Tampilkan postingan dengan label Ekslusif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekslusif. Tampilkan semua postingan

11/25/2023

Asal Usul Daerah Blambangan menurut Times Indonesia


Membaca Balambangansch Adatrecht karya Dr.Y.W. De Stoppelaar (1927), kita dapat memahami bahwa ternyata yang mendikte sejarah Blambangan harus bermula dari Arya Wiraraja adalah Brandes yang didukung oleh Muhlefenfeld, Stoppelaar, dan sebagainya. Brandes tidak bisa membedakan antara Blambangan dengan Lamajang Tigangjuru-nya Arya Wiraraja.
 

Juga pendapat Brandes mengenai Bhre Wirabhumi. Kesalahan besarnya adalah menyamakan Mandala Wirabhumi dengan Kerajaan Blambangan, dan Stoppelaar menyamakan Bhre Wirabhumi dengan tokoh Menak Jinggo.

Kita tidak akan pernah menemukan sejarah Blambangan dalam karya mereka. Justru mereka membahas Lamajang Tigangjuru, loncat ke Mandala Wirabhumi dan melompat jauh ke Kabupaten Banyuwangi.

Menelusuri mitos Menak Jinggo merupakan hal yang sangat menarik untuk mengungkap apakah sosok ini tokoh fiktif atau nyata?.

Namanya adalah nama gelar ataukah nama sesungguhnya?, Apakah satu orang atau beberapa orang?. Dan yang paling utama, mengingat tokoh ini sangat diidentikkan dengan Blambangan dan Banyuwangi. Apakah Menak Jinggo berkaitan dengan Blambangan (dalam hal ini Banyuwangi) atau tidak?

Penelusuran ini mengarah kepada sisi politik dimana Blambangan selalu diadu secara paksa melawan Majapahit dan Mataram, termasuk adudomba antara Hindu melawan Islam.

Padahal fakta-fakta prasasti tidak pernah mengatakan adanya hal itu, karena Blambangan saya yakini belum berdiri saat Majapahit ada. Kecuali fanatisme sebagian kecil kita yang di Banyuwangi (sebagaimana orang daerah lain) yang selalu merasa bahwa daerahnya lebih hebat dari daerah lain.

Menganggap bahwa Blambangan baru ada setelah tahun 1400-an bukan berarti menjadikan wilayah Ujung Timur Pulau Jawa ini sebagai tanah tak bertuan di tahun-tahun sebelum itu.

Walau belum ada bukti catatan tertulis, namun peradaban pernah ada di Alas Purwo (Tegaldlimo Banyuwangi), Kendeng Lembu (Glenmore Banyuwangi), Kawah Ijen Banyuwangi, Situs-situs Megalitik di Bondowoso, Jember, dan Situbondo, juga Candi-candi di Jember, Lumajang, dan Probolinggo. Dapat disebutkan beberapa nama seperti Kerajaan Purwacarita dalam Babad Tanah Jawi dan Kerajaan Ijennagari/Tarumpura dalam Suluk Balumbung. Juga nama Sadeng, Ketah, Pakembangan, Patukangan, Lamajang dan sebagainya dalam Negarakertagama yang kesemuanya menggambarkan adanya peradaban tua yang sudah ada sebelum Blambangan ada di wilayah timur Jawa ini.

Seperti Keraton Jogjakarta Hadiningrat yang berdiri diatas reruntuhan Kerajaan Mataram Jawa. Kerajaan Mataram Jawa berdiri diatas reruntuhan Kesultanan Pajang. Kesultanan Pajang berdiri diatas reruntuhan Kerajaan Pengging. Kerajaan Pengging berdiri diatas reruntuhan Mandala Pajang (wilayah Bhre Pajang era Majapahit). Mandala Pajang berdiri diatas reruntuhan Kerajaan Boko/Prambanan. dan seterusnya.

Banyuwangi, Jember, Sitobondo, Bondowoso, Lumajang, dan Probolinggo juga berdiri dari reruntuhan Kerajaan Blambangan. Blambangan berdiri dari reruntuhan Mandala Wirabhumi dan Pakembangan serta Kadipaten Balumbung (era Majapahit). Kadipaten Balumbung dan Mandala Wirabhumi berdiri dari reruntuhan Majapahit Kedhaton Wetan. Majapahit Kedhaton Wetan berdiri dari reruntuhan Kerajaan Lamajang Tigangjuru, dan seterusnya.

Menurut saya, kita tidak perlu memaksakan nama Kerajaan Blambangan sudah ada sejak tahun sekian atau abad sekian.  Fakta yang saya dapatkan nama itu benar-benar ada pada tahun 1705 saat Prabu Danurejo membangun ibukota baru di Alas Kebhrukan Muncar yang disebut sebagai Kutharaja Blambangan (situs stinggil, Umpak Songo, dll).

Nama kerajaan pun tidak disebutkan dan jika diyakini Blambangan ada kaitannya dengan Hayam Wuruk, maka kerajaan itu lebih tepat jika disebut Kadipaten Balumbung, seperti tertulis dalam Negarakertagama.

Kita perlu mengingat bagaimana nama Kedhaton Singhasari (ibukota) lebih terkenal sebagai nama keraajaan daripada Tumapel yang merupakan nama sesungguhnya. Demikian pula Kedhaton Blambangan (ibukota) yang lebih popular daripada nama Balumbung.

Asal Mula Nama Blambangan
Nama Blambangan berasal dari kata Pa-lumbu-an. Lumbu di Jawa biasa disebut Talas/Suweg/ Walur/Lateng/Bunga bangkai. Mungkin ini alasannya mengapa Kedhaton Menak Cucu/ Menak Jinggo III di Candi Bang (daerah Wongsorejo) disebut Baluran dari kata Walur dan Ibukota Blambangan di Rogojampi disebut Kutho-Lateng.

Blambangan bisa juga berasal dari kata Pa-lambang-an yang dasarnya adalah Lambang/simbol, yaitu Simbol Dewa Siwa (Lingga-Yoni) yang merujuk pada pendapat bahwa Gunung Semeru/Meru/Mahameru yang ada di wilayah Blambangan dianggap sebagai Kailasa tempat Dewa Siwa beristana. Jadi Mahameru yang merupakan Simbol Siwa itu ada di wilayah Pa-lambang-an yang karenanya kemudian disebut Blambangan.

Nama Ba-Lumbung dapat dilihat di Negarakretagama dalam pupuh XXVIII. Saat itu kunjungan Hayam Wuruk ke daerah timur Majapahit ke suatu daerah yang disebut Patukangan (Panarukan/Situbondo). Di sana raja menerima para mentri Majapahit dari Bali, Madura, dan Ba-lumbung andalannya. Diperkirakan menteri yang ikut hadir di Patukangan mewakili Balumbung adalah Sira Dalem Sri Bhima Chili Kepakisan, karena dialah yang diangkat oleh Gajah Mada menjadi Adipati setelah pemberontakan Mpu Nambi berhasil dipadamkan tahun 1318. Kata lumbung disini berarti tempat menyimpan bahan pangan. Artinya, daerah ini adalah negeri subur yang gemah ripah loh jinawi.

Dengan argument tersebut, terungkap fakta tentang Blambangan; bahwa Kerajaan Lamajang Tingangjuru bukan Majapahit Kedhaton Wetan dan bukan pula Blambangan.Kerajaan Wirabhumi bukan Blambangan. Blambangan bukan hanya Banyuwangi. dan Blambangan tidak pernah berperang melawan Majapahit (Trowulan).

Bhre Wirabhumi dan Menak Jinggo
Cerita masyarakat selama ini menyebut bahwa di Blambangan hanya ada Adipati bernama Kebo Marcuet yang mengancam kekuasaan Ratu Majapahit Kencono Wungu (Prabustri Sri Suhita). Lalu sang ratu mengadakan sayembara untuk mengalahkan Kebo Marcuet dan siapa yang bisa mengalahkannya akan diangkat menjadi adipati Blambangan yang baru. Kemudian tampillah Jaka Umbaran yang berhasil mengalahkan Kebo Marcuet dan kemudian Jaka Umbaran diangkat menjadi adipati Blambangan bergelar Menak Jinggo.

Belakangan Adipati Menak Jinggo ingin merebut tahta Majapahit dan memperistri Kencono Wungu. Untuk menolak hal itu, Kencono Wungu mengadakan sayembara kedua. Siapa yang bisa membinasakan Menak Jinggo akan dijadikan suami. Kemudian muncullah tokoh Damarwulan yang sanggup mengalahkan Menak Jinggo.

Selama ini kisah Damarwulan melawan Menak Jinggo hanya kita simak sepotong dari dua kisah diatas. Pertama, Kebo Marcuet dikalahkan Jaka Umbaran alias Menak Jinggo. Kedua, Menak Jinggo dikalahkan Damarwulan. Kita hanya mengingat tentang kisah Damarwulan memenggal kepala Menak Jinggo, tapi kisah Kebo Marcuet justru kita lupakan.

Sekarang mari kita pilah satu persatu; Pertama, tentang Gelar Kebo, adalah gelar bangsawan keturunan raja. Identifikasi tentang tokoh Kebo Marcuet ini identik dengan putera seorang raja, lebih tepatnya putera Prabu Hayam Wuruk.

Kita selama ini hanya mengenalnya sebagai Bhre Wirabhumi, seorang putera Hayam Wuruk dari selir. Karena kurangnya wawasan sejarah, kita pun tidak mengetahui nama siapa nama aslinya. Padahal dalam Prasasti Biluluk diungkapkan bahwa dia bernama Bhattara Rajanatha, jadi inilah nama asli Bhre Wirabhumi.

Selanjutnya, arti kata Bhre dalam nama Bhre Wirabhumi adalah berasal dari kata Bhattara i (Raja di…), artinya Bhre Wirabhumi adalah raja di wilayah Wirabhumi. Atau Wirabhumi atau Bumi/Tanah nya Wira (Arya Wiraraja) tentu adalah daerah Lamajang dan Tigangjuru (Pasadehan/Pasuruan, Banger/Probolinggo, dan Patukangan/Situbondo).

Jadi sudah jelas bahwa Bhre Wirabhumi adalah raja di wilayah Wirabhumi yang mencakup; Lumajang, Pasuruan (timur), Probolinggo, dan Situbondo (barat), dimana Blambangan tidak termasuk di dalamnya.

Sekarang kita sudah mengetahui bahwa raja di Wirabhumi (Bhre Wirabhumi) yang merupakan Kebo, anak raja Hayam Wuruk ini bernama asli Bhattara Rajanatha. Dalam legenda dia disebut sebagai Kebo Marcuet.

Dalam identifikasi ini saya menyamakannya dengan tokoh Bhre Wirabhumi II yaitu Aji Rajanata Dyah Kebo Marcuet dalam Suluk Balumbung. Bhattara memiliki makna sepadan dengan Aji. Disebut Bhre Wirabhumi II karena sebelum bergelar Bhre ada satu tokoh lagi yang menjadi Bhre di Wirabhumi, yakni Negarawardhani, dialah Bhre Wirabhumi I.

Kedua, identifikasi selanjutnya adalah mengenai siapa sosok Jaka Umbaran yang berhasil mengalahkan Kebo Marcuet. Perang antara Jaka Umbaran sebagai panglima perang Majapahit dengan Bhre Wirabhumi II Bhattara Rajanatha Dyah Kebo Marcuet inilah yang dalam Pararaton disebut dengan Paregrek tahun 1402-1406.

