Tampilkan postingan dengan label Cerita Wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Wayang. Tampilkan semua postingan

8/22/2020

Mahabharata : Raden Abimanyu Satria Tanjung Anom



 Gambar : Raden Abimanyu

Raden Abimanyu adalah putra Raden Arjuna dan Dewi Wara Sembadra. Raden Abimanyu merupakan anak sulung dari belasan anak Raden Arjuna yang menjadi pewaris tahta Kerajaan.
Raden Abimanyu bertempat tinggal di Kasatriyan Plangkawati yang berstatus kadipaten.

Kasatriyan Plangkawati beribukota di Tanjung Anom dan merupakan wilayah otonom Kasatriyan Madukara yang notabene setingkat propinsi/negara bagian.

Raden Abimanyu memiliki dua orang istri yakni Dewi Siti Sundari, putri Prabu Sri Batara Kresna dan Dewi Utari putri Prabu Sri Baginda Matswapati.


Dari pernikahannya dengan Dewi Siti Sundari, Raden Abimanyu memiliki anak berwujud denawa yang diberi nama Bambang Senggoto. 

Konon, Raden Abimanyu malu memiliki anak berparas denawa dan membuangnya ke hutan hingga kelak Bambang Senggoto menuntut balas atas perbuatan Raden Abimanyu kala membuangnya dulu.

Diceritakan Raden Abimanyu menikah lagi dengan Dewi Utari lantaran balas budi Prabu Sri Baginda Matswapati atas kepahlawanan para Pandawa yang sudah menyelamatkan negeri Wirata dari kudeta Raden Rupakenca dan Raden Kencakarupa.

Bambang Senggoto yang hidup di tengah hutan selama belasan tahun ingin membalas dendam kepada Raden Abimanyu karena sudah membuangnya setelah dilahirkan.

Bambang Senggoto berniat merebut Dewi Utari namun gagal karena saat "Ngraman" kerajaan Wirata malah dihabisi oleh Raden Werkudara yang notabene uwaknya sendiri.

Sebelum tewas dibunuh Raden Werkudara, Bambang Senggoto bersumpah pernikahan Raden Abimanyu dengan Dewi Utari tidak lama usianya karena ditakdirkan untuk mati sebelum anaknya lahir.
Anak yang dimaksud adalah anak Dewi Utari yang kelak menjadi raja Hastina setelah Baratayuda, yakni Parikesit. 


Raden Abimanyu kemudian diangkat jadi senopati agung menggantikan Raden Trustajumena yang terluka saat berperang melawan Prabu Bogadenta.

Raden Abimanyu akhirnya gugur di tangan Para Kurawa yang terdiri dari Prabu Duryudana, Raden Dursasana, Raden Kartamarma, Raden Citraksa, Raden Citraksi dan Raden Durgempa.

Tragisnya, meski sudah terbujur kaku setelah dikeroyok' salah satu punggawa yang membela Hastina yakni Adipati Jayadrata menghadiahi Raden Abimanyu dengan hantaman Gada Kyai Glinggang yang tepat mengenai tempurung kepala.

Raden Abimanyu gugur sebagai pahlawan sekaligus menebus kekhilafannya saat dulu membuang anak kandungnya dari Dewi Utari' Bambang Senggoto. 


== SELESAI ==

6/04/2020

Mahabharata : Prabu Setija Raja Trajutrisna

Foto : Prabu Setija Narakasura

Prabu Bomanarakasura adalah putra Bathara Wisnu dengan Bathari Pertiwi. Prabu Bomanarakasura adalah raja negeri Suroteleng yang beribukota di Trajutrisna, memiliki patih denawa bernama Ditya Kala Pancatnyana. Tunggangannya seekor burung raksasa bernama Wilmuna dan memiliki senopati agung bernama Ditya Kala Yayahgriwa.

Saat muda, Prabu Bomanarakasura terlahir dengan nama Setija. Ia memiliki saudara perempuan bernama Siti Sundari, yang kemudian hari menjadi istri Abimanyu.
Prabu Bomanarakasura menikahi Dewi Hagnyanawati sehingga menurunkan putra bernama Kismaka yang kelak menggantikan ayahnya itu.

Prabu Bomanarakasura tewas terbunuh saat peristiwa eksekusi mati terhadap Samba, adiknya sendiri atas perselingkuhan dengan Dewi Hagnyanawati. Prabu Kresna membiarkan peristiwa eksekusi mati Samba karena itu kesalahannya sendiri, tetapi Prabu Kresna berani membunuh Prabu Bomanarakasura karena sudah tega ikut membunuh Arjuna yang nyata-nyata tidak mati dan menyingkir setelah dikalahkan.

