim 1999 menjadi sebuah persaingan ketat antara Honda dan Yamaha serta Suzuki dalam merebut Juara Konstruktor. Pasalnya, di GP Jerez sebuah kabar buruk menimpa Repsol Honda Team. Mick Doohan yang merupakan juara dunia periode 1994-1998 harus pensiun dini akibat cidera kaki saat mengikuti kualifikasi.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Max Biaggi yang kala itu akhirnya dikontrak Yamaha Motor Company sebagai pembalap tim pabrikan. Uniknya, sponsor lama tim Yamaha berhasil kembali ke pelukan setelah 2 tahun hengkang akibat konflik antara Wayne Rainey dengan Kenny Roberts Sr.
Sejarah Terbentuknya Tim Pabrikan Yamaha (Part 03)
Kenny Roberts Sr menunjuk Jean Michel Bayle dari Perancis dan mantan juara dunia kelas 125cc 1990 dan 1991 dari pembalap tim Honda Pileri, Loris Capirossi sebagai duo pelengkap di kubu Yamaha Roberts Team. Norick Abe kembali menjadi joki utama Yamaha dengan duet barunya yakni Kenny Roberts Jr (putra Kenny Roberts Sr) yang baru naik kelas ke kategori 500cc usai berduet dengan Tetsuya Harada di kelas 250cc musim 1995.
Yamaha benar-benar mulai serius menjadi kontender utama Honda, bahkan Abe dan Capirossi mendapat perhatian khusus dari kepala mekanik dengan menggunakan 2 jenis motor spec factory yang untuk pertama kalinya di desain oleh komputer.
Perangkat buatan Magneti Marelli dipasang untuk meningkat performa motor agar tetap bertahan meski mesin mulai panas.
Dan lagi-lagi, Yamaha kembali menduduki runner up konstruktor championship dan kembali merengkuh 2 kemenangan. Lucunya, inilah untuk pertama kalinya Norick Abe meraih kemenangan perdananya secara emosional di GP Suzuka 1996 hingga meneteskan air mata usai mengalahkan Mick Doohan dan Alex Criville. Dan yang paling berkesan adalah kemenangan perdana sekaligus yang terakhir Loris Capirossi di GP Eastern Creek pada gelaran GP 500, kemenangan yang menegangkan itu diwarnai kecelakaan duo Repsol Honda antara Mick Doohan dan Alex Criville di lap akhir.
Kemenangan perdana Loris Capirossi bersama Yamaha diikuti oleh podium kedua yang diraih Carlos Checa' pembalap tim Fortuna Honda Pons dan podium ketiga yang direbut oleh Tadayuki Okada dari tim Repsol Honda.
Kegagalan Yamaha merengkuh puncak klasemen konstruktor membuat tim garputala tersebut mulai diguncang kisruh dan perpecahan internal. Akibatnya, banyak karyawan dan kru tim Yamaha mulai terkotak-kotak akibat konflik tersebut. Kenny Roberts Sr dan Wayne Rainey saling berseteru karena tidak mau mengalah demi menentukan formasi duet untuk musim balap 1997.
Rencananya Norick Abe akan berduet dengan Loris Capirossi, sebagai imbas dari dijodohkannya kedua pembalap berbakat itu, maka Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts Junior dipecat.
Jean Michel Bayle dan Kenny Roberts Junior enggan dipecat dari tim Yamaha lantaran penampilan tidak konsisten keduanya, Norick Abe dan Loris Capirossi yang nantinya berduet untuk musim 1997 gagal disatukan lantaran keputusan tim Yamaha untuk memecat Bayle dan Roberts Junior.
Kenny Roberts selaku manajer tim tidak setuju dengan keputusan Yamaha Motor Company memecat pembalap asal Perancis dan Amerika Serikat itu. Sebagai wujud kekecewaan, Pihak Kenny Roberts bertikai dengan pihak Wayne Rainey lantaran Loris Capirossi tetap dipertahankan.
Norick Abe yang sudah perpanjang kontrak akhirnya gagal berduet dengan Loris Capirossi, maka Kenny Roberts menyatakan walk out dari tim Yamaha dan menjalin kerjasama dengan Modenas Malaysia untuk mengembangkan mesin 500cc.
Akhirnya, tim Yamaha hanya menyisakan Wayne Rainey sebagai manajer dan Norick Abe sebagai pembalap tunggal.
.png)