Setelah Bhre Wirabhumi II Aji Rajanatha Dyah Kebo Marcuet kalah, maka Jaka Umbaran diangkat sebagai adipati menggantikannya. Disini jelas bahwa Ratu Kenconowungu tidak ingkar janji karena telah mengangkat Jaka Umbaran sebagai raja menggantikan Kebo Marcuet. Setelah menjadi raja yang baru, tokoh Jaka Umbaran yang menang sayembara pada tahun 1406 itu kemudian bergelar Adipati Menak Jinggo.

Jadi jelas bahwa putera Hayam Wuruk yang menjadi Bhre Wirabhumi itu bukanlah Menak Jinggo karena gelar Menak Jinggo diberikan untuk Jaka Umbaran. Artinya, Menak Jinggo bukan putera Hayam Wuruk dari selir. Karena putera raja itu bergelar Kebo, yaitu Kebo Marcuet, dan justru dia-lah yang dikalahkan oleh Jaka Umbaran alias Menak Jinggo.

Dalam sejarah Suluk Balumbung menyebut bahwa tokoh Joko Umbaran ini adalah nama lain dari Raden Gajah yaitu pimpinan pasukan pengawal istana Majapahit. Jabatannya adalah seorang Bra Narapati, karena itu dia juga dikenal sebagai Raden Gajah Narapati. Dia adalah putera dari Bima Sakti Kepakisan, yang dalam Babad Dalem disebut sebagai adipati Pasadehan/ Pasuruan. Maka ketika dia menjadi Bhre Wirabhumi III setelah berhasil mengalahkan Kebo Marcuet, dia memindahkan pusat pemerintahannya ke wilayahnya sendiri di Banger/ Probolinggo.

Jaka Umbaran alias Raden Gajah adalah seorang Bra Narapati menjadi Bhre Wirabhumi III dengan ibukota di Banger/Probolinggo bergelar Menak Jinggo.

Memberontak Kepada Majapahit
Saat ini kita tidak melanjutkan pembahasan tentang Kebo Marcuet atau Bhre Wirabhumi II Aji Rajanatha putera Hayam Wuruk. Namun yang sedang kita lacak adalah siapa yang memberontak kepada Majapahit.

Raden Gajah Narapati alias Menak Jinggo, dialah yang mengobarkan perang Banger tahun 1433 karena lamarannya terhadap Kenconowungu ditolak. Saat itu, Majapahit menggelar sayembara kedua dan muncul sosok Damarwulan mengalahkan Menak Jinggo.

Damarwulan adalah putera dari Prabu Wikramawardhana Dyah Gagak Sali dengan selirnya Dyah Aniswari (puteri dari Bhre Wirabhumi II Aji Rajanatha Dyah Kebo Marcuet).

Setelah mengalahkan Menak Jinggo dia tidak menikah dengan Ratu Kenconowungu yang merupakan kakak tiri beda ibu dengannya. Dia diangkat menjadi raja di Palembang. Sejarah mencatatnya sebagai Arya Damar atau Arya Dilah.

Semangat perjuangan Menak Jinggo itulah yang kemudian oleh masyarakat Banger/Probolinggo diabadikan sebagai nama supporter bola mereka. The Lasminggo (Laskar Menak Jinggo) pendukung Persipro (Persatuan Sepakbola Probolinggo).

Menak Jinggo tidak pernah disebut dalam fakta sejarah berdasarkan Prasasti, yang ada justru Sang Muggwing Jinggan yang artinya ‘penguasa di Jinggan’ yaitu sebuah daerah di wilayah Keling/Kediri.

Sang Muggwing Jinggan ini adalah gelar dari Pangeran Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya yang memberontak pada pemerintahan Prabu Singhawikramawardhana Dyah Suraprabhawa di Majapahit tahun 1478. Jadi sebutan bahwa Penguasa Jinggan adalah pemberontak itu lebih tepat disematkan pada tokoh Dyah Samarawijaya ini.

Dikaitkan dengan Blambangan

Dari ketiga sumber diatas; baik Bhre Wirabhumi II Aji Rajanatha Dyah Kebo Mercuet, dan Bhre Wirabhumi III Jaka Umbaran/Raden Gajah Narapati/Menak Jinggo, maupun Dyah Samarawijaya (Sang Muggwing Jinggan), jelas bahwa ketiganya tidak ada yang berkuasa di Ujung Timur Jawa. Lalu bagaimana bisa Menak Jinggo kemudian dianggap sebagai Raja Blambangan?.

Untuk memutus mata rantai sejarah yang akan diwariskan pada generasi yang akan datang, kompeni memang sengaja memerintahkan tangan-tangan lokal-nya untuk menulis ulang dan menyebarkan sejarah Blambangan yang baru versi mereka. Maka dari itu muncullah kisah-kisah kontroversial tentang Blambangan, dimana ciri khasnya adalah menjadikan Blambangan selalu pada posisi sebagai objek dan cenderung antagonis dalam sejarah daerah-daerah lain yang hanya dibahas secara sekilas.

Pada saat Kompeni memerintahkan penulisan legenda Damarwulan melawan Menak Jinggo menjadi Serat Kanda atau Serat Damarwulan, yang berkuasa di Blambangan saat itu adalah Pangeran Mas Sepuh alias Pangeran Jingga Danuningrat (1736-1764).

Semua mafhum bahwa selama ini kompeni selalu menerapkan politik devidet et impera kepada lawan-lawannya, termasuk kedua tulisan itu juga digunakan untuk mengadudomba antara Jawa dengan Blambangan. Antara orang Mataraman dengan orang Blambangan. Karena itu kemudian kompeni mendeskreditkan penguasa Blambangan dengan tuduhan dan hinaan sebagai seorang raja raksasa tak bermoral berkepala Anjing, kakinya pincang, bicaranya cadel, dan buruk rupa.

Pangeran Jingga Danuningrat dituduh sebagai keturunan Bali yang tak berhak berkuasa di ujung timur Jawa. Pangeran Jingga Danuningrat dituduh keturunan dari pemberontak. Dan Pangeran Jingga Danuningrat dituduh dengan berbagai macam tuduhan yang sangat tidak manusiawi. Kemudian namanya dikait-kaitkan dengan istilah Jinggan dan Jinggo untuk menguatkan kesan kebenaran cerita dalam Serat Kandha atau Serat Damarwulan, bahwa Pangeran Mas Sepuh alias Pangeran Jingga Danuningerat Raja Blambangan yang sedang berkuasa saat mitos ini ditulis adalah sama dengan tokoh Menak Jinggo.

Beredarnya Serat Damarwulan tentu semakin menyudutkan penduduk dan para pejuang Blambangan dalam Perang Bayu 1771-1772 agar kian terpinggir dan dibenci sekaligus ditakuti karena dianggap bukan keturunan manusia.

Adipati Mangkunegara IV Raden Mas Sudira, yang berkuasa tahun 1853-1881 diperintahkan untuk membuat sendratari dengan lakon Damarwulan Menak Jinggo. Setelah Adipati Mangkunegara IV mangkat pada tahun 1881, Belanda menempatkan salah satu puteranya yg bernama Harya Suganda menjadi Bupati Banyuwangi keenam (1881-1888) agar proses penyebaran cerita Menak Jinggo lebih maksimal.

Babad-babad tersebut kemudian sengaja banyak diedarkan pada abad 18 dan 19. Cerita-cerita tutur dibuat dan disebarkan melalui para pendongeng keliling yang dibiayai kompeni.

Setelah Generasi saksi mata banyak yang meninggal, maka muncullah generasi-generasi yang hanya mendengar cerita dari pendongeng keliling yang sengaja disebar kompeni tersebut. Akibatnya muncul banyak versi tentang satu kejadian yang sama dalam Sejarah Blambangan yang di masa kemudian membingungkan generasi anak-cucu. Sejarah Blambangan kini tertutupi oleh mitos dan kental dengan adu domba.

Kompeni Belanda sengaja membuat jurang pemisah atas dasar perbedaan etnis dan agama, serta menumbuhkan perpecahan di masyarakat dengan adudomba atas nama Agama, Suku, dan Daerah.

Padahal jika kita melihat dalam sejarah Blambangan secara lengkap, sebenarnya Blambangan itu tidak asing dengan budaya pluralisme-nya.

Maka Menak Jinggo yang sekarang kita pahami di Banyuwangi ini telah tumpang tindih. Kita harus jeli agar bisa melihat dan membedakan keempat tokoh berikut;

Pertama, yang merupakan putera Hayam Wuruk adalah Bhre Wirabhumi II yaitu Aji Rajanatha Dyah Kebo Mercuet.

Kedua, yang melamar Suhita atau Kenconowungu adalah Bhre Wirabhumi III yaitu Jaka Umbaran alias Raden Gajah Narapati alias Menak Jinggo.  

Ketiga, yang berkuasa di Jinggan dan memberontak pada Majapahit adalah Sang Muggwing Jinggan, Pangeran Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya.

Keempat, yang merupakan raja Blambangan adalah Pangeran Mas Sepuh/Pangeran Jingga Danuningrat.

Empat tokoh beda masa dan beda kronologis sejarahnya itu telah dicampur aduk menjadi satu tokoh benama Menak Jinggo dengan segala kebejatan dan keburukan moralnya lalu disematkan sebagai Raja Blambangan oleh lawan politiknya.

Penutup
Selama ini kita menganggap Bhre Wirabhumi II putera Hayam Wuruk adalah sosok Menak Jinggo. Padahal Menak Jinggo yang selama ini kita bela sebenarnya lebih tepat adalah Jaka Umbaran alias Raden Gajah Narapati adalah raja Ywangga atau Banger alias Probolinggo.

Mungkin jika kita mengkultuskan sosok Menak Jinggo sebagai ikon Banyuwangi sangatlah kurang wajar dan tidak logis. karena berdasarkan sejarah atau cerita rakyat dan letak geografis, Menak Jinggo adalah berasal dan meninggal di Probolinggo, bukan di Banyuwangi.

Disamping itu, masyarakat Probolinggo juga membuktikan kecintaan pada rajanya ini dengan mengabadikannya sebagai julukan untuk suporter Persipro yaitu “The Lasminggo” Laskar Menak Jinggo.

Kita sebagai rakyat Banyuwangi, jika tidak jeli akan pemalsuan sejarah oleh Belanda ini kemudian membela habis-habisan sosok Menak Jinggo, raja Wirabhumi III yang justru bertahta di Probolinggo.

Selama ini kita membantah Menak Jinggo yang digambarkan sebagai raksasa, kejam, cadel, buruk rupa, berkepala anjing, pincang, bengis, licik, dengan segala keburukan lainnya, dan membelanya dengan mengatakan bahwa Menak Jinggo adalah sosok yang tampan, gagah perkasa, pemberani, dan setia sehingga layak kita agungkan dan kita bangun patungnya di seantero wilayah untuk membuktikan bahwa Menak Jinggo tidak seperti yang diceritakan selama ini. Tapi sayangnya, yang kita bela dan kita sanjung-sanjung itu ternyata bukanlah raja Blambangan.

Sudah seharusnya kita mempelajari sejarah kita lebih dalam lagi, bukan hanya bermodal katanya dan katanya, tapi berdasarkan sumber yang benar, yang tentu bukan karangan Belanda. Agar kita dapat mengenali siapa saja raja-raja Blambangan dan adakah dalam silsilah raja-raja Blambangan itu sosok bernama Menak Jinggo?.