Prabu Bomanarakasura memiliki pusaka bernama Cangkok Wijayamulya dan jurus yang membuatnya tidak bisa mati yaitu Aji Pancasona. Namun, saat dihabisi oleh Prabu Kresna jurus tersebut tidak mempan bahkan tidak berfungsi karena sudah ditakdirkan oleh dewata bahwa pemilik Aji Pancasona hanya bisa mati ditangan titisan Wisnu.

Dari pernikahannya dengan Dewi Hagnyanawati, Prabu Bomanarakasura menurunkan seorang putra bernama Kismaka yang kelak menjadi raja di Trajutrisna. Saat terjadi perang Bharatayudha, Kismaka berperang membela Kurawa lantaran dendam dengan kakeknya, Prabu Kresna karena sudah membunuh Prabu Bomanarakasura, ayahnya.

Tragisnya, Kismaka tewas bukan di tangan Prabu Kresna melainkan di tangan Bhima setelah tergilas gada Rujakpala beserta wadyabala Trajutrisna. Namun, menurut cerita versi lain' Kismaka tidak mati melainkan kabur dari medan perang saat melihat wadyabalanya tergilas gada pusaka milik Bhima dan kelak berniat membalas dendam setelah Bharatayudha usai.

(Selesai)

4/23/2018

Seri Bharatayudha : Irawan Gugur (PART 04/END)

Gambar : Resi Bhisma dari Pertapaan Talkanda

Srikandi yang melihat Resi Bhisma mulai berpasrah akhirnya segera melepaskan anak panah ke arah pertapa tua renta itu. Dan terhunuslah anak panah ke dada Resi Bhisma, lantas robohlah Resi Bhisma dari atas kereta perang.
Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu segera mendekati tubuh Resi Bhisma yang sudah dilumuri darah’ para Pandawa dan Kurawa yang masih sibuk berperang akhirnya mengerumuni tubuh Resi Bhisma sambil merintih sedih.

Para Pandawa dan Kurawa mencoba untuk memberikan sesuatu kepada Resi Bhisma, Werkudara memberikan beberapa potongan senjata sebagai bantal’ Resi Bhisma bangga dengan pemberian Werkudara yang memang seharusnya dirasakan para perwira karena seorang ksatria harus tidur diatas tumpukan senjata.

Arjuna memberikan air tanah sebagai suguhan bagi Resi Bhisma, sang pertapa makin bangga dengan Arjuna karena itulah yang diminta. Kemudian Resi Bhisma mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum wafat. Resi Bhisma meminta agar Bharatayudha dihentikan sementara waktu untuk menghormatinya. Tiba-tiba dari atas langit, muncul arwah Dewi Amba menjemput Resi Bhisma yang sudah sekarat. 

Dan Resi Bhisma meninggal dunia seketika setelah jiwanya dijemput arwah Dewi Amba.
Resi Bhisma yang sudah tiada bernyawa lalu dikremasi, semua orang di medan perang Kurukasetra mengenakan busana serba putih untuk melayat atas kematian Resi Bhisma. Semua orang tertunduk lesu saat jenazah Resi Bhisma sudah hangus menjadi abu, kemudian abu jenazah Resi Bhisma dibawa ke pertapaan Talkanda sebagai tempat persembunyian terakhir.

Para Pandawa dan Kurawa kembali ke pesanggrahan masing-masing, sementara itu Abimanyu dan beberapa putra Pandawa yang lain kembali ke pesanggrahan sambil membawa berita duka. Irawan putra Arjuna gugur bersama lawan tandingnya yang merupakan seorang raja raksasa.

Arjuna berduka, begitupun seluruh anggota pasukan di pesanggrahan Gupalawiya’ mendengar kejadian itu Prabu Matswapati menyarankan agar semua putra-putra Pandawa disuruh kembali ke negeri Amarta karena peperangan ini bisa membahayakan nyawa.

Prabu Matswapati takut kalau nanti seluruh putra-putra Pandawa tumpas seiring berjalannya Bharatayudha. Akhirnya semua putra-putra Pandawa termasuk Gatotkaca dan Abimanyu disuruh pulang agar tidak menjadi korban perang.
Namun, Prabu Kresna sebagai pujangga perang mengatakan bahwa peranan seluruh putra Pandawa masih dibutuhkan jika ada salah satu senapati yang gugur. Gatotkaca menurut saja dengan dawuh uwaknya, tetapi lain hal dengan Abimanyu.

 Abimanyu masih ingin maju perang, tapi Arjuna melarangnya kembali ikut berpartisipasi dalam pertempuran mengingat kematian Irawan yang baru saja diberitakan. Akhirnya Abimanyu disuruh kembali ke Wirata. 