Sinisme antara Jawa atau Mataraman dengan Blambangan harus diakhiri. Adudomba warisan Belanda itu harus disudahi.

Bagaimanapun akan sangat lucu, karena Belanda yang mengadudomba telah pulang ke negaranya, namun kita dengan setia dan tulus ikhlas tetap melestarikan adudomba nya itu.

Ketika kedua belah pihak sama-sama saling membenci dan mencurigai, maka persatuan di Banyuwangi tidak akan terjadi. Dan jika persatuan tidak terjadi, maka penjajahan gaya baru pun akan terus abadi.(*)

Sumber : Times Indonesia, 17 September 2017

 

7/10/2023

HARI-HARI TERAKHIR FITRAH ALAMSYAH, GITARIS JAMRUD

 
 
SEJAK RABU PEKAN LALU TELAH TIGA HARI FITRAH ALAMSYAH, GITARIS JAMRUD, TERGOLEK DI RANJANG RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG. IA TAMPAK LEBIH SEHAT KETIMBANG KETIKA BARU MASUK RUMAH SAKIT. HERNI SUGIARTINI, ISTRI FITRAH, DENGAN SUKA CITA MEMBAWA TABLOID MUMU EDISI 47 DENGAN KAVER LOG ZHELEBOUR, UNTUK DIPERLIHATKAN KEPADA AYAH DUA ANAK ITU.
 
“ Berkali-kali dia meminta saya untuk memandikan dirinya, jika ia meninggal “
Herni berharap Ifit – panggilan akrab Fitrah senang menerima tabloid MuMu karena di kaver itu juga tertempel gambar para personel Jamrud, termasuk Ifit. Herni mengabarkan kepada sang suami bahwa Jamrud ditulis bakal tur di 8 kota Sumatra. “Bukannya bergembira, wajah Kang Ifit malah kelihatan sedih,” tutur Herni sendu. Ifit lalu membalikkan wajahnya ke kiri.
 
Ia lantas menunjukkan tabloid yang disorongkan istrinya kepada rekan satu kamar yang dirawat di sebelah tempat tidurnya. “Kang, lihat, ada foto saya di sini,” kata Ifit kalem.
 
Sementara sang istri akan menebus obat di apotek, sekitar pukul 16.30 Ifit memaksa agar dibelikan Fanta merah dingin. Permintaan itu membuat kalang kabut keluarga yang menunggui Ifit. Mereka lantas berkonsultasi dengan perawat. Tapi selang satu jam kemudian Ifit terbatuk dan mengeluarkan dahak.
 
Tak berapa lama kemudian anak sulung dari empat bersaudara itu Astaghfirullah – muntah darah dan buang air besar. “Livernya pecah,” kata Herni kelu. Sekitar pukul 19.00 ia tak sadarkan diri. Ifit yang mengidap penyakit liver, jantung, dan paru-paru, pergi menghadap Illahi Rabbi pukul 20.00. Innalillahi wa innailaihi rojiun.
 
Sebelum dirawat di RS Hasan Sadikin, Ifit sempat dirawat di rumah sakit Boromeus, Bandung, selama sepekan. Setelah dinyatakan kondisi tubuhnya lebih sehat ia diperbolehkan untuk dirawat di rumah. Namun, Ifit cuma sempat dirawat di rumah selama empat hari, hingga ia anfal dan mesti dirawat kembali di RS Hasan Sadikin, Rabu pekan lalu. Hingga ia menghadap Tuhan.
******
Pekuburan Cibarunai Sarijadi, Bandung. Sabtu, 14 Agustus 1999. Matahari telah menyundul di atas kepala. Jam menunjuk pukul 13.00. Vidya Tamalinda Fitri, anak kedua Fitrah yang tanggal lahirnya sama dengan dirinya asyik melompat-lompat di sebelah makam sang ayah yang lahir 14 September 1972.
“Papa lagi tidur,” kata bocah tiga tahun itu tenang. Herni yang sedang tersandung duka tak mampu menahan air mata. Sementara Nadya Chindanita Putri, kelahiran 8 Desember 1993, dengan tenang berdiri di sebelah ibunya.
 
Fitrah tidur dalam keabadian di seberang makam ibunya, Ratna Gumilang yang meninggal setahun yang lalu, diantar oleh orang-orang yang dikasihinya, istri, anak, keluarga dekat, para kerabat, musisi Bandung, dan rekan-rekan satu grup Jamrud, Azis MS, Ricky Teddy, Krisyanto, dan Agus. “Kang Ifit memang meminta kepada saya agar dimakamkan di samping kuburan mami,” tutur Herni.
 
Tanda-tanda Fitrah bakal pergi, cerita Herni, telah terlontar sejak ia menderita sakit Mei lalu (saat Jamrud tur) dan dirawat di Yogyakarta selama sekitar delapan hari. “Dia berkali-kali menyebut mau mati.”
 
Sejak menderita sakit di Yogya itu, Ifit sering kelihatan murung dan kerap menyendiri. Berkali-kali ia sering mengeluhkan kondisi fisiknya. “Ifit sebenarnya harus bisa sembuh, tapi kenapa ya kok nggak bisa.”
 
Suatu ketika ia bilang kepada sang istri bahwa ia sangat menyayangi keluarga. “Namun dia jadi kelihatan tertutup. Yang dibicarakan selalu soal kematian. Berkali-kali dia meminta saya untuk memandikan dirinya, jika ia meninggal. Dan permintaan itu saya penuhi,” katanya lirih.
 
******
 
Sabtu itu, saat Fitrah berangkat menghadap Allah yang memiliki hidup, sebenarnya para personel Jamrud harus berada di Jakarta bertemu dengan Log Zhelebour, manajer dan produser mereka. Tapi Allah berkehendak lain. Keberangkatan ke Jakarta itu batal.
 
Rencananya, Jamrud ke Jakarta untuk membicarakan masalah Tur 8 Kota Sumatra sekaligus mendiskusikan soal Sandy yang sedang dalam perawatan ketergantungan obat di salah satu pesantren di Ciamis dan tentang kondisi kesehatan Fitrah. “Melihat kondisi kesehatan Fitrah, kami telah memutuskan bahwa Fitrah tak bakal bisa aktif sampai Desember, termasuk Tur di Sumatra. Sudah beberapa bulan ini kondisi fisik Fitrah tidak fit,” ujar Azis MS, gitaris dan motor Jamrud.
“Meskipun Fitrah tahu bahwa dirinya tak mungkin ikut tur, toh ia takut posisinya digantikan oleh Surya, roadies kami. 
 
Itu mungkin yang bikin ia tampak sedih selama sakit. Buat dia, grup adalah segala-galanya, tanggung jawabnya sangat besar. Saya sangat kehilangan dengan kepergian Fitrah. Tapi yang jelas, Fitrah meninggal bukan karena OD (over dosis),” kata Azis menambahkan.
 
Sejak ia mesti dirawat di Yogyakarta dan tak bisa meneruskan tur bersama Jamrud, kata Azis, ia amat takut kepada drug. Ini karena ia melihat contoh Sandy yang mesti direhabilitasi. “Gue kapok, sakit sekali. Apalagi mesti diinfus dan memakai tabung oksigen,” tutur Fitrah seperti diceritakan Azis.
 
Apapun, bukan Cuma di mata Azis, di mata Ricky, Krisyanto, dan Log, Fitrah adalah sahabat yang mengerti soal tanggung jawab. “Melihat kondisi kesehatannya yang memprihatinkan, saya melihat peluang hidupnya tipis. Tapi sebagai sahabat, saya terus berdoa semoga ia lekas sembuh. Meski kondisi fisiknya lemah, Ifit benar-benar sangat mengundang simpati saya, ketika ia tetap ingin tampil bersama grup untuk main saat ia mesti dirawat di Yogya. Saya benar-benar kehilangan dengan kepergian Ifit,” cerita Ricky, pencabik bas Jamrud.
 
“Ifit kerap berkeluh kesah dengan saya, tepatnya bercerita soal keluarganya. Ia amat menyayangi Istri dan anak-anaknya. Di mata saya dia adalah teman yang suka ngebodor (humoris). Saya tak bisa menghilangkan kenangan selama sekitar tujuh tahun berteman dengannya ketika kami masih dalam grup Jamrock,” tutur Krisyanto, vokalis Jamrud.
 
Wujud kenangan kepada Fitrah itu, barangkali, bisa terwakili lewat lagu Maaf ciptaan Azis MS dari album Putri
 
“... aku masih sayang padamu seperti dulu dan kuharap kaupun tahu ingin kumiliki rasa yang dulu pernah ada ....”
 
Dikutip Dari Tabloid MUMU, Edisi 19 Agustus 1999

2/01/2023

Jamrud : From Kebonsari With Rock (Memoar Perjalanan Karier)

SEDAN Timor warna metalik terparkir di pekarangan yang difungsikan sebagai garasi. Terpaut beberapa jengkal, terhalang dinding pintu utama, seorang perempuan berkulit langsat sedang membuang rasa penat setelah seharian bekerja. Ia memainkan game kartu solitaire di depan komputer pribadinya.  

Sejurus kemudian, ia menggerakkan mouse, mematikan komputer. “Hai,” sapanya pendek, spontan, nyaris tanpa disadarinya. Ia bangkit dari tempat duduknya, berjalan dengan anggun melewati samping pesawat televisi dan duduk di sofa kain berlatar kuning-biru. Di tangannya, tergenggam handphone mungil keluaran terbaru Motorola.  

Delapan tahun menikah, dan dikarunia tiga anak—Puspa Asri Wulandari, Vai Andika Putra dan Axel Andika Putra—tidak membuatnya lekas terlihat tua. Wajahnya tampak terawat secara teratur, kulitnya tetap kencang. Satu-satunya yang berubah dari penampilan fisiknya adalah gelambir di bagian perutnya, tanda ia habis melahirkan. “Bayi di kakak, di Jakarta,” kata Dian Fridianie, demikian nama perempuan tadi.  

Fridianie, 28 tahun, sempat menjalani profesi model pada awal 1990-an. Kini, ia bekerja di sebuah bank swasta, tak jauh dari tempat tinggalnya, Cimahi. Status lain yang melekat padanya adalah istri gitaris Azis M. Siagian, motor penggerak Jamrud, kelompok musik yang sedang meraksasa dalam tiga tahun terakhir ini.  

“Dia,” tutur Fridianie mengacu suaminya, ”suka banget barang-barang seni. Kalau seneng, berapa pun pasti dia beli.” Ia melayangkan matanya ke dinding sayap kanan ruangan. “Itu dari Pak Toto,” ia menunjuk lukisan armada perahu layar tradisional yang sedang dimainkan ombak laut. Toto Sunu adalah pelukis ternama asal Cirebon. Dia memberikan lukisan kepada Siagian hanya karena salah seorang anaknya penggemar fanatik Jamrud.  

Tak hanya lukisan Toto Sunu yang menghiasi ruang tamu yang merangkap ruang keluarga plus ruang kerja Siagian tersebut. Sekurang-kurangnya ada lima lukisan lain, yang sebagian di antaranya diletakkan asal tempel. Barang-barang lain, seperti guci Cina, ukiran etnik dari Irian, Kalimantan, Solo dan arca-arca khas Bali menambah ketidakteraturan ruangan berukuran sekitar 5 x 8 meter persegi itu. Mungkin akan seperti kapal pecah jadinya kalau saja Siagian tidak melarikan sebagian koleksinya ke rumah barunya yang sedang dibangun di kompleks perumahan mewah Taman Mutiara, Cibabat, Bandung, seluas kurang lebih 330 meter persegi.  