Sedangkan Gatotkaca disuruh kembali ke Pringgadani sambil menyusun kekuatan baru bersama para punggawa denawa seperti Patih Prabakesa, Brajalamatan dan Brajawikalpa.
Dengan hati kecewa, Abimanyu kembali pulang ke Wirata sendirian tanpa didampingi siapapun. Dalam hati, Abimanyu bertekad melanjutkan perang meski tanpa perintah dari orangtuanya maupun juru strategi perang.

Abimanyu pulang dengan wajah lesu sambil menemui kedua istrinya ialah Siti Sundari dan utari yang dari tadi menanti kehadiran sang putra Arjuna. Abimanyu dengan wajah masam memandang ke arah Utari yang kala itu sedang menimang bayi laki-laki.
Karena bayi laki-laki itu belum diberi nama, maka Abimanyu memberi nama anak laki-lakinya itu dengan gelar Parikesit. Pemberian nama ini merupakan usulan dari Arjuna, ayahnya karena ini sesuai dengan isi ramalan bahwa Parikesit kelak akan menjadi raja seusai Bharatayudha.

(Selesai)


Seri Bharatayudha : Irawan Gugur (PART 03)

Gambar : Resi Seta dari Pertapaan Parianom

Kisah kembali berlanjut, kali ini berada di tepi Sungai Gangga dimana Resi Bhisma duduk beralas batu besar sambil mengheningkan cipta. Dari dalam sungai, muncul cahaya bersinar terang menghampiri Resi Bhisma. Cahaya itu datang sambil memanggil nama Resi Bhisma, dari dalam cahaya itu terlihat sesosok wanita cantik bernama Bathari Gangga yang merupakan ibu Resi Bhisma.

Resi Bhisma berbincang dengan Bathari Gangga mengenai nasib keturunan Bharata yang kini sedang menghadapi pertikaian. Bathari Gangga tahu, bahwa perang besar yang diramalkan dahulu kala sedang terjadi. Bhatari Gangga mengatakan bahwa perang itu tidak bisa dicegah meski Resi Bhisma menjadi wadat (tidak menikah seumur hidup) agar keturunan Sentanu dengan keturunan Wicitrawirya tidak bersengketa.

Resi Bhisma menilai usahanya sia-sia belaka, justru perang terjadi di dalam kubu yang masih keturunan Wicitrawirya. Meski keturunan Wicitrawirya diteruskan oleh para Kurawa’ tetaplah kedudukan para Kurawa di Hastina tidak dikehendaki oleh Dewata.
Bathari Gangga membocorkan rahasia mengenai wahyu keprabon yang sejatinya tidak ada pada diri Prabu Duryudana, itulah sebabnya negeri Hastina mulai memasuki masa suram karena dipimpin oleh raja yang tidak dikehendaki oleh Dewata. Resi Bhisma kaget, kenapa Duryudana bisa menjadi raja walaupun tidak dirasuki wahyu keprabon ?

Jawaban Bathari Gangga cukup mencengangkan, Wahyu Keprabon malah berada di pihak para Pandawa yang pada waktu itu pernah menjalani masa hukuman selama 12 tahun akibat kalah berjudi. Itu artinya Duryudana merebut secara paksa tampuk kekuasaan negeri Hastina dengan bantuan Patih Sengkuni yang sejatinya adalah sumber perpecahan.

Resi Bhisma berniat menghukum Patih Sengkuni karena sudah memecah-belah kerukunan keturunan Bharata, namun Bathari Gangga melarangnya karena kematian Patih Sengkuni tidak ditentukan oleh Resi Bhisma melainkan salah satu anggota Pandawa yang masih memiliki darah Bathara Bayu.

Menyimak ungkapan Bathari Gangga, Resi Bhisma tahu siapa anggota Pandawa yang punya ikatan ideologis dengan Bathara Bayu. Akhirnya Resi Bhisma memutuskan untuk kembali ke medan tempur melanjutkan bakti setianya sebagai kesatria. Sebelum kembali ke gurun Kurukasetra, Resi Bhisma diberi sebuah senjata pusaka berupa gandewa bernama Kyai Jungkat Penatas. 

Seusai memberikan senjata pusaka, Bathari Gangga kembali ke dalam sungai untuk menjaga kesakralan Sungai Gangga.
Dengan tekad bulat, Resi Bhisma kembali ke medan tempur menghadapi Resi Seta dan memenangkan Bharatayudha’ sambil menaiki kereta perangnya... Resi Bhisma bergumam bahwa ia pasti akan mati sebagai prajurit pembela negara walaupun negaranya dipimpin oleh raja angkara murka.


Berganti di medan perang, Resi Seta memimpin pasukan dengan gagah berani sambil mengayunkan tangan kanannya yang bersenjatakan pedang. Satu demi satu banyak prajurit Hastina yang tewas ditangan putra sulung Prabu Matswapati ini.
Tidak disangka, saat sedang sibuk menghabisi para prajurit’ tiba-tiba melesatlah anak panah dari arah belakang lalu menancap di punggung Resi Seta. Otomatis, Resi Seta terjatuh dari wahana yang dikendarainya. Rupanya ada orang yang licik menyerang dari belakang, Resi Seta sadar bahwa ada perwira yang mau mencelakainya tanpa bertatap muka.

Sambil meraba punggungnya, Resi Seta mencabut anak panah yang melukai punggung bagian kiri. Dari belakang muncul seorang kesatria muda bernama Rukmarata yang dengan licik hendak menikam Resi Seta dengan kerisnya.
Tetapi, tanpa pikir panjang Resi Seta yang baru saja mencabut anak panah segera menoleh ke belakang dan menghardik Rukmarata. Sambil melotot, Resi Seta mencekik leher Rukmarata dengan kuat sehingga terangkat.

Rukmarata adalah anak bungsu Prabu Salya, ia merupakan adik Burisrawa yang dinobatkan sebagai calon raja. Prabu Salya dari kejauhan kaget melihat putranya dicekik oleh Resi Seta, namun karena sudah kepalang takut akan dihabisi juga’ malah Prabu Salya datang memohon agar Rukmarata diampuni. Tetapi, Resi Seta sudah gelap mata lantaran ulah Rukmarata yang sudah curang menyerang dari belakang. Tanpa ampun, Rukmarata dicekik sampai kehabisan nafas dan akhirnya tewas. Prabu Salya tercengang dengan kematian Rukmarata yang hanya dicekik saja’ lalu seusai dicekik jasad Rukmarata dipukul dengan senjata Gada sehingga kepalanya pecah lalu isi otaknya berserakan.

Ngeri melihat kondisi jasad Rukmarata, Prabu Salya kabur dari medan tempur lantaran tidak kuat menyaksikan jasad Rukmarata yang mati dicekik dan dipukul dengan gada. Setelah kejadian itu, Resi Bhisma kembali terlihat memasuki medan tempur sambil membawa senjata pusaka barunya. Lalu, Resi Bhisma datang menantang Resi Seta adu kesaktian’ tanpa menjawab pun Resi Seta datang melawan pertapa dari Talkanda itu.
Terjadilah adu senjata panah antara Resi Seta dengan Resi Bhisma, keduanya merupakan sama-sama mumpuni dalam ulah tanding lantaran mereka (berdua) adalah mantan murid kinasih Resi Rama Bargawa. 

Adu anak panah sempat membuat hujan jemparing yang meleset ke arah para prajurit dari kedua belah pihak.
Tak jarang pertarungan diantara keduanya membuat seluruh prajurit memisah dari wilayah yang dilanda hujan jemparing. Sampai suatu ketika, Resi Seta kehabisan anak panah dan beralih dari senjata busur ke senjata gada’ ketika Resi Seta hendak mengayunkan gadanya malah dari jauh gada yang digenggam itu terkena tembusan anak panah.

Gada yang digenggam Resi Seta terbelah menjadi dua, Resi Bhisma merasa puas setelah berhasil melontarkan panah yang membuat lawan tandingnya itu kehilangan harapan. Kali ini giliran Resi Bhisma lah yang akan mengakhiri pertempuran, dengan senjata pusaka Kyai Jungkat Penatas maka meluncurlah sebatang anak panah ke arah Resi Seta.

Anak panah yang terlepas dari gandewa pusaka itu berhasil menembus kulit Resi Seta, akhirnya senopati andalan pihak Pandawa gugur di medan laga. Otomatis kemenangan berada di pihak Kurawa dan tentu pihak Hastina.
Para Pandawa mengetahui hal ini, mereka menyesal karena tidak memenangkan pertempuran di hari pertama. Namun, Prabu Kresna menganggap itu bukan kekalahan yang sebenarnya. Langsung saja setelah Resi Seta gugur sebagai pahlawan, pihak wadyabala Pandawa segera mengangkat senopati perang baru. Malam itu diangkatlah putra raja Panchala yang bernama Trustajumena sebagai senopati pengganti.

Prabu Kresna memprediksi jika pihak Wirata dan Pandawa dipimpin oleh Trustajumena, maka kemenangan akan datang di esok hari. Seusai pengangkatan senopati yang baru, Trustajumena mengumumkan beberapa senopati pengampit sebagai kekuatan utama. Diantaranya Werkudara, Arjuna, Abimanyu, Gatotkaca, Setyaki, Udawa dan Srikandi’ keesokan harinya Trustajumena segera maju memimpin peperangan dengan didampingi beberapa senopati pengampit termasuk Srikandi yang notabene adalah istri Arjuna.