Sedianya rumah berlantai dua itu, yang sudah makan anggaran senilai Rp 700 juta, bisa ditempati Oktober 2001. Namun, lantaran sering dibongkar-pasang, penempatan jadi molor. Dana pembangunan pun hampir dapat dipastikan akan membengkak. Pembangunan studio, ruang kerja dengan segala aksesorinya serta perabotan rumah tangga, itulah pangkalnya.  

“Sebagian dinding rumah ingin ditempeli koleksinya,” kata Fridianie, seraya mengungkapkan, dalam beberapa bulan terakhir ini, Siagian makin keranjingan memborong barang-barang bernilai seni. Sehabis pulang promo tur, ada saja yang dibawanya. Bahkan, beberapa di antaranya, taruhlah gembyok ukiran Solo, diangkut dengan truk sewaan.  

Siagian, begitu pula sejawatnya di Jamrud, mungkin sedang menghadapi masalah kecil setelah sukses besar selama ini: kebanjiran uang dan repot membelanjakannya.  

CIMAHI, 1984. Sekelompok anak muda biasa mangkal di sebuah rumah di Jalan Kebonsari, Cimahi: memetik gitar, nyanyi-nyanyi sekenanya. Sesekali menggeber tape. Dijamin, mereka tidak sedang beramal biar tetangga terdekat ikut dengar. Kuping mereka baru ngeh bila mendengar hentakan suara drum, distorsi gitar elektrik, dan lengkingan vokal.  

Dari kumpul-kumpul sehabis pulang sekolah itulah mereka sampai pada cita-cita untuk membangun sebuah kelompok musik. Penggebuk drum Budi Haryono, belakangan bermain untuk Gigi, pemetik bas Ricky Teddy dan gitaris Azis M. Siagian, pun berlatih dengan tekun. Lagu-lagu Rush—kelompok musik asal Kanada, yang diawaki Gary Lee Weinrib, Alex Lifeson dan John Rutsey—lengkap dengan aksi panggungnya, mereka jiplak habis. Begitu hapal dua-tiga lagu, mereka naik panggung dengan rasa percaya diri yang besar. Sebagian didorong oleh tekad mereka untuk segera dikenal publik, sebagian karena teler dari telapak kaki sampai ubun-ubun.  

Tidak sia-sia. Tetangga mereka membaptisnya sebagai rocker.  

Di belakang hari, muncul kebutuhan untuk memberi cap pada kelompok. Mereka kemudian menyebut diri Jam. Nama ini dipilih lantaran sifat kelompok mereka yang nge-jam. Siapa saja boleh masuk. Konsekuensinya, orang sering salah persepsi menyebut mereka sebagai kelompok musik yang gemar bongkar pasang personil. Konsekuensi lain, perputaran ide musik mereka berlangsung dalam intensitas tinggi dan kompleks. 

Kesan yang bekembang, ‘jenis kelamin’ musik mereka menjadi tak jelas. Hari ini mereka bereksperimen dengan heavy metal, besoknya asyik-masyuk dengan black metal, atau thrash. Di kesempatan lain, mereka terbenam ke dasar hardcore dan grindcore, dengan segala sensasinya. Sisi menariknya, musik Rush yang mereka mainkan, boleh dibilang sama seksinya dengan ketika mereka menggeber irama cepat Deep Purple, Iron Maiden, Halloween. “Kami tak memikirkan rekaman,” kata Siagian, “yang paling penting pentas bagus.”  

Panggung besar atau kecil, kafe atau kedai, mereka jelajahi dengan hati riang. Tujuannya apalagi kalau bukan berusaha menjangkau publik yang lebih luas. Populer hanya sebatas tetangga rupanya membuat mereka bosan juga.  

Ekspansi pentas dicanangkan. Dan mereka manggung di berbagai pelosok kota Bandung. Nama Jam sayup-sayup mulai terdengar di kalangan anak muda pecinta rock. Jangan tanya honor main. Masih untung sekali tampil mereka dibayar Rp 25 ribu, panitia-panitia pertunjukkan yang bermodal cekak tak jarang cuma mengganjar mereka dengan ucapan ‘terima kasih’, yang di kalangan rocker dikenal dengan sebutan “proyek tengkyu”.  

Denny Sabri Gandanegara, promotor pertunjukan—yang di tahun 1975 menggetarkan panggung pertunjukkan di Jakarta dengan mendatangkan Deep Purple, supergrup heavy metal asal Inggris—melirik mereka. Di paruh 1980-an, mereka diajak pentas di berbagai daerah di Jawa Barat selama setahun. Mereka makin berkibar.  

Budi Haryono, yang makin dekat ke jazz, terutama fusion, keluar. Tahun 1989, mereka menegaskan diri sebagai kelompok musik rock. Di belakang nama Jam, mereka letakkan rock. Jamrock. Formasinya pun relatif stabil, dengan personil Azis M.Siagian, Ricky Teddy, Agus Sahara, dan Oppi. Setahap demi setahap, mereka mencari identitas musik, seraya mencoba menciptakan lagu. Sesekali mereka mendatangi produser rekaman untuk mengantar kaset demo. Tapi, usaha mereka selalu kandas. Para produser umumnya memiliki alasan seragam: lagu-lagu mereka terlalu keras.  

Tak ada buku harian yang menuliskan perasaan mereka ketika salah satu kaset demonya disambut promotor-cum-produser Log Zhelebour, pemilik Logiss Record. Log sendiri merasa yakin dengan pilihannya. Ia merasa, Jamrud akan mampu berkembang karena kekhasan yang dimilikinya, yakni teknik dan keterampilan bermusik yang searah dengan zaman. Mereka menggabungkan berbagai irama musik yang sedang trendy sedemikian rupa sehingga mudah memasuki referensi pecinta musik rock.  

“Mereka memang lain,” tandas Log.  

“Log itu lebih tahu apa yang musti dia rekam. Kupingnya sakti,” komentar Bens Leo, wartawan senior yang banyak mengamati peta musik Indonesia.  

Tahun 1995, Jamrock berubah jadi Jamrud.  

Ricky Teddy masih memetik bas. Tapi vokalis Oppi digantikan Krisyanto alias Anto. Sandy Handoko jadi drummer tetap. Fitrah Alamsyah masuk sebagai gitaris, mendampingi Azis M.Siagian sebagai melodis. Perubahan formasi bukan satu-satunya alasan perubahan nama kelompok. Sudah menjadi rahasia umum, kelompok dengan nama berbau asing relatif punya hambatan ketika masuk dapur rekaman. Mereka agaknya ingin memperkecil resiko nonteknis semacam itu.  

Lagi pula Log punya core ideology untuk membumikan rock dalam peta pergaulan musik Indonesia. Ia tidak perlu mendakwahi para musisi, atau mengirim rilis-rilis ke media massa. Demi ambisinya, sejak pertengahan 1980-an, Log mengadakan serangkaian festival yang mewajibkan pesertanya membawakan lagu ciptaan sendiri. Mulanya, ini jadi bahan tertawaan. Tapi, sejarah kemudian menunjukkan, justru Log yang tertawa paling akhir ketika mereka yang mengejeknya sudah mengatupkan mulut. Mereka berhenti tertawa setelah melihat kader-kader rock berbahasa Melayu kader festival—sebut saja El Pamas, Power Metal atau Slank—terbukti mampu eksis dan bahkan mulai mengukuhkan rock sebagai sandaran profesi.  

Jamrud sendiri tidak saja diikat oleh kontrak pembuatan album, tapi juga promo tur ke sejumlah kota. Untuk kontrak rekaman, mereka diberi hak royalti. Jamrud akan menerima bagian keuntungan setelah penjualan melewati break event point yang dipatok pada angka 50 ribu keping. Di luar tetek-bengek tadi, master album mereka dibayar penuh.  

Album pertama mereka, Nekad, yang dirilis pada 1996, terjual 120 ribu keping. Tentu saja, ditilik dari hitung-hitungan bisnis, ini bukan prestasi spektakuler. Namun, untuk ukuran pemula, mereka boleh berlega hati agaknya. Banyak pemusik yang garang di atas panggung, gagap di dapur rekaman. Dan begitu albumnya dilarikan ke pasar, penggemar tak mengenali siapa mereka sebenarnya. Penjualan jeblog. Produser nombok. Semangat turun ke titik nadir. Habis.  

Pada Nekad, Jamrud memanjakan fansnya dengan irama musik campur-aduk. Thrash metal dan rap, begitu kebanyakan wartawan menyebut identitas musik mereka. Tidak salah-salah amat karena memang Jamrud penuh dengan ledakan, kecepatan bermain yang tinggi, serta vokal yang gahar dan liar. Tapi juga tidak sepenuhnya benar lantaran pada beberapa lagu unggulan, katakanlah Nekad dan Cerita di Jalanan, Jamrud ternyata tidak terlampau bergantung pada penggunaan distorsi gitar. Vokalnya pun keluar dengan intonasi yang jelas. Jamrud tampaknya lebih pas disebut sebagai bagian dari komunitas hip metal, irama yang memadukan hip-hop dan heavy metal, seperti idiom-idiom yang melekat pada Radio Head, Pulp, Nokturnl, Massive Attack, Green Day atau kelompok musik yang berlari kencang dengan Rollin’ dan Mission Imposible, Limp Bizkit.  

“Aku suka musik apa saja. Death metal atau underground,” ungkap Azis M. Siagian, serius, “tapi art rock adalah dasar musikku.”  

Dua tahun kemudian, Jamrud meluncurkan Putri. Angka penjualan album ini mencapai 260 ribu keping. Kalangan industri musik terperangah. Senyum di bibir Log mengembang. Awak Jamrud tiba-tiba saja melihat hobinya sebagai cara gampang untuk menimbun uang.  

Album kedua belum juga menunjukkan karakter musik mereka yang sesungguhnya. Yang pantas dicatat, kesan sangar sudah mulai berkurang di sini. Mereka tak lagi mengesankan datang dari planet lain, egois, asosial. Putri memberi kelembutan, sekaligus menjadi sarana eskapis bagi Jamrud untuk ikut memikirkan lingkungan di sekitarnya. Unek-unek mereka lepaskan, kritik sosial mereka lontarkan. Tentu dengan bahasa mereka sendiri; bahasa yang dimengerti oleh publiknya. Untuk mempertegas aksentuasi, klip video album ini memperlihatkan Anto bernyanyi dengan megafon, tak ubahnya penampilan-penampilan pemusik grunge, yang cenderung berteriak kepada audiens-nya agar, sebagai kaum marginal, suara dapat mereka didengar.  

Segala macam kau coba asal bau U.S.A. 

Dari Red Lebel hingga tanpa B.H  .

Tingkah Laku berubah serasa hidup di L.A.  

Dan kau pun bangga  

Putri, sayang tubuhmu koq digratisin

Hanya untuk kejar satu kata, biar dibilang seksi  

Kecuali AN-Teve, seluruh stasiun televisi kontan menyambutnya dengan antusias. Ada apa sesungguhnya dengan AN-Teve? Stasiun televisi swasta yang paling kering perolehan iklan ini menilai Putri melecehkan perempuan. Hal menarik, tidak hanya Putri, dua lagu lain yang jauh dari isu gender, yakni Berakit-rakit dan Asal British, ikut-ikutan kena jegal.  