Sedangkan dari pihak Kurawa masih tetap mengandalkan Resi Bhisma sebagai senopati agung dan pengampit setianya yakni Begawan Durna dan Prabu Salya. Kali ini peperangan didominasi oleh pihak Pandawa dengan memenangkan laga sampai hari ke 10.
Hari ke 10, perang semakin mencekam dan banyak korban tidak terhitung’ waktu itu Arjuna sedang sibuk melawan beberapa prajurit yang dipimpin beberapa anggota Kurawa. Dari kejauhan muncullah Resi Bhisma mendekati Arjuna sambil mengendarai kereta perangnya.

Resi Bhisma meminta agar Arjuna menyerangnya, tetapi Arjuna tidak berani karena dianggap dosa. Bagi Arjuna, menyakiti orang yang lebih tua bahkan sampai membunuhnya adalah dosa besar. Prabu Kresna yang melihat Arjuna tidak berani menghadapi Resi Bhisma akhirnya terpancing emosinya untuk memarahinya.
Prabu Kresna berniat menghabisi Resi Bhisma dengan senjata cakra yang muncul dari tangannya, Arjuna kaget ketika melihat apa yang dilakukan Prabu Kresna’ sambil merengek Arjuna memohon agar tidak membunuh Resi Bhisma. Arjuna menangis sambil meminta agar dibunuh saja karena tidak tega melihat kakeknya itu akan dihabisi oleh Prabu Kresna.

Mendengar rengekan Arjuna, Prabu Kresna tidak jadi membunuh Resi Bhisma dengan senjata Cakranya. Kemudian Arjuna menyanggupi permintaan Resi Bhisma untuk adu tanding meski berat di hati.
Resi Bhisma dan Arjuna saling melancarkan serangan sehingga kembali terjadi hujan panah di langit gurun Kurukasetra. Arjuna yang masih merasa bersalah akhirnya dikalahkan oleh Resi Bhisma hanya karena takut menerima dosa akibat perbuatannya itu.



Arjuna meminta agar ia tidak kembali bertemu dengan Resi Bhisma karena merasa tidak sanggup melawannya, Prabu Kresna ingat dengan isi buku Kitab Jitabsara yang berisi daftar korban perang Bharatayudha.
Tanpa pikir panjang, Prabu Kresna menyuruh Arjuna memanggil Srikandi untuk menghadapi Resi Bhisma. Namun, Arjuna kaget mendengar perintah itu’ tetapi Arjuna tidak boleh mengelak dari Prabu Kresna karena raja Dwaraka itu adalah mentornya sendiri.

Srikandi pun menghadap, Arjuna memerintahkan Srikandi untuk menghadapi Resi Bhisma lantaran dirinya tidak sanggup. Srikandi ragu, mengapa ia dijadikan jago untuk menghadapi sesepuh yang lebih kuat dan berpengalaman.
Srikandi pun menuruti perintah, sambil berdiri ia naik kereta perangnya ia maju melawan Resi Bhisma. Srikandi dengan berani mendatangi pertapa dari Talkanda itu sambil menantanginya beradu kesaktian. Resi Bhisma tersenyum, malah senyuman sang putra Santanu itu seolah mengejek dan meremehkan Srikandi mengingat dia itu perempuan.

Namun, setelah melihat Srikandi’ muncul bayang-bayang masa lalu di pikiran Resi Bhisma ketika masih muda. Wajah Srikandi mengingatkan Resi Bhisma pada sosok wanita yang dahulu ia tolak cintanya yakni Dewi Amba.
Dahulu kala, Dewi Amba adalah putri boyongan dari negeri Giyantipura setelah Resi Bhisma dan Resi Abiyasa memenangkan sayembara tanding melawan Wahmuka dan Arimuka. Diceritakan waktu itu Dewi Amba jatuh cinta pada Resi Bhisma, akan tetapi Resi Bhisma sudah terlanjur bersumpah untuk melajang seumur hidup (wadat).

Dewi Amba meminta kepada Resi Bhisma untuk menikahinya sebagai wujud tanggung jawab karena sudah diboyong sebagai hadiah sayembara. Resi Bhisma lantas menolaknya, karena cintanya ditolak maka Dewi Amba berusaha memaksa putra semata wayang Prabu Sentanu itu berbuat mesum. 

Karena didorong oleh nafsu syahwat yang tinggi, maka Dewi Amba hendak memaksa Resi Bhisma berhubungan intim dengannya’ namun sayangnya karena merasa dalam bahaya, Resi Bhisma membunuh Dewi Amba atas dasar melindungi diri dari perbuatan tidak senonoh itu.