“Saya hanya ingin berkata apa adanya. Tidak punya pretensi lain,” ujar Siagian, “dulu kita suka bikin lagu dengan kata-kata kiasan. Lebih ke God Bless. Zaman itu lirik-lirik seperti itu kami anggap berkelas.”  

“Putri, secara keseluruhan sarat dengan pesan moral,” tandas Log. Ia tidak menunjukkan di mana letak pesan itu. Tapi, para penggemar Jamrud yang menyimak bait demi bait syair Putri secara seksama, niscaya akan mengamini ucapan Log:  

Putri, harusnya kamu ada di rumah  

Isi PR atau les fisika 

Bukan di diskotik  

ALBUM ketiga meleset dari target. ‘Cuma’ terjual sebanyak 840 ribu keping. Tadinya, Log mencanangkan Terima Kasih dapat menotok angka penjualan sejuta keping.  

Di luar target atau tidak, rekor sebesar itu bukannya tanpa makna apapun. Lintas diakhronis menunjukkan, generasi pendahulu mereka—yang sama-sama berkubang di blantika musik rock, mulai Super Kid, Staccato, AKA, Rollies hingga God Bless—tidak pernah membuat catatan penjualan segigantis itu. Rekor penjualan album rock tertinggi hanya bisa dicapai Semut Hitam God Bless dalam kisaran 300 – 400 ribu keping.  

“Kami tidak menyangka album Terima Kasih bisa terjual begitu banyak,” kata Krisyanto. Bisa dipahami kalau ia tidak habis pikir. Betapa pun, Terima Kasih dilempar ke pasaran saat daya beli masyarakat melemah gara-gara dihajar krisis ekonomi sejak paruh 1997, menjelang hari-hari kejatuhan Soeharto dari kursi kekuasaannya di suprastruktur politik nasional. “Ini fenomena luar biasa,” Bens Leo memuji Jamrud, “dalam sejarah musik Indonesia belum pernah terjadi seperti ini.”  

Tak hanya panen duit. Mereka pun panen platinum. Sekurang-kurangnya lima platinum mereka sabet ketika angka penjualan mencapai titik 750 ribu keping. Selesai? Masih ada cerita lainnya. Album Terima Kasih tak urung mendapatkan dua penghargaan versi Anugerah Musik Indonesia untuk kategori Grup Rock dan Album Rock Terbaik. Sekiranya menunggu beberapa bulan lagi, mungkin panitia juga mesti memberikan penghargaan lain: Album Rock Terlaris Tahun 2000.  

Suka-duka adakalanya mirip roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Ini juga yang terjadi ketika Jamrud sedang menikmati sukses besar Terima Kasih. Pemain gitar rhytem Fitrah Alamsyah, yang selama ini mencandui putaw, akhirnya masuk liang lahat karena over dosis. 

Di tahun 2000 pula, sang penggebuk drum Sandy Handoko menyusul ke alam baka. Publik terhenyak. Jamrud terkulai. Sejumlah proyek di depannya, di antaranya menyelesaikan promo tur, terancam babak-belur. Rencana rekaman album keempat pun nyaris berantakkan.  

Azis M. Siagian terus membakar semangat. Jamrud kembali bangkit. Dan rencana rekaman, yang selama ini digembar-gemborkan ke publiknya di atas pentas, segera dimatangkan. Tak tanggung-tanggung, pekerjaan mastering dan mixing mereka kerjakan sekalian di 301 Studio, Sydney, Australia. “Kita tak bisa lagi menunda,” ujar gitaris yang merasa nyaman bercelana pendek saat beraksi di atas panggung, itu.  

Posisi Sandy Handoko, yang sempat menyumbangkan gebukan drumnya untuk lagu Surti-Teddjo, digantikan Herman. Drummer berpenampilan kalem ini bukan orang baru. Ia, selain Agus Sahara—bekas drummer Jamrud semasa bernama Jamrock—sering diikutsertakan tur jika Handoko absen. Kualitas bermain Herman, yang jarang memukul cymbal, boleh dibilang sama bagusnya. Kelebihannya, tentu saja dalam stamina.  

Album Ningrat keluar. Sejak jauh-jauh hari, Ningrat diproyeksikan untuk mencetak angka penjualan hingga mencapai dua juta keping. Dan mereka tidak sedang mengigau. Tanda-tanda bakal sukses sudah terekam pada bulan ketiga sejak Ningrat dirilis pada Desember 2000. Sekurang-kurangnya 600 ribu keping disikat pembeli. Menjelang akhir Oktober 2001, sekitar 1,85 juta keping diserap pasar.  

“Itu rekaman versi original. Kita belum menghitung jumlah album bajakan. Mungkin lebih banyak dari versi original,” kata Bens Leo, bersemangat. “Kabarnya, ini...ini belum bisa dibuktikan secara akurat, album versi bajakan bisa saja beredar lebih kencang di pasaran. Bisa enam sampai delapan kali lipat.” Kalau benar? Paling tidak Jamrud menyamai angka penjualan single Britney Spears terakhir, Oops...I Did It Again, yang delapan juta keping itu.  

Seperti penjudi yang merasa auranya sedang naik, produser Log Zhelebour bertaruh besar-besaran untuk mendongkrak angka penjualan Ningrat. Pada tahap awal, ia membuat sedikitnya lima klip video. Empat sutradara dari production house yang berbeda dikerahkan untuk proyek ambisius ini. 

Lagu Ningrat digarap oleh Richard Buntario dari Broadcast Design Indonesia (BDI), Asal British oleh Ria Irawan, Pelangi di Matamu oleh Rama M dari V-nergi, serta Kabari Aku dan Surti-Tejo oleh Jose Poernomo dari Rexinema. Ketika Ningrat mulai memasuki titik saturasi pada bulan ketujuh, Log membuatkan dua klip lagu berikutnya: Fuck Off ditangani oleh Oleg Sanchabakhtiar dari Planet Desain Indonesia, serta Jauh lagi-lagi oleh Jauh Rama Mugiharto dari rumah produksi V-nergi. Berbeda dengan klip-klip sebelumnya yang menggunakan Betacam, Jauh menggunakan pita seluloid film.  

Album baru mereka terasa lebih solid dan berani. Setidaknya, Jamrud mulai tertarik bereksperimen mengkomposisikan nada diatonis dan pentatonis. “Kami perlu memasukan unsur musik lain tanpa meninggalkan warna rock aslinya,” kata Krisyanto, vokalis Jamrud. Krisyanto tak asal nguap, agaknya. Dengarlah Ningrat, lagu maskot album tadi. Kecepatan dan ledakan thrash, menyatu secara imanens dengan techno yang bertumpu pada modifikasi vokal Krisyanto dan orkestra gamelan yang memberi harmonisasi pada interlude.  

Drum dengan beat-beat yang menggelegar serta distorsi gitar, tidak lagi menjadi andalan selayaknya album-album sebelumnya. Hasilnya, tidak hanya lagu-lagu cepat dapat mereka larikan, irama lamban pun dapat mereka atur langkahnya. Cobalah putar Surti-Tejo, yang mengawinkan string section, akustik dan bahkan acappela yang tak karu-karuan; seolah hendak mengejek genre musik yang bermodalkan semata vokal itu. 

Surti-Tejo, lagu dengan syair sederhana tentang pemuda desa yang mengalami kekacauan sikap dan tingkah laku setelah terbius kehidupan kota, banyak menerima cipratan pujian. Acara tahunan Kado Musik Indonesia yang digelar Forum Wartawan Musik pada 2001, melesakkannya ke dalam daftar nomine Lirik Lagu Terbaik. Di ‘MTV Ampuh’ (Ajang Musik Pribumi Sepuluh), klip Surti-Tejo, bertengger sampai 10 minggu.

Lagu Ningrat sendiri tak kurang gaungnya. Anak taman kanak-kanak pun banyak meneriakkan “Pak Le...Bu De...” yang menjadi intro lagu ini. Seperti juga Surti-Tejo, lagu Ningrat berangkat dari keharuan sosial ala Jamrud. Ningrat jelas meledek feodalisme, menendang formalisme dan basi-basi. Untuk syair ‘wong edan’ ini, produser Log Zhelebour berapologia, “Inilah style Jamrud dalam mengekspresikan atau mengungkapkan suatu peristiwa yang terjadi di sekitar generasi muda. Jujur, transparan dan nakal.”


ROCK Indonesia adalah Log. Log adalah musik rock Indonesia. Jauh sebelum Warner Music Indonesia dan Sony Musik masuk ke negeri ini, Log sudah membangun kerajaan rock, dengan Surabaya sebagai ibukotanya dan Jakarta sebagai syahbandarnya. Ia memulainya dari nol selama lebih dari 20 tahun. Kini, ia tinggal menikmati jerih payahnya sebagai raja rock pribumi yang amat berkuasa. Wilayah kedaulatannya sekurang-kurangnya meliputi Logiss Record untuk rekaman, dan Log Zhelebour Production untuk pertunjukkan.

“Saya konsentrasi total di rock. Dan akan tetap konsisten,” ujar Log Zhelebour, sang produser itu. Ia berbicara dengan nada naik, penuh semangat, optimis pada pilihan hidupnya. “Saya nggak mau jadi pelacur, jadi produser yang ngerjain apa saja asal ada duit.”

Lahir di Surabaya pada 1959, Log memulai karir di dunia hiburan sebagai penyelenggara pesta disko yang mulai meruyak sejak pertengahan 1970-an ketika dunia diguncang oleh lagu-lagu Booney M serta film-film John Travolta seperti Saturday Night Fever atau Grease. Ia tidak lama di situ. Rock membuatnya jatuh cinta. Perasaan yang jauh dari akal sehat, barangkali. Mengapa?

Di masa itu, rock belum lagi menjadi lahan buat cari makan. Orang berlalu-lalang di panggung rock semata untuk hobi. Selebihnya, gagah-gagahan. Jangan harap mereka mendapat bagian keuntungan dari penjualan tiket atau kemurahan hati sponsor. Pulang ke rumah dengan diberi ongkos oleh panitia pementasan pun masih untung. Sudah menjadi rahasia umum, sekiranya ada para pemusik rock yang punya nafas panjang, itu pasti ada tangan-tangan di luar panggung yang membeking finansial mereka. Taruhlah perusahaan rokok Bentoel yang menyangga kelompok Bentoel di Malang atau pengusaha Agus Susanto yang memodali Dragon di Semarang. God Bless saja, yang pada zamannya dianggap supergrup, tak lepas dari karitas pengusaha Akuang.

Semakin terasa tak masuk akal sebab sejak tahun 1960-an pusat gravitasi rock berada di Jakarta. Gravitasi baru bergeser ke Bandung setelah medio 1970-an ketika Aktuil sedang jaya-jayanya. Majalah ini acap memelopori pertunjukkan-pertunjukkan kelas stadion, katakanlah Pesta Kemarau ’75 yang terkenal itu. Pentas yang digalang oleh wartawan Maman Sagith dan kawan-kawan dengan dukungan markas militer setempat, ini amat besar pengaruhnya. Kelompok-kelompok musik rock tumbuh subur di ibukota Jawa Barat itu. Mereka antara lain Giant Step, Rhapsodia, Lizard, Rollies, dan Super Kid.