Dewi Amba jatuh bersimbah darah, Resi Bhisma pun menyesali perbuatannya kala itu yang membuat dirinya berdosa terhadap wanita. Maka sebagai penebusan dosa, Resi Bhisma melakukan tapa brata di pertapaan Talkanda sampai di usia senjanya.
Itulah bayangan Resi Bhisma saat masih muda dulu, maka setelah melihat wajah Srikandi yang mendatanginya itu segera Resi Bhisma memejamkan mata sambil menyilangkan kedua kakinya. Dengan penuh kepasrahan, Resi Bhisma meminta agar segera diselesaikan tugasnya sebagai senopati lantaran sudah terlanjur berdosa atas kematian Dewi Amba.

(Bersambung)





Seri Bharatayudha - Irawan Gugur (PART 02)

Gambar : Raden Abimanyu putra Raden Arjuna dengan Dewi Sumbadra

Irawan berkumpul dengan beberapa putra-putra Pandawa Lima, Irawan langsung menyatu dengan mereka. Irawan berbaris mengikuti intruksi pimpinan. Waktu itu yang memimpin latihan adalah Patih Nirbita dari Wirata, Patih Tambakganggeng dari Amarta, Patih Udawa dari Dwaraka, Patih Drestaketu dari Panchala, Patih Gagakbongkol dari Jodhipati dan Patih Sucitra dari Madukara.
Irawan berlatih dengan giat mengikuti apa yang dicontohkan para Patih, sebab persiapan perang harus matang agar memperoleh kemenangan. Irawan optimis bahwa pihak negeri Wirata akan memenangkan pertempuran walaupun jumlah prajurit yang relatif sedikit.

Setelah berlatih, Irawan berbincang-bincang dengan putra-putra Pandawa Lima yang lain. Irawan berbincang dengan Abimanyu yang merupakan kakak sulungnya. Irawan berharap bisa menjadi senopati pengampit mendampingi Abimanyu.
Abimanyu sendiri kurang begitu yakin dengan Irawan, karena Abimanyu menilai ilmu kanuragan Irawan belum setingkat dengannya. Irawan dengan jumawa bahwa dirinya sebagai cucu seorang brahmana diyakini mampu menjadi senopati tangguh.

Hari pun berganti menjadi senja, dimana seluruh punggawa masuk ke dalam tempat istirahatnya masing-masing. Irawan yang sudah lelah dengan rangkaian latihan fisik akhirnya memutuskan untuk tidur bersama para putra Pandawa Lima lain. Ketika para putra Pandawa Lima sudah tertidur, cerita berganti ke ruang perkumpulan dimana para Pandawa dan Prabu Matswapati bermusyawarah mengenai penunjukkan senopati agung untuk memimpin pertempuran esok.

Prabu Kresna sebagai pembina pihak Pandawa Lima mengatakan bahwa untuk menghadapi pertempuran esok hari yang menjadi pimpinan pasukan adalah Utara dan Wratsangka. Mengingat Resi Seta tidak boleh diganggu karena sedang bertapa untuk meningkatkan kekuatan fisiknya di pertapaan Parianom. Semua setuju dengan usulan Prabu Kresna. Maka esok terjadilah pertempuran di hari pertama antara pasukan dari Wirata yang memihak para Pandawa Lima melawan pasukan dari Hastina yang memihak para Kurawa.
Utara dan Wratsangka memimpin pasukan dengan gagah berani, sambil mengendarai kuda mereka mengobrak-abrik pertahanan musuh tanpa kompromi, Namun, saat sedang sibuk menghabisi para prajurit kecil yang hanya membawa tombak dan tameng’ Utara dihadang oleh Begawan Durna sehingga terjadi pertarungan diantara keduanya.

Utara tidak bisa mengalahkan Begawan Durna yang merupakan guru dari para Pandawa Lima dan seratus Kurawa, kesaktian pertapa yang lahir di negara Atasangin itu bukanlah tandingan Utara. Maka dengan mudahnya Begawan Durna mengalahkan Utara hanya dengan melepas anak panah neraca bala. Utara gugur terkena hujan anak panah yang dilepas oleh Begawan Durna, kemudian Begawan Durna dilabrak oleh Wratsangka sehingga mundur gelanggang.
Namun, Prabu Salya datang menggantikan Begawan Durna untuk melawan kedigdayaan Wratsangka yang sedang marah melihat saudaranya gugur. Prabu Salya dengan penuh perhitungan menghindari serangan-serangan yang dilancarkan Wratsangka, lalu dengan cekatan Prabu Salya mencengkram tubuh Wratsangka dan membantingnya jatuh. Termakan emosi Wratsangka mengambil sebilah pedang untuk menyayat tubuh Prabu Salya” sayangnya keburu terhunus keris yang dilempar oleh Prabu Salya maka gugurlah ia.

Utara dan Wratsangka gugur, akhirnya pada hari pertama Bharatayudha’ pihak Pandawa Lima kalah karena kedua pimpinannya tewas. Akhirnya dari pihak yang kalah memutuskan untuk mencari pimpinan baru” rupanya atas apa yang diramalkan buku kitab Jitabsara bahwa pengganti Utara dan Wratsangka adalah Resi Seta sendiri.
Kemudian diutuslah Patih Nirbita menemui Resi Seta yang sedang bertapa di pertapaan Parianom, sesampainya disana Patih Nirbita mengabarkan bahwa Utara dan Wratsangka sudah gugur. Mendengar berita itu, Resi Seta bertekad mencari siapa pembunuh kedua adiknya itu.
Lantas, Patih Nirbita berhasil memboyong Resi Seta untuk bergabung dengan pasukan Wirata sebagai pimpinan pasukan tempur. Malam itu, Prabu Kresna melantik Resi Seta sebagai pimpinan, sedangkan yang menjadi pengampitnya adalah Arjuna dan Werkudara.

Perang hari kedua dimulai, lagi-lagi pasukan dari pihak Kurawa menurunkan duo petarung handalnya ialah Begawan Durna dan Prabu Salya. Mereka berdua sudah tahu betul karakter dan kekuatan pasukan dari pihak Wirata. Tetapi kali ini justru pihak Pandawa Lima yang didukung dari Wirata lah yang mendominasi serangan. Semua ini karena siasat tempur yang ampuh berkat kehadiran Resi Seta sebagai pimpinan baru menggantikan Utara dan Wratsangka. Begawan Durna mulai khawatir dengan menipisnya jumlah wadyabala Hastina, kemudian seluruh prajurit Hastina tinggal gelanggang dan pertempuran hari kedua dimenangkan oleh pihak Wirata.

Begitu pun dihari ke 3 hingga hari ke 8, Pandawa Lima yang didukung kekuatan dari 
Wirata beserta sekutu-sekutunya berhasil menang secara berturut-turut. Pihak Hastina mulai frustasi karena kekalahan beruntun itu, kemudian di pasewakan Pesanggrahan Bulupitu diadakanlah rapat untuk mengganti pimpinan pasukan. Maka ditunjuklah seorang pertapa yang tua renta tetapi masih gagah perkasa ialah Resi Bhisma.

Resi Bhisma adalah jago tanding yang tepat lantaran pengalaman bertempurnya sudah cukup diakui dunia, maka dilantiklah ia menjadi pimpinan pasukan untuk menghadapi perang hari ke 9. Matahari mulai terbit, seluruh pasukan dari kedua belah pihak siap berperang dan ketika sudah berkumpul maka terjadilah itu.
Wadyabala Hastina menyerbu barisan wadyabala Wirata, mereka saling menebas pedang dan menusukkan tombaknya. Banyak jiwa-jiwa melayang akibat kerasnya rasa sakit yang tidak tertahankan. Resi Bhisma yang berada di dalam kereta kuda perang segera menyerang sekelompok ksatria dari pihak Pandawa Lima.


Resi Bhisma berhadapan dengan Arjuna yang kebetulan sama-sama menggunakan senjata panah, Arjuna tidak tega melawan orang yang selama ini ia hormati dan ia kagumi sejak kecil. Namun, inilah kenyataan yang harus dirasakan Arjuna sebagai cucu’ walaupun Arjuna bukan cucu kandung mengingat Resi Bhisma tidak menikah seumur hidupnya.
Resi Bhisma mulai menantang Arjuna agar mau menghujaninya dengan panah demi kemenangan, seolah orangtua renta itu tidak mau bertempur melainkan disakiti sampai mati demi kemenangan para Pandawa Lima.
Arjuna terpancing oleh ucapan Resi Bhisma dan melepaskan anak panah yang jumlahnya ribuan hingga melukai bahu. Resi Bhisma merasa bangga bisa dilukai oleh Arjuna. Namun, Arjuna merasa berdosa karena sudah melukai kakeknya itu. Dari kejauhan, Resi Seta mengamati tindakan Arjuna terhadap Resi Bhisma yang dinilai sebagai sifat seorang pengecut.

Resi Seta lantas datang menyambar tubuh Resi Bhisma dan melemparnya dari atas kereta perang karena begitu jengkelnya ia terhadap reaksi Arjuna. Ternyata Resi Bhisma tidak mengalami luka serius, maka terjadilah pertarungan antara Resi Bhisma melawan Resi Seta yang dimenangkan oleh Resi Seta akibat luka-luka yang diderita Resi Bhisma.
Resi Bhisma tinggal gelanggang dan kabur ke tepi Sungai Gangga untuk meminta pertolongan kepada Bathari Gangga, ibu Resi Bhisma. Sementara itu Resi Seta bertarung dengan penuh emosi setelah melihat seluruh wadyabala Wirata dipukul mundur.