Tapi Log bukan manusia dengan karakter pengecut. Ia terus melangkah, mencoba menyulap belantara rock jadi ladang usaha. Ia bismilah dengan pentas kecil-kecilan, yang dia sebut pentas rock kampung, dengan modal apa adanya: sebuah honda bebek, sebuah mesin tik, sebuah keinginan, sejuta semangat pantang mundur. “Bisnis ini nggak melulu bicara soal uang. Bisnis ini membutuhkan idealisme,” ucap Log.

Persahabatannya dengan kalangan radio, yang dia rintis sejak malang-melintang di pesta-pesta disko, membantunya untuk melangkah lebih panjang, sampai akhirnya Log mampu membuat pentas besar. Bak meteor, namanya tiba-tiba melintas di angkasa musik rock. Ia memang tidak berhasil menyulap Surabaya sebagai pusat gravitasi musik rock, tapi Log menjadikan kota Malang sebagai kawah candradimuka buat mereka yang merasa jadi musisi. Sedemikian penting peran kota Malang, sehingga para pemusik belum merasa jadi rocker sebelum pentas di Malang. Sejarah akhirnya memperlihatkan, hampir semua musisi rock yang masuk dapur rekaman adalah mereka yang sempat mendapat gonjlokan penonton Malang.

Kredibilitas Log bertambah. Media massa yang punya perhatian terhadap musik rock menaruh namanya di daftar teratas sebagai narasumber. Persahabatan dengan wartawan kian lama kian terjalin dalam hubungan simbiosa mutualisma. Log menyebut sejumlah wartawan, beberapa di antaranya sudah menjadi penggede di tempatnya bekerja, sebagai kawan-kawan baiknya yang banyak membantu perjalanan karirnya.

Mereka antara lain Bens Leo (pemimpin redaksi News Music), Theodore KS (redaktur Kompas), Dhimam Abror Djuraid (pemimpin redaksi Jawa Pos), Don Sabdono alias Bre Redana (redaktur Kompas), Solichin Hidayat (eks pemimpin redaksi Jawa Pos) dan Margiono (pemimpin redaksi Rakyat Merdeka). Belakangan, untuk mengkoordinir konferensi-konferensi pers, Log menggandeng Haris Sukandar, salah seorang redaktur di majalah Popular. Kini, Sukandar jadi pemimpin redaksi Showbiz Katalog, majalah musik milik Log Zhelebour.

Konfensi pers menjadi salah satu senjata ampuh buat Log. Tidak asal gelar, ia punya naluri sebagai seorang public relationser. Konferensi-konferensi pers umumnya lebih banyak digelar di daerah di mana musisinya hendak tampil. “Saya banyak main di pers daerah,” katanya. Berbeda ketika hendak merilis album baru, Log pasti memilih konferensi pers di ibukota. Pikirnya, media-media massa di Jakarta kebanyakan melayani pembaca dalam jangkauan nasional. Ia butuh spektrum seluas-luasnya karena wilayah edar kaset-kasetnya hampir menyentuh seluruh pelosok tanah air.

Sukses Log juga ditopang oleh manajemen dengan akar tunjang keluarga (family firm). Tim Hindle, bekas redaktur manajemen The Economist, melihat tipe manajemen semacam itu bukan sesuatu yang buruk bagi kelangsungan suatu bisnis. Ia bahkan tak ragu-ragu menyebutkan bahwa kekayaan industri di semua negara maju, justru berasal dari tipe manajemen family firm. Siemens, Fiat, Barclays atau perusahaan anggur Cognac yang berdiri sejak abad ke-18, adalah beberapa contoh yang relevan. Titik kuat perusahaan keluarga ditentukan oleh kebanggaan, harga diri, kesetiaan, rasa saling memiliki.

Bens Leo, yang mengenal Log sejak 1985, tak menyangsikan kalau Log menganut tipe manajemen macam itu. Ia punya pengalaman yang hingga kini masih membekas di benaknya. “Pernah suatu ketika yang bayarin tiket kereta api buat saya malah ibunya,” ujarnya. Saat itu ia berangkat dari Jakarta hendak menghadiri acara yang digelar Log di Solo.

Dalam kasus Jamrud, Log mengerahkan hampir seluruh anggota keluarga yang dinilai punya potensi. Lie Hwa, misalnya, ditunjuk Log sebagai manajer pemasaran seluruh album Jamrud. Sedangkan komandan lapangan yang menentukan hitam-birunya promo tur Jamrud, dipegang Jingga Ongkowijaya. Baik Lie maupun Jingga adalah kakak-kakak Log. “Saya juga kadang-kadang meng-handle keperluan Jamrud kalau suami saya sibuk,” ucap Novie Antasari, istri Log.

Antasari pun acap menerima telepon untuk suaminya dengan keramahan seorang sekretaris profesional.

Log dan Antasari boyongan dari Surabaya sejak 1998. Kini mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Muara Karang, Jakarta Utara. Sekalipun Log punya banyak kantor, sebagian bisnisnya justru dikendalikan dari rumah itu. Bukan tidak mungkin, rumah pribadi yang sedang dibangunnya, masih di kawasan yang sama—yang sudah menelan anggaran senilai Rp 3 milyar—juga akan dijadikan salah satu basis bisnisnya. Dan Antasari tetap jadi ‘sekretaris’ yang paling dipercayainya, sekaligus konsultan gratisan untuk mencicipi lagu-lagu baru yang hendak direkam Logiss Recors.

“Kadang-kadang saya disuruh menilai lagu,” ungkap Antasari. Asal tahu saja, perempuan berusia 27 tahun itu mulanya sama sekali tak menyukai rock. Jamrud rupanya telah mengubah selera musiknya.

SURABAYA, paruh Agustus 2001. Kembang api berpendaran di atas panggung mewah berbentuk kubah seluas sekitar 20 x 10 meter persegi. Sinar laser menerobos masuk, menembus kegelapan panggung, seolah hendak membuka jalan bagi lighting. Panggung benar-benar menyala kini. Sound systems berkekuatan 100 ribu watt mengguncang stadion yang berkapasitas 50 ribu penonton itu. Lebih 20 penari latar keluar dari sarangnya. Sejurus kemudian, Fuck Off.

Mungkin sudah seratus kali kuberi tahu
Untuk berhenti tinggalkan saja  
Serbuk sialan yang terus berenang Di darahmu  
Fuck off...silakan pergi, Fuck off...urus sendiri, Fuck off...itu duniamu

Lagu Fuck Off tidak untuk menceramahi penonton. Ia didedikasikan buat Sandy Handoko, drummer Jamrud yang meninggal karena obat bius. Ini bukan lagu slow, tapi penuh hentakan khas irama cepat trash yang sarat distorsi gitar dan debuk-debam drum yang bertenaga. Pada interlude, lagu melambat dan gitar Azis M. Siagian masuk membuat jeritan seakan hendak mengatakan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar berduka.

Sejak Ningrat dirilis, Fuck Off dipilih sebagai lagu pembuka di setiap konser mereka, dan diakhiri Terima Kasih menyusul letusan mercon serta pemasangan headset di kepala Siagian.

Tapi aksi di Gelanggang Olahraga 10 November, Tambaksari—yang juga disiarkan RCTI pada Minggu, 9 September, pukul 22.00-23.00 WIB—itu bukan semata rutinitas konser mereka. Juga bukan semata untuk ikut menyemarakkan puncak acara Festival Rock IX, yang digelar saban tahun guna mencari talenta-talenta baru. Penampilan Jamrud malam itu sepertinya lebih sebagai medium komunikasi Log Zhelebour untuk mengatakan kebanggaan dan emosinya.

Ia bangga telah menaikkan peringkat Jamrud secara dramatis dari rocker kampung menjadi supergrup Melayu, dengan segala potensi yang dimilikinya: kreativitas bermusik yang terus mengalir, kekompakan personil yang tetap terjaga dan kemampuan memadukan bisnis kaset dan panggung dalam satu helaan nafas panjang. “Mereka punya insting, taste, wawasan,” ujar Log bersemangat, “aku banyak bertaruh untuk mereka. Hidup dan mati mereka di tanganku.”

Sebagai supergrup, dalam tiga tahun terakhir ini, Jamrud membuktikan ketangguhan staminanya. Hampir sepanjang tahun, mereka tak pernah berhenti mentas di berbagai kota dengan bayaran rata-rata Rp 30 juta per sekali manggung, yang 20 persen di antaranya masuk kocek Log. Hari ini mereka meluncur dengan pesawat terbang, esok-lusa melaju dengan bis pariwisata yang disetel jadi kendaraan karavan, lengkap dengan ranjang buat tidur-tiduran. Sekurang-kurangnya tiga truk dikerahkan Log untuk mengangkut peralatan konser mereka.

Intensitas konser makin meninggi dalam setahun terakhir ini. Kelelahan sering tampak di wajah-wajah mereka. Namun, sambutan mereka terhadap fans yang biasa menyemut di hotel-hotel di mana Jamrud transit, tak pernah terlewatkan. Awak Jamrud tetap memperlihatkan wajah sumringah-nya seraya melayani sejumlah pertanyaan dan permintaan tanda-tangan.

“Mereka bertingkah positif di depan penggemarnya,” komentar Bens Leo, wartawan senior, yang mencurahkan perhatiannya pada dunia musik sejak pertama kali berkarir sebagai reporter di Aktuil, majalah musik terdepan di tahun 1970-an. “Di Medan, Krisyanto bahkan menyempatkan diri dengan seorang pengamen cilik yang berkeliaran pada jam sekolah. Setelah tahu bahwa dia ngamen buat membiayai sekolah, Yanto langsung merogoh sakunya mengeluarkan uang Rp 50 ribu. Tak banyak rocker bersikap seperti itu.”

Bagaimana Jamrud bisa punya waktu untuk konsisten menciptakan lagu buat album-albumnya sehingga bisa rekaman setahun sekali? “Kan bulan puasa mereka libur show. Suami saya biasanya sibuk bikin lagu,” ujar Dian Fridianie, istri Azis M. Siagian. “Kadang-kadang dalam semalam dia bisa bikin satu lagu. Saya sering aneh, malamnya saya melihat kertas yang acak-acakan dan penuh coretan, eh paginya sudah rapi.”

Sejak dua tahun ini, Siagian tidak lagi bekerja secara manual. Untuk mempertinggi presisi irama, ia menggunakan satu unit komputer yang dipasangi Cake Walk, perangkat lunak untuk mengkompilasi audio sekaligus mengkonversikannya pada format dokumen MP3, tak ubahnya software MTV-Generator atau E-Jay MP3Station. “Kapasitas otak kan terbatas. Padahal, kita musti mikirin macam-macam. Urusan show-lah, rekamanlah, pribadilah. Aku keteter kalau nggak pakai komputer itu.”


BEEP. Pesan pendek sampai pesawat telepon saya. Terbaca: “Di Htl Arkadia JL Wahid Hasim..jam 6 an..” Pesan ini dikirimkan telepon milik Dian, istri Azis M. Siagian, motor Jamrud.