Perang pun berjalan semakin sengit, kali ini pindah tempat dimana beberapa putra-putra Pandawa Lima terlibat adu fisik dengan para prajurit Hastina, Abimanyu memimpin pasukan dengan gagah berani sambil menaiki kereta perang yang dikendalikan oleh Sumitra. Sementara itu Irawan maju angkat senjata bersama Priyambada dan Prabakusuma melawan barisan yang ada. Ketika para putra Pandawa sedang sibuk menghadapi pasukan dari Hastina, dari kejauhan seluruh wadyabala denawa dari Kerajaan Guwabarong berjalan menuju gurung Kurukasetra mengikuti perang Bharatayudha walaupun sekedar nimbrung saja.

Wadyabala Guwabarong ikut menyerbu pasukan yang dipimpin Abimanyu, semua orang kocar-kacir menyaksikan ulah para denawa yang menyerang barisan. Abimanyu jengkel, segera ia menyerang kawanan denawa itu dengan ratusan anak panah. Tidak sedikit para denawa yang tewas ditangan Abimanyu. Pasukan denawa dari Guwabarong yang dipimpin oleh Patih Hardawalika mulai kocar-kacir tidak beraturan.



Prabu Kalasrenggi melihat kondisi pasukannya semakin menipis, akhirnya maju mendampingi Patih Hardawalika memimpin pasukan sambil memperlihatkan kesaktiannya yang membuat sekelompok prajurit bawahan Abimanyu terbunuh.
Sejenak Prabu Kalasrenggi mulai memperhatikan seluruh manusia yang tumpah ruah diatas medan perang’ ia terpikir untuk mencari keberadaan Arjuna untuk dimintai pertanggungan jawab atas apa yang dialami Dewi Jatagini, ibunya.
Namun, karena ia tidak tahu siapa Arjuna’ maka tanpa memperhatikan secara seksama raja denawa itu mulai asal menyerang hingga targetnya tertuju pada seorang ksatria yang mendampingi Abimanyu. Prabu Kalasrenggi menilai bahwa anak muda itulah 

Arjuna yang dimaksud Dewi Jatagini. Lalu, Prabu Kalasrenggi berhasil menyergap ksatria itu yang ternyata adalah Irawan.
Abimanyu kaget melihat apa yang terjadi pada Irawan, namun karena masih berurusan dengan pasukan lain maka Abimanyu tidak sempat menyelamatkan Irawan. Prabu Kalasrenggi berhasil menghabisi nyawa Irawan dengan menggigit lehernya sampai putus. Namun, ketika sudah berhasil menggigit leher Irawan’ Menancaplah keris di perut Prabu Kalasrenggi sehingga tewaslah raja denawa itu bersama korbannya.

Prabu Kalasrenggi dan Irawan mati sampyuh, Abimanyu tidak pernah menduga bahwa akan terjadi hal semacam itu. Lalu, untuk mengakhiri pertempuran’ Abimanyu melepas anak panah yang jumlahnya sangat banyak. Banyak wadyabala denawa tewas ditangan Abimanyu’ sehingga Patih Hardawalika murka melihat seluruh pasukannya dihabisi.

Belum sempat menemui Abimanyu, Patih Hardawalika berhadapan dengan Sumitra yang menjadi kusir Abimanyu. Sehingga terjadilah pertarungan antara Sumitra melawan Patih Hardawalika yang dimenangkan oleh Sumitra.
Patih Hardawalika mulai terpojok dan mundur dari peperangan, ia menganggap ini bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan serangan. Patih Hardawalika memilih mundur bersama seluruh pasukannya yang masih tersisa. 

Patih Hardawalika memutuskan untuk meminta bantuan sahabatnya yakni seekor ular naga bernama Kyai Naga Kombang yang sedang bersembunyi di hutan Setrapuru.
Pasukan dari kerajaan Guwabarong mundur dari medan perang, meskipun memenangkan pertempuran’ Abimanyu bersedih atas kematian Irawan yang terlalu cepat. 

Kemudian Abimanyu memerintahkan seluruh pasukannya kembali ke pesanggrahan Gupalawiya untuk menyembuhkan luka-luka.
Jasad Irawan dan Prabu Kalasrenggi masih tergeletak di medan tempur, anehnya jasad Irawan mengeluarkan harum semerbak yang luar biasa’ itu artinya Irawan gugur sebagai pahlawan bangsa demi mencita-citakan kemerdekaan bagi negara Amarta.

(Bersambung)