Pukul 15.00, saya mencoba menghubungi Siagian. Di seberang telepon, Siagian menyatakan akan memenuhi janjinya untuk bertemu di hotel seperti disebut dalam SMS tadi. Dari pembicaraan, saya tahu, ia sedang ngemong keluarganya dengan pelesiran di Jakarta. Pelesir yang terbatas waktunya karena pukul 20.00 Siagian dan kelompoknya harus sudah berada di Silang Monas, Jakarta, untuk beraksi di depan penggemarnya. “Saya masih di Pondok Kopi nih. Oke...oke kita ketemu jam enam nanti,” ujarnya, hangat. Jam enam yang dimaksud adalah pukul 18.00 WIB.

Sebulan terakhir ini Siagian bersama kelompoknya mengelilingi 17 kota di Pulau Jawa dan Bali dalam rangkaian promo tur Oktober 2001. Terakhir, saya mengontak Siagian ketika sedang berada di Ngawi. Saat itu, ia sedang bersiap-siap menuju Lumajang.

Waktu terus bergulir. Tepat 30 menit menjelang pukul 18.00, kembali saya menghubungi telepon Siagian. Kali ini, ia ragu-ragu bisa menepati janjinya. Tampaknya ia sedang kesulitan menaklukan kemacetan lalu lintas ibukota. Suaranya terdengar gamang bercampur dengan deru kendaraan, sesekali klakson. “Bang, kayaknya kita ketemu jam tujuh,” ungkapnya.

“Saya sudah merapat ke dekat hotel Anda?” balas saya.

“Ini saya masih di Pondok Kopi. Atau bagaimana kalau kita ketemu jam 11 nanti, setelah konser? ”

“Oke. Saya akan hubungi kalau gitu.”

“Saya saja deh yang hubungi.”

Pukul 22.36, bunyi beep kembali terdengar dari telepon saya. Pesan singkat dari Siagian tertulis: “Mas, Aku udah balik, ada di 4716....” Ia ingin saya menghubunginya di nomor tersebut. Namun, belum lagi mengangkat pesawat telepon, Siagian sudah mendahului.

“Aku kirim SMS barusan,” katanya.

“Ya. Ini saya mau telepon.”

Kami pun berbicara panjang lebar diselingi senda-gurau. Kobaran niat untuk menemui Siagian terpaksa harus saya padamkan. Saya tak ingin merampok waktu anak dan istrinya, yang cuma punya kesempatan separuh malam itu untuk kangenan. Azis M. Siagian dan kawan-kawannya akan segera bertolak ke Bali, esoknya. Akhirnya, saya tahu masalah kecil lainnya setelah mereka sukses besar: mereka bukan lagi semata milik keluarga.
*****
 

6/18/2022

TERNYATA, DULU GUS NUR BERTAPA DI GUNUNG KAWI DEMI MENDAPAT KESAKTIAN

 

Gus Nur mengaku pernah bertapa di gunung kawi untuk mendapat kesaktian. Pria bernama asli Sugik Nur Raharja ini menghabiskan 40 hari melakukan "Tirakat" di kaki gunung kawi untuk menyempurnakan ilmu kebalnya supaya bisa dipakai mencari nafkah.

Gus Nur tidak makan, tidak minum, tidak sholat, tidak ngaji, tidak mandi dan tidak berhubungan seksual. Itulah yang dilakukan Gus Nur selama berada disana selama sebulan lebih sepuluh hari.
 
"Saya bertapa di gunung kawi 40 hari ndak makan/minum hingga kumpul bojo ndak sempet" ujar Gus Nur dalam suatu wawancara.
 
"Demi kesaktian saya ndak melakukan hal itu, pengorbanan saya dirasa sudah lebih dari cukup" lanjut Gus Nur.
 
"Saya sampai turun berat badan, semula saya itu bobotnya 80 kilo' begitu selesai tirakat turun jadi 40 kilo" jelas Gus Nur lagi.
 
Memang, untuk menjadi orang sakti ia harus banyak berjuang melakukan tirakat. Bertapa adalah bagian dari tirakat, mendekatkan diri pada Tuhan YME. Gus Nur sendiri mengaku dengan jujur ia tidak pernah sholat selama menjalani tirakat di Gunung Kawi sebab ia jarang mandi.
 
"Bagaimana saya bisa sholat, kalau badan saya kotor penuh najis' sedangkan untuk ngelakoni sholat itu harus disucikan dulu badannya, jadi bener-bener ndak sempet mandi cuma buat sholat saja" kata Gus Nur sambil bernostalgia.
 
Untungnya berakhir sempurna, selama 40 hari melakukan tirakat dengan bertapa' Gus Nur memperoleh ilmu baru yang membuatnya lebih sakti dari sebelumnya.
 
Gus Nur bilang dia sempat kehujanan tapi tidak merasakan masuk angin. Gus Nur mengira ia sudah memperoleh kesaktian yang ia harapkan selama ini.
 
"Waktu menjalani tirakat sempat kehujanan, tapi ndak meriang atau masuk angin' saya kan khusnuzon bahwa saya sudah sakti karena kebal penyakit" ujar Gus Nur sambil tersenyum.
 
"Ciri-ciri orang sakti itu ndak pernah sakit, termasuk sakit demam/masuk angin dan sebagainya" lanjut Gus Nur.
 
Pada hari ke 41 ia pulang dari Gunung Kawi, begitu pulang dari sana segera mandi dan melakukan sholat. Seusai sholat, Gus Nur menemui keluarganya di rumah dan membeberkan hasil kerjanya selama melakukan tirakat di Gunung Kawi.
 
"Habis tirakat saya pulang, tapi saya mandi dulu dong... Kan gak enak toh baunya dicium' sebulan lebih nggak mandi, mau ketemu istri takut dibilang bujit" kata Gus Nur sambil berkelakar.
 
Selama bertapa di Gunung Kawi, Gus Nur berhasil mendapat ilmu baru yang membuatnya lebih sakti dan kebal senjata. Ilmu baru itu berupa aji-ajian yang membuatnya tidak bisa mati' kalau tidak salah Gus Nur memperoleh kekuatan untuk menguasai Aji Pancasona.
 
"Saya dapat Aji Pancasona sehabis tirakat, setelah dapat jurus itu saya konsultasi ke teman-teman sesama jawara debus' mereka bilang Aji Pancasona itu bisa bikin orang terhindar dari maut" ujar Gus Nur dengan nada serius.
 
"Temen-temen bilang saya itu orang paling beruntung, bisa memperoleh Aji Pancasona yang bikin pemakainya tidak bisa mati asal kalau mati jatuhnya di atas tanah" kata Gus Nur.
 
Okelah, Gus Nur menjelaskan dengan singkat kenapa dia bisa menjadi sakti dan kuat seperti apa yang selama ini kita tahu.
 
Bagaimana pun juga Gus Nur tetaplah bukan seorang ulama, dia cuma cari makan lewat dakwah dan praktik sulap. Lagi pula, dia itu hanya seorang wong cilik ongklak angklik yang berhati licik.

5/28/2022

Mengenang Fitrah Alamsyah dan Sandy Handoko

JAMRUD

Agustus 1999 menjadi momen paling memilukan dan menggemparkan dalam industri musik di tanah air, personil grup musik Jamrud asal Cimahi, Jawa Barat' Fitrah Alamsyah meninggal dunia setelah ditemukan tidak bernyawa di dalam kamar.

Disusul Oktober 2000, Sandy Handoko' pemain drum Jamrud juga menyusul ke hadirat Illahi setelah menjalani masa rehabilitasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Fitrah Alamsyah adalah gitaris Jamrud yang sudah bergabung sejak tahun 1992, Sandy Handoko baru diajak bergabung pada tahun 1995 setelah menggantikan Denny Barnas yang pada waktu itu menjadi personil caretaker. 

Kiprah Fitrah dan Sandy bersama Jamrud dimulai saat mereka tampil bersama pada awal Januari 1995 dan berhasil menembus dapur rekaman setelah menandatangani kontrak master album dengan Logiss Record, label rekaman milik Log Zhelebour. 

Fitrah Alamsyah waktu itu berteman akrab dengan Azis Mangasi Siagian, mereka sama-sama bekerja sebagai guru les musik di bidang gitar. Menurut Azis, Fitrah itu sosok pekerja keras dan mau diajak berlama-lama di dalam studio untuk melakukan eksperimen guna menciptakan irama gitar yang mantap. 

Namun, belakangan Fitrah Alamsyah mulai tidak akrab dengan Azis Mangasi Siagian semenjak Sandy Handoko bergabung. Sejak saat itu Fitrah lebih akrab dengan Sandy gara-gara menggemari kebiasaan yang sama' yaitu tidur sekamar di basecamp Jamrud yang terletak di Kebonsari, Cimahi. 

Kebersamaan Fitrah dan Sandy ini akhirnya terbawa hingga naik ke atas panggung, ibaratnya mereka berdua ditakdirkan sebagai "Kakak-Adik" di dalam satu profesi yaitu sebagai seniman musik. Jamrud masuk industri rekaman dengan menelurkan album "Nekad" yang dirilis pada bulan Desember 1995. 

Album "Nekad" sukses di pasaran dengan angka penjualan 500.000 copy dan dicatat dalam chart MTV Asia sebagai salah satu debutan paling potensial di dunia musik. Jamrud yang diperkuat Krisyanto, Azis Mangasi Siagian, Ricky Teddy, Fitrah Alamsyah dan Sandy Handoko berhasil mencuri perhatian anak muda dengan musiknya yang inovatif, baru dan tidak membosankan.

Lagu yang diusung menceritakan tentang kehidupan anak remaja di era 90an, bahkan lirik-lirik lagunya cenderung menabrak tatanan dalam bersyair karena mengandung kata-kata bernuansa gaul. Kesuksesan di album "Nekad" lantas diteruskan ke album barunya yang berjudul "Putri".

Album ini dirilis pada bulan Februari 1997 ini juga mengusung tema lirik yang sama seperti pendahulunya, cuma kali ini musiknya lebih keras dan distorsinya lebih berat. Perlu diketahui bahwa album yang bertema rock alternatif ini mencapai angka penjualan 800.000 copy dan mengukuhkan Jamrud sebagai grup musik yang paling ditunggu-tunggu konsernya. 

Tibalah saatnya Jamrud melakukan tour ke seluruh Indonesia, waktu itu Jamrud memutuskan untuk konser keliling Sumatra. Kota yang dikunjungi Jamrud sebagai lokasi tour adalah Palembang, Sumatra Selatan. Di Kota Pempek inilah awal dari sebuah kehancuran dimulai, Fitrah Alamsyah dan Sandy Handoko membeli sebuah barang haram berbentuk putaw dari seorang bandar yang mengaku-ngaku sebagai wartawan media massa. 

Awalnya, Fitrah Alamsyah dan Sandy Handoko cuma diajak interview sebelum konser. Interview itu terjadi saat para personil Jamrud yang lain sedang berada diluar jangkauan. Celakanya, Fitrah dan Sandy akhirnya jadi sasaran interview abal-abal yang dilakukan seorang bandar narkoba yang mengaku wartawan itu.

Mereka ditawari "Obat Kuat Begadang" dan "Obat Pemulih Stamina", bukan Ginseng atau Pasak Bumi melainkan narkoba berbentuk serbuk alias putaw. Fitrah dan Sandy terbujuk rayuan sang bandar sehingga mereka membelinya secara diam-diam dan tidak lama setelah itu mereka jadi kecanduan walau tidak ketahuan secara fisik. 

Tapi, yang namanya rahasia pasti akan terbongkar juga pada waktunya' Fitrah dan Sandy mulai kehilangan kontrol atas emosi dan akal mereka sendiri. Fitrah lebih sering nyerocos dan Sandy lebih suka menyendiri, itulah akibat dari pemakaian barang haram itu semenjak konser di Palembang. 

Bahkan proses penggarapan album "Terima Kasih" yang akan dirilis tahun 1998 berjalan tidak lancar karena Fitrah dan Sandy sulit dihubungi melalui telepon. 
Sampai-sampai Azis Mangasi Siagian datang ke rumah mereka masing-masing' namun pihak keluarga tidak mengetahui keberadaan mereka berdua.

Yang mereka ketahui adalah mereka cuma bilang "Pamit Kerja" dan tidak ada penjelasan lain selain itu. Lama-lama Azis mulai curiga dan merencanakan interogasi khusus terhadap kedua-duanya. 

Setelah di interogasi, Fitrah pun mengaku ia pakai narkoba untuk memulihkan stamina. Azis awalnya masih memaafkan perbuatan rekan se grup nya itu, tapi lama-lama tidak betah juga dengan ulah dan tingkahnya. 

Saat konser pun pernah Fitrah dibopong ke atas panggung gara-gara sakau, tapi dia masih memainkan alat musik gitar dengan baik hingga akhir pertunjukan. Fitrah Alamsyah akhirnya disuruh ikut rehab, tapi ternyata tidak kunjung dilaksanakan karena masih sibuk menikmati putaw di tempat-tempat sepi. 

Pernah kejadian, Fitrah dan Sandy bertengkar di kamar mandi saat syuting video clip "Terima Kasih" karena berebut putaw, namun pertengkaran itu dilerai oleh sutradara video clip, Jose Purnomo.

Video Clip berikutnya, "Otak Kotor" menjadi penampilan terakhir Fitrah Alamsyah di layar kaca sebelum akhirnya menghilang tanpa kabar. Hingga pada akhirnya Fitrah Alamsyah meregang nyawa di sebuah kamar kosong nan sepi pada bulan Agustus 1999. Fitrah Alamsyah tewas overdosis dengan mulut berbusa. Padahal konser tour album "Terima Kasih" sedang berlangsung dan tinggal menyisakan beberapa kota yang akan digelar. 

Dan pada waktu itu video clip "Dokter Suster" yang hendak digarap hanya menampilkan empat personil minus Fitrah Alamsyah. Meski dalam suasana duka, Jamrud tetap konser secara off air dan on air di televisi. 

Terlebih ketika Jamrud pentas di Indosiar, terlihat pemandangan yang janggal dimana tidak ada sosok Fitrah Alamsyah yang biasa mengiring suara gitar mendampingi Azis Mangasi Siagian. Hanya menyisakan Sandy Handoko yang berwajah pucat pasi karena habis memakai putaw. 

Sandy Handoko yang masih terpengaruh narkoba pun saat ini mencoba bertahan agar tidak dipecat lantaran memakai narkoba. Sandy Handoko disarankan untuk rehabilitasi secara ketat di Pondok Pesantren agar cepat sembuh dari pengaruh narkoba. Lantas Log Zhelebour memutuskan untuk mengskorsing Sandy seusai rekaman lagu "Surti Tedjo" yang masuk daftar lagu untuk album "Ningrat". 

Sandy Handoko menjalani rehabilitasi secara ketat dan jauh dari sanak saudara, akhirnya Sandy dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah. Namun, tidak lama kemudian Sandy Handoko masuk rumah sakit karena penyakit hepatitis nya kambuh. Kondisi fisiknya drop setelah menjalani masa rehabilitasi, dikarenakan pengaruh putaw sudah memicu kambuhnya penyakit hepatitis yang sudah lama di-idapnya. 

Sandy Handoko sempat kritis dan ditolong dengan alat pacu jantung, namun nyawa sang penggebuk drum itu tidak tertolong. Sandy Handoko meninggal dunia di rumah sakit dan meninggalkan seorang istri beserta anak perempuannya. 

Sandy Handoko dimakamkan di TPU yang berada di kawasan Perumahan Sarijadi, tempat tinggal keluarganya. Fitrah Alamsyah dan Sandy Handoko berada di alam yang sama sekarang, yakni alam kubur. Mereka tahu apa yang mereka rasakan saat ini karena mereka harus menanggung segala akibat dari perbuatannya. 

Fitrah Alamsyah dan Sandy Handoko sudah dikontrak untuk mati sebagai pecandu narkoba. Dunia hiburan saat itu berduka, Jamrud kehilangan dua personil andalannya yang selama ini membantu kesuksesan di sepanjang karir. 

Album "Ningrat" dirilis pada bulan November 2000 sebagai bentuk pernghormatan terhadap Fitrah dan Sandy yang telah menghadap kepada Tuha YME. 

*****

2/16/2022

Kisah Rahasia Dibalik Kacamata Ian Kasela (Ekslusif)

 

Radja merilis album berjudul "Manusia Biasa" pada tahun 2003 silam


19 Tahun yang lalu empat sekawan ini menamai diri mereka sebagai grup musik bernama Radja' grup musik ini dianggotai oleh Iandika Mulya Ramadhan (Vocal), Mulyadiansyah Kusnadi (Guitar), Seno Aji Wibowo (Drums) dan Muhammad Indra Riwayat (Bass Guitar). 

Keempat pria muda ini adalah sekelompok musisi yang memainkan peran masing-masing dalam suatu pentas dalam satu aliran yang sama yaitu Rock Alternative. Radja sendiri didirikan pada tahun 2001, tepatnya tanggal 17 Maret. Album perdana mereka yang berjudul "Lepas Masa Lalu" dirilis beberapa bulan setelah grup musik ini berdiri. 

Masalah muncul saat personil terdahulunya, Shuma (Bass Guitar) dan Adit (Drums) keluar pada awal tahun 2002 karena gagalnya album pertama mereka. Setahun vakum dari dunia bermusik dan memilih bekerja serabutan sebagai penjaga studio musik rental, Radja, begitulah nama grup musik ini kembali merilis album setelah bergabungnya Seno Aji Wibowo dan Muhammad Indra Riwayat.

November 2003, pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri' Radja merilis album keduanya yang berjudul "Manusia Biasa" dengan hits single-nya yaitu "Cinderella". Meski terbilang sukses secara instan karena lagu tersebut masuk chart radio' Radja belum dibilang sukses besar karena album ini diproduksi dan diedarkan oleh Malta Music Indonesia. 

Malta Music Indonesia sendiri adalah perusahaan rekaman yang terbilang sekelas indie label, karena distribusinya hanya mencakup pulau Jawa-Bali saja. Otomatis album ini dianggap kurang sukses meskipun lagunya viral. Lagu yang viral pada masa itu adalah "Jujur" yang menjadi hits single kedua seusai performa apiknya di MTV lewat video clip "Cinderella".

Bulan Juli 2004, Radja putus kontrak dengan Malta Music Indonesia karena keburu di-incar oleh perusahaan rekaman raksasa asal Inggris, EMI Music. Lewat EMI Music inilah Radja berkibar sebagai salah satu grup musik yang digandrungi anak kecil, anak muda dan orang tua. 
 
Hits single "Cinderella" dan "Jujur" menjadi tonggak awal ketenaran bagi Radja, terkhusus bagi Iandhika Mulya Ramadhan alias Ian Kasela dan Mulyadiansyah Kusnadi alias Moldy. Di mata penggemar musik tanah air, Ian Kasela dan Moldy adalah duo yang kuat pengaruhnya bahkan dominan dalam penciptaan syair lagu. 
 
Ian Kasela dikenal publik sebagai sosok kharismatik karena berkacamata hitam, sedangkan Moldy dikenal banyak orang sebagai seorang gitaris kidal yang tentunya amat jarang ditemukan di era modern musik tanah air. Ian Kasela memakai kacamata hitam dianggap sebagai trendsetter karena merek kacamata terkenal "Oakley" mengendorse dirinya dengan nilai kontrak ratusan juta rupiah. 
 
Namun dibalik kacamata hitamnya yang keren, ternyata Ian Kasela memiliki rahasia yang selama ini ia pendam selama puluhan tahun terkait kondisi indra penglihatannya. Ian Kasela mengaku sejak kelas 5 Sekolah Dasar dirinya mengidap rabun jauh atau Myopia. Karena merasa malu dengan kondisi matanya yang tidak sempurna penglihatannya, Ian Kasela memutuskan untuk berkacamata hitam sebagai kamuflase agar rahasianya tidak terbongkar. 
 
Banyak orang menduga, Ian Kasela mengidolakan Bono U2, vokalis grup musik U2 yang juga identik dengan kacamata hitamnya yang khas. Bahkan ada pula yang bilang bahwa Ian Kasela itu adalah penggemar berat Atiek CB yang juga memiliki signature style sama dengan Bono U2 (Berkacamata Hitam). 
 
Namun, hal itu dibantah dengan jenaka oleh pria kelahiran Banjarmasin tahun 1976 ini, dirinya justru tidak mengidolakan Atiek CB maupun Bono U2, melainkan Tubagus Armand Maulana yang merupakan vokalis grup musik asal Bandung, GIGI. Ian Kasela adalah penggemar berat Armand Maulana sejak masih muda dulu. Makanya grup musik Radja adalah cover band dari GIGI itu sendiri. 
 
Pada awal berdirinya Radja, grup musik ini lebih sering memainkan lagu-lagunya GIGI sebelum akhirnya menciptakan lagu-lagu karangan sendiri. Boleh dibilang, Ian Kasela itu adalah Armand Maulana KW' tetapi yang membuat Ian Kasela berbeda dengan Armand Maulana adalah karakter vokalnya yang lebih serak. 

Ian Kasela dikenal memiliki suara yang serak, berbeda dengan Armand Maulana yang memiliki suara flamboyan nan elegan. Ian Kasela memang kerap bergaya seperti Arman Maulana di awal-awal karirnya sebagai vokalis Radja. Tapi, sebelum jadi vokalis' Ian Kasela sempat bergabung dengan grup musik Flash yang juga merilis album pada tahun 1996-1997. 

Di grup musik beraliran Heavy Metal ini, Ian Kasela berposisi sebagai pemain bass guitar bersama Moldy yang berposisi sebagi gitaris. Memang, Ian Kasela dan Moldy bukan sosok baru di jagat musik indonesia melainkan sudah termasuk sesepuh karena pernah berkarir di grup musik lain sebelum mendirikan Radja.

Album yang dirilis Ian Kasela dan Moldy sebagai personil Flash yaitu "Sambutlah Kasih" pada tahun 1995 dan "Kau Tlah Pergi" pada tahun 1997. Pasca bergabung dengan Flash, Ian Kasela dan Moldy hengkang dari Flash lalu bersolo karir dengan merilis 3 album. Album solo yang dirilis Ian Kasela yaitu "Tak Mau Sendiri" pada tahun 1997, "Ta'kan" pada tahun 1998 dan "Senandung Negeri Serumpun" pada tahun 1999. 

Total semua album yang dirilis gagal dipasaran bahkan menurut pengamat, Ian Kasela muncul di saat industri musik nasional terguncang akibat krisis moneter yang melanda Asia. 
Selebihnya saat ini Ian Kasela dan Moldy telah sukses sebagai musisi walau pun saat ini dunia musik telah bertransformasi dari musik analog ke musik digital.

*****